Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kebanyakan Depresi karena Cinta, Bantu 400 ODGJ

Ali Mustofa • Senin, 18 Juli 2022 | 20:48 WIB
TANDA CINTA ODGJ: Mas Adi didampingi istrinya Mak Heni memperlihatkan gigitan ODGJ yang dia anggap sebagai tanda cinta pada (6/7) di ruang podcast Jawa Pos Radar Kudus. (ARIKA KHOIRYA/RADAR KUDUS)
TANDA CINTA ODGJ: Mas Adi didampingi istrinya Mak Heni memperlihatkan gigitan ODGJ yang dia anggap sebagai tanda cinta pada (6/7) di ruang podcast Jawa Pos Radar Kudus. (ARIKA KHOIRYA/RADAR KUDUS)
Pasutri ini konsisten membantu ODGJ di jalanan. Tercatat sudah ada 400 ODGJ dan 122 di antaranya sudah kembali ke keluarganya.

ARIKA KHOIRIYA, Kudus, Radar Kudus

“Ini tanda cinta dari ODGJ,” kata Sukaryo Adi Putra sambil tersenyum dan memperlihatkan jempolnya yang digigit ODGJ. Istri Adi, Heni Mustikaningati atau Mbak Heni yang berada di samping suaminya juga tersenyum melihat jari suaminya yang dijahit dua kali.

Bagi Adi dan Heni, digandeng, diamuk, bahkan digigit ODGJ selalu mewarnai perjalanan keduanya. Meski demikian, banyak hal yang lucu dan mengharukan yang mengalami alami. “Mereka itu unik,” kata Adi.

Adi sendiri menjelaskan untuk mendekati ODGJ memang tidak mudah. Namun Adi dan Heni mempunyai trik yang diberi nama 3S yakni senyum-salam-salaman. “Jadi harus bisa sok kenal dan sok dekat,” terang Adi.

Adi juga mengungkapkan, pihaknya juga perlu survei atau observasi ke lapangan terlebih dahulu untuk mendekati ODGJ seperti mencari tahu karakter ODGJ kepada warga di lingkungan sekitar lokasi ODGJ berada.

“Karena hal itu akan membantu kami. Misalnya suka dengan cara berkomunikasi seperti apa, suka mengamuk tidak, barang bawannya apa saja. Sebab jika salah strategi nyawa taruhannya,” katanya.

Pasutri yang berasal dari Desa Singocandi, Kecamatan Kota itu juga tak semata-mata hanya berkomunikasi saja, namun juga merangkul, merawat, dan membantu ODGJ agar dapat kembali ke tempat tinggalnya.

Adi dan Heni menceritakan sebelum membuat konten ODGJ, dirinya membuat video tentang down syndrome. Saat itu ingin memperlihatkan bahwa ada ibu yang tidak malu memiliki anak down syndrome. “Harapan kami membikin konten itu biar orang-orang melihat kasih sayang ibu dengan anak down syndrome. Ini bisa menjadi pelajaran hidup banyak orang,” terang Adi.

Selain membuat konten down syndrome, Adi dan istrinya juga membuat konten penyandang disabilitas yang inspiratif. Namun setelah melihat conten creator Rian TV yang juga membagi pengalamannya bersama ODGJ, Adi pun terinspirasi melakukan hal yang sama.

“Sebenarnya saya dan istri berinteraksi dengan ODGJ di jalanan sejak 2007, tapi mulai membuat konten Youtube Sinau Hurip pada 2019. Tujuannya agar ODGJ jalanan yang sedang ditangani itu bisa dikenali keluarganya atau bisa dipertemukan kembali dengan keluarga. Itulah misi kami sebenarnya,” katanya.

“Visi kami itu memberi motivasi kepada masyarakat agar bisa menangani ODGJ. Sebab mereka bisa kembali sehat. Jadi dikucilkan,” paparnya.

Pengalaman Adi dan Heni di jalan bersama ODGJ cukup beragam. Sebab hingga saat ini sudah ada 400 ODGJ yang dirawat dan 122 orang yang sudah kembali ke keluarganya.

Salah satu ODGJ yang paling berkesan, kata Adi, yakni Rominarti. Saat pertama kali bertemu, rambut Rominarti gimbal dan tinggal di jalanan, tepatnya di Jalan Lingkar Tayu-Pati. “Mbak Rominarti ini dikenal dengan nama Dewi. Katanya dari Sraten. Sraten saya ketahui itu dari Banyuwangi. Cuma saya heran, kok logatanya Jawa Timuran,” terangnya.

Setelah berkali-kali bertemu, akhirnya diketahui kalau Rominarti itu dari Ponorogo. Keponakannya yang kebetulan melihat kontennya menghubungi. Setelah itu Rominarti diantar Adi dan Heni ke rumahnya. “Saat ketemu keluarganya itu, Rominarti menangis. Kalau orang normal wajar menangis, tetapi ini ODGJ. Saya heran saat itu. Nah setelah itu Mbak Rominarti menanyakan ibunya. Sedihnya ibunya sudah meninggal dunia,” kata Adi. Heni yang berada di sampingnya menambahkan jika Rominarti termasuk susah didekati. Bahkan saat pertama bertemu dirinya selalu dicueki. Namun lama-lama akrab.

Adi dan Heni menemukan ODGJ di Kudus, Pati, dan kota di Jawa Tengah. Selain itu juga di daerah Garut, Tasik, Cilegon, Magetan, Madiun, Ponoroho, Brebes, Lamongan, hingga Jombang.

Dia juga menceritakan sebagian besar ODGJ yang ditemui karena masalah cinta. Kebanyakan dialami pria. “Laki-laki itu kelihatannya kuat tapi cengeng. Beda dengan perempuan yang mengekspresikan diri dengan menangis. Namun manangis justru teknik murah paling manjur biar lega,” katanya.

Dia berpesan agar warga mendeteksi dini. Kepada warga yang memiliki keluarga dengan gangguan jiwa atau yang merasa pusing, galau, gelisah, dan susah tidur untuk menemui ahlinya agar mendapat penanganan yang tepat. Selain itu, yang bertemu dan memiliki keluarga ODGJ jangan dikucilkan apalagi dipasung. (*/mal) Editor : Ali Mustofa
#depresi #ODGJ #cinta #karakter ODGJ #deteksi dini