Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Berangkat Sekolah Jalan Kaki, Pilih BBM Ketimbang Sembako

Ali Mustofa • Selasa, 3 Januari 2023 | 22:14 WIB
TERTAHAN: KMP Sigin jai sandar di Pelabuhan Kartini Jepara karena cuaca buruk Kemain. (NIBROS HASSANI/JAWA POS RADAR KUDUS)
TERTAHAN: KMP Sigin jai sandar di Pelabuhan Kartini Jepara karena cuaca buruk Kemain. (NIBROS HASSANI/JAWA POS RADAR KUDUS)
Dampak kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Karimunjawa juga dirasakan oleh para siswa MTs - MA Safinatul Huda di Desa Kemujan, Karimunjawa. Karena tidak ada bensin untuk berangkat sekolah, sebagian siswa pilih jalan kaki. Alhasil yang berangkat separo. Akhirnya diliburkan.

NIBROS HASSANI, Radar Kudus, Karimunjawa

KELANGKAAN BBM saat musim baratan berdampak pada aktivitas masyarakat. Kegiatan sekolah bahkan sempat diizinkan untuk libur demi menghemat BBM. Selain itu, warga juga tertahan mobilitasnya karena pertamax dan pertalite tidak tersedia. Di sisi lain, mayoritas warga mengandalkan kendaraan roda dua untuk berkativitas.

Beberapa warga Kemujan menilai pengiriman BBM lebih penting ketimbang sembako. “Sembako memang penting, tapi kami kan masih ada stok. Aman lah. Kalau BBM ini betul-betul tidak ada. Beberapa mesin nelayan juga pakainya pertalite, bukan solar. Susah untuk aktivitas,” kata seorang warga.

Ada juga warga yang kedapatan menyedot bensin dari motor demi menghidupkan mesin genset. Sebab, belum lama ini listrik di Kemujan, Karimunjawa juga sempat mati. “Sudah tidak ada bensin, listrik juga mati,” keluhnya.

Risda, siswi Madrasah Aliyah Safinatul Huda Kemujan, Karimunjawa tidak bisa hadir ke sekolah pada awal tahun baru ini. Pihak sekolah meliburkan Risda dan teman-teman lainnya. Di Kemujan dan Karimunjawa secara umum stok BBM masih langka. sedangkan siswa yang notabene bermukim jauh dari sekolah tidak bisa berangkat. Sebab, harus menghemat persediaan yang ada. Jarak rumah siswa yang menggunakan motor antara 500 hingga dua kilometer.

“Masuknya kapan tidak tahu. Selanjutnya nanti dikabarkan guru. Mungkin menunggu BBM datang,” kata Risda.

Karena tidak masuk sekolah, hari hari Risda dihabiskan membantu ibunya mengurus homestay.

Di Karimunjawa, kejadian ini hanya berlaku di Desa Kemujan. Sementara di Pulau Parang dan Desa Karimunjawa anak-anak sekolah masih bisa berangkat.

Selain Risda, ada puluhan siswa MTs Safinatul Huda, Kemujan Karimunjawa lainnya yang tidak bisa berangkat. Sebagian memilih jalan kaki.

Tajukding, Kepala MTs Safinatul Huda menjelaskan untuk hari pertama  semester II tahun ajaran 2023 kali ini, rata-rata kelas hanya dihadiri oleh separo dari jumlah siswa. Secara total, dari 127 siswa MTs yang seharusnya hadir, hanya ada 57 siswa yang datang ke sekolah kemarin. Begitu juga dari tenaga pendidik. Hanya separo yang hadir.

Kata Tajukding, kebanyakan peserta didik yang tidak hadir karena lokasinya jauh. Seperti di Karimunjawa. Dari Karimunjawa kota ke Kemujan, waktu yang ditempuh bisa mencapai 30 menit perjalanan. Sehingga sangat membutuhkan banyak bahan bakar.

"Kali ini memang yang datang ke sekolah yang punya bensin saja. Mereka yang tidak ada (bensin), kami izinkan tidak berangkat sekolah," jelas Tajukding.

Kata kepala madrasah tersebut, kejadian serupa pernah terjadi pada musim baratan (angin kencang, ombak tinggi, dan hujan, Red) pada tahun sebelum pandemi. Sekitar 2017 atau 2018 ia tidak mengingat pasti. Saat itu, pihaknya sampai berkoordinasi dengan kecamatan agar para murid difasilitasi transportasi menuju ke sekolah.

"Memang pernah terjadi saat baratan, tapi saya kira (tahun ini) paling parah, semoga stok BBM bisa segera terpenuhi," kata Tajukding.

Pihaknya juga telah membuat berita acara berkaitan dengan hal tersebut. "Saya juga meminta kepada Pak Camat, semisal stok BBM belum bisa terpenuhi, saya minta kecamatan untuk memfasilitasi kendaraan jemputan siswa menuju dan pulang dari sekolah," jelasnya.

Untuk memenuhi kebutuhan BBM di Karimunjawa, kapal perang KRI Makassar akan dijadwalkan tiba segera di Karimunjawa. Sebelumnya, kapal khusus pengangkut bahan bakar yang telah berada di Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang tidak bisa berlayar karena cuaca.

Opsi pengiriman kapal perang ini dijelaskan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat melakukan rapat bersama melalui zoom meeting kemarin.

Penjabat (Pj) Bupati Jepara Edy Supriyanta mengonfirmasi hal tersebut kepada wartawan. Nantinya, akan ada kapal perang KRI Makassar yang akan sandar di Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang menuju Pelabuhan Legon Bajak, Desa Kemujan, Karimunjawa.

Kapal tersebut akan membawa sejumlah kebutuhan penting untuk warga selama musim baratan di Karimunjawa. Seperti BBM dan beras 7 ton.

Kapal tersebut akan tiba di Pelabuhan Tanjung Mas Semarang hari ini dan direncanakan tiba di Pelabuhan Legon Bajak, Kemujan besok Rabu (4/1).

"Rabu sore kemungkinan tiba di Pelabuhan Legon Bajak," kata Edy. (*/war) Editor : Ali Mustofa
#kelangkaan bbm #aktivitas warga karimunjawa #karimunjawa #musim baratan