MOH. NUR SYAHRI MUHARROM, Radar Kudus, Jepara
LETKOL Inf M. Husnur Rofiq baru bertugas di Jepara sejak Agustus lalu. Sebelumnya ia bertugas sebagai Komandan Intel Kodam IV Diponegoro Semarang. ”Di Jepara ini sejauh ini kondusif. Ada masalahpun bisa diselesaikan dengan ngobrol sembari ngopi,” ungkap Rofiq menceritakan kondisi Jepara sejauh ini.
Rofiq besar di Jawa Timur. Ia berasal dari Tanjunganom, Nganjuk. Ia bersekolah di SMAN Kertosono, Nganjuk. Lulus sekolah, ia melanjutkan pendidikannya di Akademi Militer di Magelang pada 2000. Ia lulus dari Akmil di tahun 2003.
Saat mengawali karirnya dalam dunia militer, ia langsung ditempatkan di Aceh. Saat itu pangkatnya Letnan Dua (Letda). Ia langsung didapuk menjadi Komandan Koramil (Danramil) Aceh Utara selama setahun.
Usai jadi Danramil di Aceh Utara, ia masuk di Batalyon 116 di Aceh Selatan. Setelah itu berpindah ke Batalyon 112 di Banda Aceh.
Di Provinsi Aceh itulah ia sebagian besar mengawalai karir militernya. Bagaimana tidak, 14 tahun lamanya ia ada di Aceh. ”Sampai pangkat saya jadi kapten. Jabatan saya Dan Tel, kemudian Komandan Kompi, sampai Pasi Intel,” ungkap Rofiq.
Saat bertugas di Aceh itu pula menurutnya salah satu penempatan yang berkesan baginya. Dia di sana sejak saat Aceh menjadi daerah konflik hingga konflik tersebut selesai. Selain itu, saat di sana pula ia menjadi saksi dahsyatnya tsunami di Aceh di tahun 2004.
Ia masih ingat betul kejadian tersebut. Saat 26 Desember 2004 itu, di Aceh Utara hendak diadakan kegiatan kerja bakti bersama warga. Namun saat mandi pagi, ia merasa ada getaran gempa. ”Saat itu gempanya cukup lama. Kalau di sini kan cepat. Itu lama sekali,” ungkap Rofiq.
Setelah selesai mandi, ia bergegas ke kecamatan. Di sana ia bersama Fokopimcam. Di tengah kegiatan, sekitar pukul 12.00 WIB ada sekeluarga datang menggunakan becak motor. ”Mereka bersedih. Menceritakan desanya sudah habis,” terang Rofiq.
Jarak desa tersebut dengan kantor kecamatan sekitar 40 menit. Ia dan jajaran Forkopimcam saat itu mencoba mengecek ke lokasi. Tak di sangka saat mengecek desa tersebut tsunami susulan datang. Semua orang panik. Termasuk Rofiq. Dirinya segera bergegas menyelamatkan diri dengan mencoba memanjat pohon kelapa. Dari keterangannya, saat di pucuk pohon tersebut dirinya hampir tenggelam. ”Padahal kalau di daerah pesisir pohon kelapa itu tinggi-tinggi,” ungkapnya.
Dirinya bertahan di atas pohon itu hampir tiga jam. Setelah air surut, ia baru turun dan bergegas meminta bantuan. Ia baru bertemu tim SAR saat malam hari. Setelahnya dirinya langsung dievakuasi. ”Penempatan di Aceh sangat berkesan,” tandas Rofiq. (*/zen) Editor : Ali Mustofa