INDAH SUSANTI, Kudus, Radar Kudus
PEREMPUAN itu tampak sibuk mengupas labu siam. Labu seberat 10 kg yang sudah dikupas itu lantas dimasukkan ke dalam baskom. Labu-labu itu kemudian direndam dengan air selama tiga jam. Setelah tiga jam, labu itu diblender lalu diblender Lelasari. Sarinya dibikin sirup, sedangkan ampasnya dibuat selai.
Lelasari, sang pembuat sirup dan selai labu siam mengaku memproksi sendiri tanpa bantuan orang lain.
Sembari bercerita, sebelum menggeluti labu siam ini pernah mengikuti penyuluh keamanan pangan (PKP) di Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus. Waktu itu, yang didaftarkan olahan bandeng.
“Itu sekitar Februari 2019. Karena keterbatasan alat penyimpanan akhirnya saya hanya bertahan sampai November di tahun yang sama,” ungkapnya.
Cerita terhenti sejenak, karena Lela akan membuat sirup dan selai labu siam.
“Ya proses mengaduknya kurang lebih dua jam dengan api kecil. Kalau terlalu besar bisa gosong, karena tidak ada tambahan air, benar-benar hanya sari labu siam yang sudah disaring,” ungkapnya.
Sambil menunggu sirup dingin, Lela lanjut lagi mengolah selai. Ampas labu siam Lela olah dengan cara dimasak kemudian diberi gula pasir dua kilogram. Dimasak sampai mengental dan tidak ada airnya.
Setelah proses sirup dan selai selesai menunggu dingin. Lela melanjutkan ceritanya. Kalau pernah berjualan Coto Makasar 14 Desember 2019 hingga akhirnya diterjang pandemi Covid-19 2021 bangkrut.
“Saya sampai jual bumbu jadi Coto Makassar, tapi tidak laku. Alasannya, berbeda rasa kalau dimasak selain ahlinya. Kemudian, berdiskusi dengan suami, akhirnya diputuskan membuat produk dari labu siam,” jelasnya.
Untuk saat ini pesanan di wilayah Semarang. Labu siam buatannya, rata-rata untuk kesehatan. Karena kasiat labu siam bisa menetralkan gula darah atau diabetes. Lela terinspirasi dari pakdhenya yang setiap hari mengkonsumsi labu siam dengan cara di jus dan hasilnya juga ada, gula darahnya stabil.
”Bisa juga untuk anak-anak. Biasanya dalam bentuk sayur tidak suka, maka alternatifnya dibuat minuman dan selai. Saya asli dari labu siam, belinya di pasar Bitingan sekali produksi butuh 10 kilogram labu siam, jadi produk 30 sirup dan 20 selai. Bahan lainnya cuma gula tidak ada pengawet atau tambahan lainnya. Saya juga membuat sirup tanpa gula. Bisa request juga,” ungkapnya.
Lela menjual produknya untuk sirup ukuran 300 ml dan selsai 200 ml seharga Rp 10 ribu. Kini dia mempromosikan produknya di beberapa pameran di tingkat Jawa Tengah. (*/mal) Editor : Ali Mustofa