Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Idolakan Ki Sigit Ariyanto, Ingin Seperti Gatotkaca

Ali Mustofa • Kamis, 25 Agustus 2022 | 16:50 WIB
JADI CONTOH: Farel Dwi Nugroho tampil di Pendapa Kabupaten Blora belum lama ini. (AHMAD ZA’IIMUL CHANIEF/RADAR KUDUS)
JADI CONTOH: Farel Dwi Nugroho tampil di Pendapa Kabupaten Blora belum lama ini. (AHMAD ZA’IIMUL CHANIEF/RADAR KUDUS)
Berawal diajak nonton wayang kakeknya, Farel akhirnya suka dengan kesenian wayang kulit. Belajar sejak kelas I SD, Ki Farel Dwi Nugroho kini sudah dipercaya manggung di Pendapa Bupati Blora. Tokoh idolanya Ki Sigit Ariyanto. Lakon yang ia sukai Gatotkaca.

AHMAD ZA’IIMUL CHANIEF, Blora, Radar Kudus

SECARA tampilan, Farel Dwi Nugroho tak ada bedanya dengan teman sebayanya yang lain. Saat wartawan Jawa Pos Radar Kudus ini datang ke sekolahnya di SMPN 2 Blora dia berseragam biru putih dengan angka VII di lengan kanan baju putihnya.

Bocah bertubuh gempal dengan wajah bulat itu tampak seperti pemalu.

Tampilannya berubah drastis ketika dia tampil sebagai dalang. Dirinya lincah menggerakkan wayang. Seperti saat dirinya tampil di Pendopo Rumah Dinas Bupati Blora Jumat (19/8) malam lalu.

Saat itu ia menceritakan lakon Gatotkaca Senopati. Dia mampu bercerita dengan lantang. Dengan nada yang khas dalang pada umumnya. Sabetannya saat memeragakan perang antara Gatotkaca dan Boma Narakasura sungguh mantap. Seperti dalang-dalang pada umumnya

Bocah dengan nama panggung Ki Farel Dwi Nugroho itu mulai menggeluti dunia pewayangan sejak usia belia, yakni saat masih duduk di Kelas I SD.

Sebelumnya, dia hanya merasa gembira saat diajak simbahnya nonton wayang.

”Awalnya hanya diajak simbah dan saudara untuk nonton wayang. Lama-lama jadi seneng nonton. Kemudian kelas I SD ikut kursus di Ki Nuryanto,” ungkap Farel, dalang bocah asal Kedungjenar, Blora kota, itu.

Dia kemudian rutin belajar ndalang. Seminggu dua kali. Jika sebelumnya dia latihannya di GOR Mustika Blora, saat ini dia latihan di Sanggar Seni Cahyo Sumirat di Dukuh Pangkat, Desa Purwosari, Blora.

Karena suka dengan dunia itu, dirinya mengaku cukup sering menonton pementasan wayang. Bahkan, dia bersama bapaknya pernah menonton hingga ke Kota Wali, Demak.

”Tokoh yang saya sukai Gatotkaca. Karena dia kuat. Otot kawat balung wesi,” ucapnya mantap.

Farel mengaku senang menceritakan tokoh yang disukainya itu. Seperti saat pentas di pendapa kabupaten pekan lalu. Dia mengaku sering membawakan lakon Gatotkaca Senopati.

Secara singkat, dia menceritakan mengenai tokoh Gatotkaca yang perang dengan Boma Narakasura, tokoh antagonis dalam lakon tersebut. Di akhir cerita, tokoh kesukaannya Gatotkaca itu menang dan akhirnya mendapatkan wahyu dan menjadi Senopati.

"Dalam cerita itu (lakon Gatotkaca Senopati, Red), hikmah yang saya ambil adalah yang benar lah yang akan menang," ungkapnya saat ditemui wartawan koran ini.

Anak dari Agus Nugroho dan Dewi Suprapti warga Kedungjenar, Blora Kota, ini ingin, kelak bisa menjadi dalang kondang seperti Ki Sigit Ariyanto.

Untuk tetap menjalankan hobinya itu, dia mengaku harus mengatur waktu dengan baik. Sebab, selain latihan ndalang, dirinya juga harus memenuhi tugasnya di SMPN 2 Blora.

Di sekolahan itu, dia juga mengasah kemampuannya dalam mengiringi pentas pewayangan. Yaitu melalui ekstrakurikuler karawitan.

"Kalau di tempat kami (SMPN 2 Blora, Red), memang ada beberapa anggota bocah. Mereka ikutnya karawitan, kalau latihan dalang biasanya di luar (ikut kursus di luar sekolah, Red). Biasanya para dalang bisa karawitan juga," ungkap Eny Rubiyanti, kepala SMPN 2 Blora itu. (*/zen) Editor : Ali Mustofa
#farel dwi nugroho #wayang kulit #pementasan wayang #dunia pewayangan #gatotkaca