INDAH SUSANTI, Kudus, Radar Kudus
“Dulu saya nggak suka menggambar. Namun tiba-tiba waktu SMP, saya ditunjuk guru untu ikut lomba desain di SMK Banat, lha malah menang. Sejak saat itulah, saya bertekad menjadi desainer,” kata Efina Afifah siswa SMK NU Banat Kudus.
Tekad itu dia wujudkan dengan prestasi. Baru-baru ini, kini menjadi siswa berprestasi di sekolahnya, karyanya tampil diajang Hongkong Fashion Week. Dia berkesempatan fashion show kelas internasional. Ini adalah hadiah yang diberikan penyelanggara Modest Young Designer Competition (MYDC) 2023, karena dia berhasil meraih juara II.
Di sana, Efina paling muda dan berstatus satu-satunya pelajar. Untuk peserta lainnya merupakan para desainer-desainer yang sudah memiliki pengalaman dan mahasiswa. “Ini pengalaman kali pertama saya ikut ajang lomba bergengsi,” katanya.
Gadis yang mengenakan kerudung putih berenda ini dari kalangan keluarga sederhana. Ayahnya yang bekerja sebagai buruh bangunan, sedangkan ibunya buruh pabrik. Rumahnya berada dipinggir kota. Yakni Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan.
Efina bercerita sebenarnya tidak suka gambar dan memang tidak ada bakat menggambar. Kemudian, dari SMP menunjuknya ikut lomba desain di SMK NU Banat Kudus dan ternyata berhasil menjadi juara I.
“Saya terpacu untuk belajar lebih giat lagi mendalami gambar, membuat pola, menjahit dan sebagainya. Jadi, makin lama bisa mengikuti,” jelasnya.
Pada saat di Hongkong, hatinya berkecamuk. Rasanya nano-nano. Sedih, tidak percaya, sekaligus bahagia. Sebab dia tidak bisa Lebaran bersama orangtuanya. Namun dia bahagia karena berkesempatan mengikuti Hongkong Fashion Week.
Dia berangkat ke Hongkong pada 17 April hingga 23 April 2023. “Waktu tiba di Hongkong kebetulan hotel tempat saya menginap dekat dengan masjid. Berjalan kaki kurang lebih 10 menit. Kesulitannya itu makan, karena menu yang halal itu sulit didapat. Pada akhirnya, saya sahur dan buka kebanyakan de3ngan mie instan.Kadang beli ayam krispi,” imbuhnya.
Efina mengatakan, ajang MYDC diikuti 374 peserta se-Indonesia yang merupakan pelajar dan desainer. Dari 374 peserta, diambil 50 finalis dan dari SMK NU Banat mengirimkan dua siswa.
Setelah memasuki babak final yang lolos satu siswa dari SMK NU Banat Kudus Efina dan diberikan reward untuk mengikuti ajang Hongkong Fashion Week. Dia mengangkat tema fashion zero waste (memanfaatkan limbah pemotongan bahan sedikit) dan aplikasi baju rancangannya menggambarkan tentang kesederhanaan dan laut.
“Saya menggunakan kain tenun dan lurik sebagai bahan utama. Pada saat fashion show saya menampilkan enam look yang berbeda-beda. Kemudian, 20 desain busana yang dipamerkan di booth selama acara Hong Kong Fashion Week,” jelasnya.
Efina di Hongkong tidak sendiri. Dia ditemani guru pembimbingnya Ida Rusmayanti.
Menurut Ida, ini ajang yang luar biasa. Dan, 20 desain busana yang di pamerkan,. Dari pameran tersebut ada pesanan 30 pcs dan laku saat pameran ada 11 busana.
“Ya saya yang mendampingi juga harus merelakan tidak Lebaran bersama keluarga. Namun waktu di Hongkong saya mendapatkan pelajaran berharga dari kedisiplinan orang-orang Hongkong, mulai dari transportasi, hingga karakter cara bekerja,” jelasnya.
Ida bercerita memiliki pengalaman unik, rela mengepel toilet sendiri pada saat berwudu. Karena, aturannya toilet harus kering tidak genangan air di kamar mandi. Dan, hotelnya Ida dengan Efina berjauhan.
“Hotel saya tidak dekat masjid. Namun pada waktu salat Id saya menuju ke masjid yang dekat dengan hotelnya Efina naik kereta api. Itupun saya cari tahu ke Kedutaan Indonesia yang berada di Hongkong, mana saja yang menjalani salat Id,” tandasnya.
Efin yang saat ini duduk dibangku kelas XII berkeinginan memiliki brand sendiri dan galeri atau butik.
“Ya, ini langkah awal saya, dan saya harus melanjutkannya agar obsesi memiliki brand sendiri terwujud,” kata Efina. (*/mal) Editor : Ali Mustofa