Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Hari Libur Nelayan, Penginapan dan Toko Suvenir Tetap Buka

Ali Mustofa • Rabu, 4 Januari 2023 | 21:27 WIB
GELAP: Sebuah kapal nelayan yang bersandar di pelabuhan Legon Bajak, Kemujan berputar hendak memarkir kapal di lain lokasi saat cuaca mendung. (NIBROS HASSANI/JAWA POS RADAR KUDUS)
GELAP: Sebuah kapal nelayan yang bersandar di pelabuhan Legon Bajak, Kemujan berputar hendak memarkir kapal di lain lokasi saat cuaca mendung. (NIBROS HASSANI/JAWA POS RADAR KUDUS)
Karimunjawa tak seramai liburan tengah tahun ketika musim baratan seperti ini. Namun, penginapan, toko suvenir, dan kafe masih buka meski ada yang meliburkan karyawannya. Sementara itu sebagian warga tetap mencari ikan di pinggiran dan memilih berdagang. Bagi nelayan, baratan ini dianggap sebagai hari liburnya nelayan. Biasanya untuk istirahat dan membersihkan kapal.

NIBROS HASSANI, Karimunjawa, Radar Kudus

JAM menunjukkan pukul 10.49 di Desa Karimunjawa. Sebuah toko suvenir tampak masih dibuka oleh sosok pria muncul dari dalam toko tersebut. Pria itu bernama Brian, pemilik toko suvenir Bukit Love. Sebagai informasi, Bukit Love adalah satu spot yang cukup digemari di Karimunjawa. Banyak wisatawan yang tiba di Karimunjawa mampir untuk berfoto di spot bertuliskan 'Karimunjawa' tersebut.

Toko suvenir milik Brian tetap buka meski Karimunjawa sedang sepi. Tampak banyak aksesoris dijual di sana. Ada juga pakaian, gantungan kunci, sisir, totebag, asbak, hiasan dinding, hiasan meja, kotak tisu, dan lainnya. Harganya pun beragam. Mulai dari gantungan kunci seharga Rp 5 ribu hingga kotak tisu seharga Rp 75 ribu. Semuanya dirancang khas pesisir. Begitu pula dengan desain kaus yang dijual. Logo kerang, bintang laut, dan ombak menggambarkan suasana pantai Karimunjawa.

Tak hanya toko suvenir, kafe Bukit Love milik kerabat Brian juga tetap buka. Konsumennya adalah warga lokal atau wisatawan yang masih tinggal.

Begitu juga homestay yang ia miliki. Meski sepi, ia tidak rugi secara operasional sebab harga sewa dan listrik masih stabil. Setiap bulan sama. Saat akhir pekan, memang homestay ramai. Tapi tidak begitu melonjak setelah banyak kompetitor homestay baru berdatangan. "Masih stabil, tidak terlalu turun," jelas Brian.

Pihaknya juga kerap menampung wisatawan yang terjebak saat musim baratan. Pernah suatu kali, dirinya menampung sebelas wisatawan yang terjebak di Karimunjawa karena cuaca tidak mendukung kapal berlayar. Belasan wisatawan itu merupakan mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) yang sedang berlibur. Karena terjebak ombak, wisatawan tersebut tinggal hingga 17 hari di homestay miliknya.

Ia mengaku, untuk baratan tahun ini memang lebih lama dibanding tahun-tahun sebelumnya. "Kalau baratan biasanya 2-5 hari tidak berlayar. Lha ini kan enggak. Siklusnya mungkin pas tahun ini sampai tiga bulan," jelasnya.

Soal profit, baginya yang penting efisiensi dan manajemen. Usahanya juga tetap berjalan meski pariwisata sedang sepi. Pihaknya juga telah menyetok bahan bakar dan makanan untuk musim baratan. "Kalau stok pangan basah memang tidak bisa. Karena bisa membusuk. Tapi lainnya bisa," jelas Brian.

Photo
Photo
BERSIH-BERSIH: Beni, penghuni salah satu homestay Karimunjawa yang belum kembali ke daratan membantu membersihkan halaman homestay bersama sang pemilik kemarin. (NIBROS HASSANI/JAWA POS RADAR KUDUS)

Brian, pelaku usaha sekaligus pengurus paguyuban homestay Karimunjawa menceritakan, tidak semua penginapan Karimunjawa tetap beroperasi saat baratan. Salah satu resort mewah di Karimunjawa lebih memilih meliburkan karyawannya. Saat berlibur, karyawan tetap digaji dengan nominal separo. Saat musim berlibur atau summer, musim paling dinanti para wisatawan asing berkunjung pihak resort membuka layanan lagi. "Ada yang semalam tarifnya Rp 3 juta itu dibuka khusus saat bulan ramai saja. Dan kebanyakan yang datang adalah wisatawan asing. Mereka juga punya penerbangan sendiri," kata Brian.

Sementara itu, koki dari sebuah resort di Karimunjawa menjelaskan biasanya pihak hotel telah menyetok pangan untuk musim baratan. Stok tersebut disajikan bagi para tamu resort yang datang saat musim baratan. Stok pangannya bisa tahan untuk tiga bulan ke depan. "Ke depannya kita sudah antisipasi, tapi memang baratan kali ini lebih lama dari sebelumnya. Untuk ayam dan telur kami sempat sulit mencarinya," jelas pihak resort tersebut.

Sementara itu, di Desa Kemujan yang juga kerap dikunjungi para wisatawan, warganya menjalankan usaha homestay dan warung kecil.

Seperti yang dilakukan Ros, warga Kemujan. Ia telah menjalankan usaha homestay-nya hingga belasan tahun. Meski musim baratan, ia membuka layanan indekos untuk para pegawai kantor Bandara terdekat atau pekerja lepas. Indekos yang ia miliki tetap berpenghuni meski saat baratan. Meski begitu, ia mengaku pembayaran listrik cukup tinggi setiap bulannya. Apalagi pihaknya memasang AC di masing-masing kamar.

Meski begitu, Ros dan suaminya merupakan pedagang. Usaha yang ia jalani tidak hanya satu. Suami Ros yang menjadi nelayan kerap meraup untung saat musim cumi-cumi tiba. "Ya banyak juga panennya. Tapi ini musim baratan sudah tiga bulan tidak melaut, cuminya juga tidak ada, " kata Ros.

Wartawan juga menemui sebagian warga yang menjalani usaha sampingan. Selain nelayan, ada yang juga berjualan warung sehari-hari. Ada juga yang berdagang bahan-bahan pokok dari Jepara.

Sementara itu, para nelayan yang tidak bisa melaut memperbaiki jaringnya di pelataran rumah. Bagi para nelayan, musim baratan ibarat musim berlibur. Sebab cuaca, mereka tidak bisa melaut. Kapal-kapalnya juga hanya bisa diparkirkan di pelabuhan. Kadang dibersihkan.

Begitu juga para nelayan di Pulau Parang, Karimunjawa. Belakangan ini, karena musim baratan, kebanyakan nelayan Parang tidak melaut jauh. Namun hanya di pinggiran laut. Mencari ikan seadanya untuk kebutuhan makan sehari-hari. Saat baratan, bahkan sebagian warga Pulau Nyamuk dan Parang memilih untuk tinggal di Jepara. Sebab, tidak ada kapal yang berani berlayar dari Karimunjawa menuju dua pulau tersebut. (*/war) Editor : Ali Mustofa
#resort karimunjawa #karimunjawa #homestay karimunjaw #pariwisata karimunjawa #musim baratan