EKO SANTOSO, Grobogan, Radar Kudus
PENAMPILANNYA sederhana. Memakai baju koko putih dan bersarung. Ia mengenakan peci dan berkacamata. Hampir menyerupai Habib Umar Al Muthohar Semarang. Lelaki itu Habib Muhammad Munawar Assegaf. Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Madinah.
Ia mendirikan ponpes tersebut baru setahun ini. Dan tercatat sebagai habib pertama di Grobogan yang mendirikan ponpes. Menurutnya, apa yang dilakukan itu merupakan dawuh dari gurunya, Habib Umar Al Muthohar Semarang.
Habib Muhammad -sapaannya- mengatakan, pada 2015 lalu ia pernah berguru ke Habib Umar. Namun, hanya beberapa bulan. Dia sebenarnya ingin lebih lama nyantri, tapi justru diarahkan Habib Umar untuk menimba ilmu ke Yaman. ”Akhirnya saya ke Yaman sejak 2015 akhir. Di sana sambil kuliah 10 semester,” jelasnya.
Habib Muhammad boyong (pulang selesai mondok) ke Indonesia pada Oktober 2021. Sebelum pulang ia sempat sowan ke Habib Umar dan mendapatkan petunjuk untuk bersiap-siap membangun pondok.
”Abah saya ditimbali beliau (Habib Umar) untuk mencari tanah guna dibangun pondok. Waktu itu ada tiga alternatif. Dan yang dipilih di sini (lokasi Ponpes Nurul Madinah saat ini). Lokasi itu sebelumnya sawah,” katanya.
Sejak saat itulah kemudian pembangunan pondok dimulai. Peletakan batu pertama dilakukan pada Zulhijah 1442 atau pertengahan 2021 lalu. Tak perlu waktu lama, kurang dari setahun, ponpes itu telah menerima santri. Pendaftaran sudah dibuka sejak empat bulan terakhir.
”Sejak kamar dan kamar mandi rampung dibangun, dari teman-teman mendorong untuk langsung membuka pondok (untuk menerima santri),” katanya.
Hingga kini, sudah ada 13 santri yang menetap di ponpes yang terletak di Dusun Gebangan, Desa Putat, Purwodadi, Grobogan, itu. Selain satri yang menetap ada 10 santri lain yang dilaju.
Habib yang masih berusia 28 tahun itu menyebut, pihaknya ke depan juga akan mengintergrasikan pondok dengan sekolah formal. ”Insya Allah nanti akan dibangun sekolah juga di sini (ponpes). Saya pengennya pondok saja. Tapi dari guru-guru minta ada sekolahnya juga. Apalagi di zaman akhir perlu perpaduan itu,” katanya.
Sementara saat ini, para santri di Ponpes Nurul Madinah ikut sekolah formal di tempat lain. Ia pun mengakui tantangan adanya pondok dan sekolah adalah konsentrasi dan kefokusan. Sebab, dari contoh yang adan kecenderungannya kadang bisa kalah salah satu.
”Yang susah pondok dan sekolah maju dua-duanya. Biasanya pondok maju sekolah kalah. Atau sebaliknya,” ujarnya. (*/lin) Editor : Ali Mustofa