Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Terinsprasi Mbah Moen, Tulis Lebih dari 30 Buku

Ali Mustofa • Minggu, 28 Agustus 2022 | 23:22 WIB
TETAP PRODUKTIF: Amirul Ulum, santri Kyai Maimoen Zubair yang aktif menulis buku salah satunya karya terbarunya KH Baedlowi Lasem. (DOK.RADAR KUDUS)
TETAP PRODUKTIF: Amirul Ulum, santri Kyai Maimoen Zubair yang aktif menulis buku salah satunya karya terbarunya KH Baedlowi Lasem. (DOK.RADAR KUDUS)
Di tengah kesibukan Amirul Ulum mengajar, warga asal Kayen, Pati itu menyelesaikan buku tentang KH Baidlowi Lasem dan puluhan buku biografi ulama lainnya. Ia terinspirasi dari KH. Maemoen Zubair. Yang juga kiainya.

WISNU AJI, Rembang, Radar Kudus

BERKOPIAH hitam. Kenakan kemeja lengan panjang cokelat. Dengan bawahan sarung hitam, pria berkacamata ini tersenyum. Digenggamnya dua buku. Sampul depan bertuliskan KH. Baidlowi Lasem.

Di tulisan judul utama berlatar font kuning tertulis Pencetus Gelar Soekarno Huwa Waliyul Amri Bisy-Syaukah. Buku itu ukuranya 15,5 x 23 sentimeter. Tebalnya 256 halaman. Buku tentang ulama asal Lasem itu menjadi salah satu karyanya. Sosok penulis itu adalah Amirul Ulum. Santrinya KH Maimoen Zubair atau Mbah Maemoen. Fokus menulis kajian tentang ulama.

Buku KH. Baidlowi Lasem sedianya ditulis pada 2019. Rencananya buat kado untuk Mbah Maemoen. Setahun sebelumnya ia menyelesaikan buku tentang Kiai Zubair Dahlan. Sama, untuk ulang tahun gurunya saat Sumpah Pemuda.

Namun garis takdir berkata lain. Baru satu bab berjalan, dapat kabar Mbah Moen wafat pada 6 Agustus 2019 saat ibadah haji di Mekkah.

”Usai dapat kabar Mbah Moen wafat, buku KH. Baidlowi Lasem saya tunda. Gunakan proses untuk menulis buku Mbah Moen dulu. Dapat enam judul. Mumpung ingatan cerita Mbah Moen masih segar. Data-data masih banyak. Akhirnya yang buku KH. Baidlowi saya tunda. Baru selesai Mei kemarin buku Mbah Baedlowi,” kataya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Dalam membuat buku, sosok kelahiran Pati, 25 Maret 1986 tersebut sempat wawancara Mbah Moen. Ketika sowan. Konteksnya tidak terlalu serius. Diringkas. Kalau ada ingatan masih ditulis.

Menurutnya penulisan buku KH. Baidlowi sangat perlu. Karena sejarah kiai sepuh itu tidak bisa dilepaskan dari sejarah Bangsa Indonesia. Begitupun sebaliknya.

Hal itu berkaitan dengan Bung Karno digugat saat menjadi Presiden, karena alasan agama. Itu yang paling terdepan menyuarakan kebenaran tentang agama dari Bung Karno adalah Kiai Baidlowi. Meskipun yang menjadi corongnya Kiai Wahab. Ya, Kiai Baidlowi pencetus gelar Waliyyul Amri Ad-Dharuri bi As-Syaukah untuk Bung Karno. Yang berarti pemimpin pemerintahan di masa darurat.

”Kalau hal-hal semacam ini tidak ditulis. Orang-orang yang politisi atau umum tidak tahu. Jadi Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran kiai dan santri,” ujarnya.

Di dalamya juga ada cerita tentang dunia sejarah islam. Yang mendapat gelar Rais Akbar hanya dua, KH. Hasyim Asy'ari (Rais Akbar NU).  Kedua Rais Akbar Thoriqoh al-Mu'tabarah an-Nahdliyyah, pertama kali Kyai Baidlowi. Setelahnya Rais ‘Aam.

Tidak berheti disitu. Karya publik dan sejarah yang sudah launching ada puluhan. Sekitar 30 buku dibuat sejak menimba ilmu di Ponpes Al-Anwar, Sarang. ”Belajar otodidak. Terinsprasi dari Mbah Moen. Sering cerita sejarah. Kalau tidak dibukukan akan hilang,” kenangnya.

Akhirnya suatu ketika Kiai Maiomen pernah dawuh agar salah satu santrinya terjun di dunia tulis menulis. Akhirnya Ulum terpanggil agar cita-cita Mbah Moen terwujud. Bahkan semua karyanya diusahakan yang memberikan pengatar adalah Mbah Moen.

Padahal yang lain tidak berani atau sulit. Hebatnya, gurunya tersebut ketika memberikan pengantar, sekali jadi. Ketika sowan langsung diberi pengantar.

Di depan mata masih ada 50 biografi ulama. Belum lagi permintaan dari Mekkah. Untuk menulis Bahasa Arab. Belum sempat diselesaianya.

”Bahasanya karena kita santri. Biasanya yang didulukan yang menyuruh kiai. Kalau sekadar cari keuntungan finansial justru menghindar. Dijanjian Insya Allah. Dahulukan yang diperintah kiai,” katanya.

Selain itu diminta juga menulis  Kiai Bisri Mustofa. Sudah diberi izin atau lampu hijau dari Gus Mus. Setelah awal bulan Juli sowan ke Rembang. Dan hebatnya karya-karya apiknya diselesaikan di tengah kesibukanya mengajar.

Untuk proses membuat buku, ia membaca referensi. Butuh waktu dua pekan sampai sebulan. Sebulan selesai. Kalau santai. Soalnya di Jogja saat ini Amirul Ulum kesibukan mengaji.

Di Kota Pelajar tersebut ia mengajar 13 mata pelajaran. Kitab besar-besar. Jadi waktunya sisa waktu untuk menulis. Kebanyakan mengajar di rumah. 1-2 santri orang luar. Ada di beberapa pondok lain. Untuk membagian ilmu. (noe/war) Editor : Ali Mustofa
#penulis buku #dunia sejarah islam #Amirul Ulum #mbah moen #buku biografi