Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Habiskan Tiga Ton Adonan Setiap Imlek

Ali Mustofa • Rabu, 18 Januari 2023 | 15:55 WIB
PRODUKSI: Proses produksi kue keranjang di Toko Ijo yang beralamat di Jalan Kusuma Bangsa No. 15, Wirosari, Grobogan. (INTAN MAYLANI SABRINA/RADAR KUDUS)
PRODUKSI: Proses produksi kue keranjang di Toko Ijo yang beralamat di Jalan Kusuma Bangsa No. 15, Wirosari, Grobogan. (INTAN MAYLANI SABRINA/RADAR KUDUS)
Jelang Imlek, kudapan satu ini selalu jadi andalan untuk hampers dan sembahyang bagi kaum Tionghoa. Di Kabupaten Grobogan, ada produksi kue keranjang yang berdiri sejak 1965 bernama Toko Ijo. Mereka hanya memproduksi kue keranjang selama 23 hari sebelum pergantian tahun.

INTAN MAYLANI SABRINA, Radar Kudus, Grobogan

Perempuan Tionghoa separuh baya terlihat sedang duduk di emperan dapur, terlihat mengawasi proses pembuatan kue keranjang. Cahayati ditemani putra ketiganya yang bernama Cristin yang merupakan generasi ketiga penerus kue keranjang ini.

Di rumah bangunan Belanda yang ada di Jalan Kusuma Bangsa Nomor 15, Kecamatan Wirosari ini terlihat aktivitas mengadon hingga memasak di atas enam tungku berukuran besar berdiameter 90 cm. Dandang/tungku itu mampu berisikan sekitar 83 kue setiap kali masak. Api yang digunakan untuk memanaskan dandang berasal dari briket batubara yang dipanaskan dengan angin dari blower listrik.

Produksi kue keranjang ini dilakukan lima karyawan dan para rewang di rumahnya. Aktivitas ini hanya ditemukan setahun sekali, tepatnya sebelum perayaan Lunar. Berbekal resep turun temurun. Tahun ini Toko Ijo sudah mulai dikelola generasi ketiga. Meski begitu, generasi kedua yakni Tam Gio Nio atau Cahayati, 90, masih aktif mengawasi proses produksi.

”Kami hanya memproduksi sejak 29 Desember hingga besok (Red, hari ini). H-3 Imlek kami sudah tutup,” jelas Cahayati.

Kini produksinya pun mulai mengalami perkembangan. Jika dulu dilakukan dengan cara ditumbuk dengan lumpang, sekarang sudah dilakukan menggunakan mesin. Meski begitu kualitas dan kuantitas masih sama. Mereka masih mampu bersaing dibanyaknya kompetitor

Sebelumnya Toko Ijo hanya memproduksi dua varian rasa, kini berkembang menjadi enam rasa yakni cokelat, vanili, pandan, prambors, durian dan gula aren. Harganya pun bervaritif, untuk cokelat, vanili, pandan, prambors dan gula aren Rp 44 ribu. Sedangkan durian Rp 55 ribu.

Uniknya, mereka tak membuka toko untuk berjualan. Ia semula hanya mempasarkan jualannya secara lisan, namun konsumennya konsisten hingga saat ini. ”Hanya bermodalkan lisan dari satu orang ke orang lain. Tanpa membuka toko, namun konsumen sudah ada dari beberapa daerah seperti, Jogjakarta, Bandung, Kudus, Jepara, Pati, Swalayan ADA Semarang, Sri Ratu Semarang, Surabaya hingga Lombok.

Kini setiap jelang Imlek, dalam sehari mampu menghasilkan 2 sampai 3 ton adonan. Dengan omzet Rp 100 juta dalam sebulan. ”Dulu bisa sampai 10 ton, kini sudah ajeg 2-3 ton adonan,” ungkpanya.

Kue keranjangnya ini dia berikan label unik. Perpaduan antara Mandarin dan Indonesia. Adanya merek Toko Ijo (karena toko emas di rumahnya berwarna hijau). Serta di atasnya tertulis Kaligrafi Mandarin yang dibaca Fu. “Fu bagi kami artinya bahagia atau kebahagiaan,” imbuhnya.

Selain itu, kue keranjang ini bisa disimpan sampai satu tahun lamanya jika disimpan di lemari pendindin.  Namun, jika disuhu biasa hanya bertahan selama satu bulan.

Dia mengungkapkan tidak adanya pengawet dalam kue keranjangnya ini. Sebab bahan yang digunakan hanya beras ketan yang dijadikan tepung, gula pasir atau aren kemudian pewarna alami seperti pandan dan daun suji. Kedua tanaman itu ia tanam di halaman belakang rumahnya. (*/) Editor : Ali Mustofa
#Kue keranjang #jelang imlek #grobogan #kaum tionghoa