SEKITAR 90-an laki-laki memakai kaos putih lengan panjang kemudian dirangkap rompi hijau tua. Bertuliskan nama persatuan mereka di belakangnya. Ada yang berpeci dan kupluk.
Mereka duduk bersila di aula Ponpes Alquran, Narukan, Kragan, Rembang. Mereka alumni napiter-napiter dari seluruh Indonesia.
Mereka menyimak tausiah dari Gus Baha kemarin.
Pengajian yang dimulai pagi sekitar pukul 09.00 itu interaktif. Di akhir sesi, sekitar pukul 10.30, diadakan sesi tanya jawab. Salah satu penanya mengakui dulu ketika masih terlibat dalam paham terorisme, mereka terdoktrin bahwa pemerintahan di negara ini adalah thogut. Sehingga muncul kebencian, lalu menginginkan mendirikan negara sesuai versi mereka.
Pemahaman dangkal, itulah yang menjadi langkah awal dari tindakan terorisme. Para napiter mengakui itu.
Seperti yang dinyatakan Jalil, seorang yang pernah mendekam di penjara. Akibat keterlibatannya dalam aksi terror di Hotel JW Marriot, Jakarta, 2009, silam.
Kini, pemahamannya itu sudah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Banyak faktor yang membuatnya bisa menerima Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Intinya, kata Jalil, kala itu ia meresa kurang wawasan dalam beragama. ”(Ilmu agama, Red) Harus banyak dikaji. Intinya kurang lah,” katanya.
Saat ini ia telah bebas dari penjara. Setelah dinyatakan bebas bersyarat pada 2015 silam. Dan, tentunya memutuskan untuk kembali ke NKRI. Jalil tergabung dalam Persatuan Alumni Napiter NKRI. Kemarin, ia bersama 90-an eks napi teroris lainnya sowan ke Gus Baha.
Gus Baha pun menjawabnya. Sebelum itu, beliau meminta kedua penanya kemarin untuk maju. Duduk di barisan paling depan jamaah. ”Yang rileks saja,” katanya.
Gus Baha meminta untuk membayangkan tentang bertetangga. ”Bernegara sama bertetangga sama,” katanya.
Gus Baha menceritakan tentang kisah Rasulullah saat hidup di dalam kemajemukan. Nabi meminta agar tidak dihalangi ketika beribadah. ”Dulu sampai perang, karena mereka (musuh, Red) menghalangi (ibadah). Sebenarnya problemnya menghalangi. Kalau dulu saling toleransi tidak ada masalah,” katanya.
Artinya, lanjut Gus Baha, apabila hidup di Indonesia tidak menghalangi ibadah, maka tidak ada masalah. Cara pandang terhadap orang lain harus berdasarkan hal yang nyata. ”Kenapa kita ingat sisi yang jelek, tidak ingat sisi yang baik,” ungkapnya.
Perubahan mindset yang perlu dilakukan. Agar seorang yang pernah terpapar paham terorisme bisa kembali ke NKRI. Kata Sofyan Tsauri, salah satu eks napiter lainnya, doktrin yang melekat di kelompok teroris terkesan membatasi rahmat Allah. Di mana mereka membenarkan kelompoknya sendiri.
Melalui tausiyah Gus Baha kemarin, ia menilai bisa memberikan pemahaman dan membuka cakrawala. ”Pemahaman yang seimbang, sehingga InsyaAllah kami taubat nasional. Pindah dari pemahaman ekstrim menuju pemahaman yang adil,” katanya.
Merubah mindset juga memperlukan waktu. Untuk itu ia meminta agar jangan pernah untuk masuk dalam kelompok terorisme. ”Karena nanti susah taubat. Nanti di-bully diintimidasi, dan tidak mustahil ancaman pembunuhan,” ujarnya.
Kegiatan pengajian seperti ini juga bisa menjadi upaya untuk memberikan pelajaran moral. Kata Kepala Densus 88 Anti Teror Polri Irjen Pol Marthinus Hukom berharap, eks napiter-napiter yang ia bawa kemarin bisa mendekat kembali ke lingkungan.
”Ini upaya membangun kesadaran mereka untuk hadir dan kembali kemasyarakat. Bagaimana kita memanusiakan mereka,” ujarnya.
Di sisi lain, sebagai Pengasuh Pondok, Zaimul Umam mengatakan, setiap dua pekan sekali, sudah ada para eks napiter di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang mengikuti tausiyah Gus Baha. Mereka mengikuti kajian tafsir. ”Sudah banyak yang ikut. Yang hari ini hadir (eks napiter) dari seluruh Indonesia,” katanya. (*/zen) Editor : Ali Mustofa