Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Rohmat Hidayatullah, Penggagas Komunitas Lelana: Ajak Anak Zaman Now Telusuri Sejarah Kudus

Ali Mustofa • Rabu, 15 Februari 2023 | 17:13 WIB
Photo
Photo
Rohmat Hidayatullah menggagas Komunitas Lelana. Keinginannya mengangkat wisata walking tour heritage dengan menelusuri sejarah kota lama Kudus. Bisa belajar sambil rekreasi dengan dikemas have fun.

INDAH SUSANTI, Kudus, Radar Kudus

LAKI-laki berkacamata tersebut, saat mengajak peserta walking tour heritage di kota lama Kudus. Dia terlihat faseh menjelaskan sejarah suatu benda di rumah bergaya kolonial Belanda milik Alm. Firdaus yang berada di Desa Janggalan, Kecamatan Kota, Kudus, itu.

Dayat -sapaan akrabnya- menunjuk pilar besar yang berada di teras rumah itu. ”Ini (pilar besar di teras, Red) yang menandakan rumah bergaya kolonial dan pemiliknya merupakan saudagar. Rumah ini dibangun sekitar tahun 1900-an,” katanya saat menerangkan ke peserta walking tour.

Dayat dengan menggunakan clip on dan tas cangklong putih bertuliskan ”Lelana” juga memberikan penjelasan tentang kebaya yang bordirannya khas Belanda. Namun, untuk motif batik pada jaritnya khas peranakan Tionghoa.

”Di jarit itu ada tulisan Ny Tjoang Siang Gwan. Diperkirakan usia jarit tersebut sekitar 50 tahun. Sejarah ini saya kira belum banyak yang tahu, kalau peranakan Tionghoa bisa membatik dan produksi sendiri. Namun, setelah ditelisik lagi sudah tidak ada generasi penerusnya,” jelasnya.

Ia juga memperjelas lagi, tur yang digelar kali ini kolaborasi antara Komunitas Lelana dengan Cerita Kudus Tuwa yang baru pertama kali mengadakan jalan-jalan heritage.

”Kalau Lelana sudah empat kali. Saya rintis pada 2019. Walking tour pertama dulu menjelajah sejarah gang sempit di Desa Langgardalem dan pabrik-pabrik rokok. Juga singgah ke Masjid An-Nuur Puspitan yang ada peninggalan jam matahari,” jelasnya.

Baginya, mengulik kembali sejarah kota lama Kudus sambil jalan-jalan menjadi hal yang sangat mengasyikkan. Jalur jalan-jalan diutamakan yang bisa menjadi spot foto bagi peserta, sehingga mereka tidak merasakan bosan.

Dayat bercerita, sebenarnya bukan asli Kudus, tapi Solo. Istrinya lah orang Kudus asli. Dia sekarang tinggal di Desa Gribig, Gebog.

Pemikirannya membuat walking tour ini, berawal saat ia menjadi peserta kegiatan serupa di Solo. Menurutnya, konsepnya sangat menarik dan cocok diadosi di Kudus. Sebab, banyak sejarah dan tempat-tempat yang sebenarnya menarik jika dibuat rekreasi. Konsep walking tour tersebut, belum pernah ada yang mengangkat sebagai wisata dengan konsep keliling kota lama sambil jalan.

Setelah berdiskusi dengan istri, ia memberanikan diri menembus Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) untuk mencari refrensi serta data-data sejarah. ”Ya modal saya belajar sejarah Kudus. Bisa sampai detail dan banyak hal unik yang belum pernah diangkat, karena saya langsung mendatangi sumber sejarah. Misalnya pemilik pabrik rokok Haji Muslih dan kami menelusuri ahli warisnya. Kemudian, narasumber-narasumber yang tahu sejarah wilayah tersebut saya datangi dor to dor,” jelasnya.

Susah payah yang ia jalani saat mengorek-orek tentang sejarah yang lebih detail itu. Berkali-kali ditolak orang. Sebab, orang itu mengaku tidak tahu sejarahnya. Padahal tahu ceritanya. Ada juga yang welcome, seperti cerita tentang batik serta cerita tentang Desa Langgardalem, Kauman, dan lainnya.

Dayat membentuk Lelana dengan upaya menumbuhkan cerita seputar sejarah dan budaya. Utamanya, mengajak anak-anak muda lebih peka dengan sejarah Kudus. Ia menyebutnya ini wisata antimainstream.

Dia mengku, menggali sejarah itu tidak mudah. Harus melalui riset lapangan. Contohnya, saat menentukan rute walking tour rute di Desa Langgardalem. Membutuhkan waktu tiga bulan. Belum lagi beberapa rute lain, seperti Kampung Menara, Raja Kretek Nitisemito, cerita seputar Alun-alun di Kudus, Desa Janggalan, dan Kali Gelis.

”Kami kemas walking tour ini semenarik mungkin bagi anak zaman sekarang. Di antaranya dengan melewati spot-spot yang Instagramable. Lebih bagus lagi jika view-nya memang menarik, sejarahnya juga ada,” imbuhnya. (*/lin) Editor : Ali Mustofa
#sejarah kota lama Kudus #wisata walking tour heritage #sejarah kudus #disbudpar kudus #Kudus #komunitas lelana