Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Sejarah Masjid Menara Kudus, Masjid yang Melambangkan Akulturasi Budaya

Kholid Hazmi • Kamis, 2 November 2023 | 17:30 WIB
Masjid Menara Kudus
Masjid Menara Kudus

KUDUS - Masjid Menara Kudus merupakan satu di antara bangunan masjid tua yang ada di Indonesia.

Lokasi masjid ini berada di Desa Kauman, tepatnya yaitu di Jalan Menara, Kecamatan Kota Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah.

Masjid Al-Aqsa Menarat Kudus adalah nama resmi dari Masjid Menara Kudus tersebut.

Menara masjid ini melambangkan akulturasi budaya.

Hingga saat ini, Masjid Menara Kudus masih aktif digunakan untuk umat Islam beribadah.

Tak hanya itu, masjid ini juga dibuka untuk para peziarah yang ingin berziarah ke makam Sunan Kudus.

Masjid ini juga sering menjadi pusat keramaian ketika menjelang Festival Dandangan yang diadakan warga Kudus dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan.

Sejarah Berdirinya

Awal berdirinya Masjid Menara Kudus tak terlepas dari peranan Sunan Kudus yang merupakan penggagas dan pendiri dari masjid Menara Kudus.

Sunan Kudus menggunakan pendekatan kultural dalam menjalankan dakwahnya.

Ia melakukan adaptasi serta melakukan pribumisasi ajaran Agama Islam di tengah masyarakat yang mempunyai budaya mapan dalam pengaruh agama Buddha dan juga Agama Hindu.

Akulturasi budaya Budha dan Hindu dalam dakwah Agama Islam yang dilakukan oleh Sunan Kudus terlihat jelas yaitu pada arsitektur serta konsep dari bangunan Masjid Menara Kudus tersebut.

Masjid ini pertama kali didirikan pada tahun 956 Hijriah atau 1549 Masehi.

Sementara peletakan batu pertama adalah menggunakan batu dari Baitul Maqdis di Palestina.

Maka dari itulah masjid ini kemudian dinamakan dengan nama Masjid Al Aqsha.

Arsitektur Bangunan

Pintu pada Masjid Menara Kudus ini ada lima. Masing-masing di sebelah kanan, dan juga lima pintu sebelah kiri. Total jendelanya ada 4 buah.

Sedangkan pintu besarnya terdiri dari 5 buah, dan tiang besar yang ada di dalam masjid ada 8 buah. Tiang tersebut berasal dari kayu jati.

Namun masjid ini apabila dilihat secara langsung akan terlihat lebih besar daripada zaman dahulu. Karena pada tahun 1918-an telah dilakukan renovasi.

Di dalamnya ada kolam masjid. kolam tersebut adalah padasan yang mana itu merupakan peninggalan kuno dan dijadikan sebagai tempat wudhu.

Di dalam masjid tersebut juga terdapat dua buah bendera. 

Dibagian depan masjid tersebut ada gapura paduraksa, yang sering juga disebut oleh penduduk di sana sebagai "Lawang Kembar".

Terdapat pancuran di depan masjid yang digunakan untuk  wudhu dan itu berjumlah delapan buah.

Di atas pancuran tersebut diletakkan arca. Adanya delapan pancuran, konon mengadaptasi keyakinan yang ada di Buddha, yaitu berarti ‘Delapan Jalan Kebenaran’.

Masjid Menara Kudus tersebut mempunyai ketinggian mencapai 18 meter dengan bagian dasarnya yaitu berukuran 10 x 10 m.

Di sekeliling bangunannya tersebut memiliki hiasan berupa piring-piring bergambar yang mana semuanya berjumlah 32 buah.

Dua puluh di antaranya yaitu memiliki warna biru. Sementara itu, 12 buah yang lainnya yaitu memiliki warna merah dan putih berlukiskan kembang.

Di dalam menara juga terdapat tangga yang mana tangga tersebut terbuat dari kayu jati yang telah dibuat sejak zaman dahulu kala.

Bangunan dan juga hiasannya jelas sekali bahwa itu menunjukkan adanya unsur-unsur kesenian Hindu Jawa.

Hal ini dikarenakan bangunan Menara Kudus tersebut terdiri dari 3 bagian.

Yang pertama yaitu bagian kakinya. Kedua adalah bagian badan, dan yang ketiga adalah puncak bangunan.

Menara ini dihiasi pula dengan hiasan-hiasan yang menyerupai bukit kecil.

Tak hanya itu, bagian kaki serta badan menara tersebut dibangun dan diukir dengan tradisi Jawa-Hindu, begitu pula dengan motifnya.

Ciri lainnya dapat dilihat pada pemakaian material batu bata yang telah dipasang tanpa menggunakan perekat semen.

Terdapat ciri teknik konstruksi tradisional Jawa yang juga dapat anda lihat di bagian kepala menaranya yang bentuknya menyerupai bangunan berkonstruksi kayu jati yang memiliki 4 batang saka guru menopang 2 tumpuk atap tajug.

Di bagian puncak atap tajug tersebut terdapat semacam mustaka (kepala) yang jelas merujuk pada unsur arsitektur Jawa-Hindu.

Editor : Kholid Hazmi
#sejarah #masjid #Kudus #religi