VACHRI RINALDY L, Blora, Radar Kudus
KANDAR, Wakil Ketua Difabel Blora Mustika (DBM) dan kawan-kawan sedang sibuk. Akhir-akhir ini ia kebanjiran orderan batik motif korona. Jika dihitung omzetnya sudah ada Rp 500 an juta.
Aktivitas membatik dilakukan di sekertariat DBM yang ada di Mlangsen. Di ruangan sedang sibuk orang-orang mewarnai batik. Motifnya korona. Kain putih sekitar 2 × 1,5 meter itu dibentangkan. Di atasnya sudah terlukis gambar virus korona. Kini, mereka sedang bersama-sama mengecat, memadukan berbagai warna.
Kandar juga tak kalah sibuk. Ia nampak trampil menggoreskan warna di kain putih itu. Meskipun dengan keterbatasan. Kedua tangannya tidak seperti orang normal. Hanya sampai siku.
Sebelum membatik, DBM juga sudah aktif memproduksi beragam kerajinan. Seperti keset. Kemudian, kata Kandar, ia memiliki kenalan dari klaster batik. Dari situ lah ia dan teman-teman difabel belajar.
Kreasi batik produksi DBM sudah mengikuti berbagai pameran. Mulai di kota-kota dekat Blora hingga sampai Bali. "Kami memberi cindra mata Pak Gubernur, pak Ganjar. Alhamdulillah baru tiga bulan banyak teman yang pameran di sana (Semarang,Red)," jelasnya.
DBM juga aktif mengikuti berbagai pelatihan dalam membuat batik cap. Cap di sini juga menggunakan bahan daur ulang. Melalui kertas berkas bungkus susu, dikreasikan sedemikian rupa menjadi berbagai motif.
Jika dibandingkan dengan cap berbagan kuningan, kata Kandar, dinilai bisa lebih menekan biaya produksi. Tak hanya Gubernur, batik DBM juga oernah diberikan kepasa Presiden RI Joko Widodo.
Perjalanan Kandar dan kawan-kawan semakin dikenal. Ia juga pernah diundang acara Deddy Corbuzier di salah satu stasiun televisi.
Saat ini mereka sedang sibuk menggarap motif corona. Kata Kandar, motif corona yang terinspirasi dari situasi pandemi. Ia mendapatkan pesanan dari salah satu Pondok Pesantren di Jepara. Selembar kain jadi dihargai Rp 150 ribu. Jika pesanan dari luar Blora, ada tambahan biaya ongkos kirim (ongkir).
Selain itu, batik-batik di sini juga dipasarkan melalui online. Tak hanya orderan dari dalam negeri, bahkan sudah sampai luar negeri.
"Pernah pesanan dari malaysia," katanya.
Biasanya, ia melibatkan emlat sampai tujuh orang. Disinggung tentang omset, Kandar mengaku sudah tembus ratusan juta. "Lakunya, kalau ratusan. Kalau Rp 500-an ya, sudah ada, sejak bikin, banyak yang pesen-pesen," jelasnya.
Selain motif Corona, ada juga sejumlah motif yang menjadi andalan. Kata Ketua DBM) Abdul Ghofur, ada motif daun jati dan difabel. Motif difabel memiliki filosofi, bahwa disabilitas membutuhkan payung hukum yang dituangkan dalam gambar orang melakai kursi roda dengan tangga didepannya.
Gambar itu merepresentasikan para difabel yang memiliki tantangan. Namun, ada gambar lain yakni bulan dan bintang.
Yang artinya, difabel juga memiliki cita-cita. Kemudian, ada simbol segitiga yang menunjukkan hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan manusia. Ditambah simbol love, menggambarkan dicintai sesama makhluk. (*/him) Editor : Ali Mustofa