Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Lebih Dekat Sosok Abdullah Hamid, Pelestari Manuskrip Kuno di Masjid Jami Lasem Rembang

Ali Mustofa • Selasa, 6 Juni 2023 | 02:59 WIB
Abdullah Hamid, Pelestari Manuskrip Kuno di Masjid Jami Lasem. (Istimewa for Radar Kudus)
Abdullah Hamid, Pelestari Manuskrip Kuno di Masjid Jami Lasem. (Istimewa for Radar Kudus)
Museum Masjid Jami Lasem menyimpan manuskrip kuno yang dikumpulkan kurang lebih selama 12 tahun. Koleksi dokumen berharga ini, sudah banyak diteliti. Agar tak punah, koleksi sudah mulai digitalisasi.

VACHRY RINALDY L, Rembang, Radar Kudus

SEJUMAH manuskrip-manuskrip kuno di Masjid Jami Lasem baru saja terdigitalisasi. Usianya ada yang sudah mencapai berabad-abad.

Beberapa waktu lalu, tim dari Universitas Diponegoro bersama Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah harus ngelembur untuk mendigitalisasi manuskrip. Lembaran-lembaran yang memiliki nilai historis itu sudah nampak tua. Warnanya coklat kekuningan.

Proses pelestarian manuskrip itu dimulai sekitar pertengahan Mei lalu. Total ada 14 manuskrip. Diantaranya ada mushaf, kitab tafsir, dan tasawuf.

Literatur tersebut merupakan milik Perpustakaan Masjid Jami Lasem. Paling tua, ada yang ditulis pada 1755 Masehi. Upaya nguri-nguri literatur kuno ini sudah dilakukan lebih dari 10 tahun. Awalnya, Abdullah Hamid  yang saat ini menjadi salah satu pengelola Museum Masjid Jami Lasem diberi amanah oleh takmir masjid untuk mengelola perpustakaan sekitar tahun 2011.

Dari situlah kemudian ia menekuni mengoleksi berbagai literatur. Mulai dari buku-buku umum sampai buku agama. Tentu saja, tak hanya sekadar mengumpulkan, namun Abdullah juga membacanya.

Sampai ia mengerti tentang cerita-cerita masyaikh Masjid Jami Lasem. Mulai dari situ Abdullah mulai tertarik dengan sejarah. Setahun kemudian, kenang Abdullah, beberapa keturunan kiai Lasem pun memberikan manuskrip kitab-kitab untuk dirawat di Masjid Jami Lasem.

”Selama setahunan tekun mengelola dan mempublikasikan kegiatan. Tahun 2012 ada beberapa keturunan kiai lasem menitipkan manuskrip kitab-kitab. Seperti Tafsir Jalalain, Kitab Fathul Muin. Tulisan tangan,” jelasnya.

Kitab-kitab tersebut ia rawat dengan teliti. Sesekali ia share, sampai media massa mendengar kemudian mempublikasikan. Setelah itu, berbagai perguruan tinggi pun tertarik meneliti. ”Bahkan ada lagi yang menyerahkan manuskrip,” ujarnya.

Abdullah mengaku, awalnya ia hanya memiliki kepedulian untuk nguri-nguri. Namun, ia merasa tak cukup dengan itu. Sehingga menurutnya perlu ada yang membinanya dalam tata kelola arsip. Dengan adanya perguruan tinggi meneliti, juga mengantarkan Abdullah untuk mendapatkan pelatihan pelestarian.

Meski demikian, Abdullah merasa kurang puas. Pria yang juga menjadi pengurus Masjid Jami Lasem itu menilai keberadaan manuskrip perlu dilakukan kajian. Sehingga, beberapa kalo diskusi tentang literatur kuno pun dilaksanakan melibatkan para stakeholder.

”Melestarikan literasi yang punya bukti otentik,” ungkapnya.

Dari koleksi yang ada, ia menerima Kitab Fathul Muin yang syarahnya ditulis Sayyid Abdullah bin Sayyid Imam, ulama dari desa Tuyuhan. Diperkirakan kitab tersebut sejak dari tahun 1755.”Ini masih kami pelajari. Ini masih kajian,” imbuhnya.

Awalnya Abdullah merawat manuskrip-manuskrip itu dengan menempatkan di lemari kaca, kemudian diberi kapur barus. Seiring dengan dikenalnya koleksi-koleksi tersebut, sekarang sudah ada pihak yang ikut peduli dengan memberi kotak khusus agar kelembapannya bisa terkontrol.

”Koleksi ada 15. Terdiri 13 manuskrip, dua cetakan lama lebih dari satu abad karya KH Soleh Darat. Itu asli termasuk langka,” ungkapnya. (*/ali) Editor : Ali Mustofa
#manuskrip kuno #abdullah hamid #Museum Masjid Jami Lasem #manuskrip kitab #literatur kuno