ARIKA KHOIRIYA, Radar Kudus
BERAWAL dari banyaknya anak terlantar, tidak mendapatkan pendidikan dan tempat yang layak, Muhammad Alif Nasrudin mendirikan Pondok Pesantren (ponpes) bernama “Nun” di Kudus. Dia mengasuh, membina, mendidik santri yatim, duafa, terlantar, dan anak jalanan secara gratis.
Pria asal Jawa Timur itu pindah ke Kudus pada awal 2011 untuk bekerja. Pada 2014, dia tergerak untuk menampung anak terlantar dengan mengontrak rumah di Pasuruan Kidul. Setelah itu, dia pindah ngontrak di Prambatan Lor, Kaliwungu. Nah, pada 2015, dia baru membangun ponpes dan mulai ditempati santri pada awal 2017.
Ketika wartawan koran ini berkunjung ke lokasi, pondok seperti rumah biasa, namun bertingkat dan terlihat jelas dengan tulisan tegas bertuliskan “Pondok Pesantren Nun”. Bangunan itu dua lantai dengan cat didominasi warna hijau.
“Kami memang sengaja membangun konsep pondok ini ramah dengan anak-anak,” katanya.
Dia ingat betul, santri pertama yang datang ke kediamannya itu anaknya pengemis dari Kota Malang umurnya dua tahun. Setelah itu, datang lagi santri kedua dari Jepara berumur delapan tahun. Ada juga, kata dia, anak bayi yang tidak dikehendaki ibu dan keluarganya (tidak mau mengasuh) lalu ditampung di pondok itu. “Waktu itu kami mendapat informasi bayi terlantar dari sebuah klinik,” imbuhnya.
Dia menyebut jumlah santri saat ini ada 52 orang. Terdiri dari santri laki-laki 28 orang dan santri perempuan 24 orang. Rata-rata usia mulai dari umur 3-14 tahun.
“Asal santri itu dari berbagai daerah. Ada yang dari Kendari, Karawang, Jambi, Bogor, Jakarta, Malang, terutama Kudus, dan Jepara,” lanjutnya.
Dia juga menjelaskan, di sana juga dibantu enam tenaga pengajar putri dan dan lima tenaga pengajar putra yang ditempatkan. Sebelas tenaga pengajar itu setiap hari mengajar dan mendampingi anak-anak belajar di pondok putra maupun putri. Tenaga pengajar mengajari tahfiz quran, ilmu agama, dan pelajaran umum, dan akidah akhlak. Kalau soal hafalan, pihaknya tidak menuntut, semampunya anak saja. Meskipun ada anak yang hafalannya sudah sampai 8 juz.
“Tetapi karena rata-rata anak berlatar belakang kurang beruntung, maka kami beri konseling dan mentoring kepada santri. Kami ingin mereka keluar dari traumanya dulu. Karena di sini juga ada anak korban KDRT," ujarnya.
Pria yang pernah menimba ilmu di Pondok Modern Arrisalah Ponorogo selama enam tahun itu juga mengatakan awal mula mendirikan pondok benar-benar dari nol. "Saya itu hanya bisa menangis kalau duduk di depan situ (depan rumah) sambil melihat bangunan ini. Awalnya yang tak punya apa-apa. Tetapi alhamdulillah ada-ada saja orang yang bersedia datang dan memberi santunan,” tuturnya.
Dia mengaku dari awal mendirikan pondok hingga kini belum ada bantuan dari pemerintah daerah (pemda) atau instansi terkait. Penghasilan biaya anak-anak itu murni dari donatur.
Pandemi ini pihaknya mengaku banyak menolak penampungan anak, karena fasilitas belum mumpuni. Sarana dan rasarana (sarpras) yang ada di sana pun dengan segala keterbatasan yang ada. “Bangun pelan-pelan,” katanya.
Rencananya, kata dia, saat ini juga ada pembangunan lagi di depan masjid tak jauh dari lokasi. Yakni sarana untuk anak balita. “Kelasnya ya masih di musala dan di teras,” kata Alif. (*/mal) Editor : Ali Mustofa