MENGUNJUNGI Gua Maria Sendang, pengunjung harus mendaki bukit dengan jalan setapak. Sebab, jalannya setapak. Pengunjung terlebih dulu harus parkir di lapangan voli yang berada di bawah bukit.
Setelah itu, berjalan sejauh sekitar 500 meter menaiki bukit. Meski disuguhi pemandangan bukit dari ketinggian, sepanjang menapakkan kaki harus tetap fokus dan berhati-hati. Lantaran harus melewati susunan anak tangga penghubung.
Sepanjang jalan juga disuguhkan adanya bangunan stasi salib yang didesain dengan arsitektur unik. Menyerupai gunungan wayang. Hingga akhirnya di puncak akan bertemu dengan patung Yesus disalib, Bunda Maria, dan La Pieta. Tanpa dipungut biaya apapun, pengunjung sudah bisa menikmati keunikan Gua Maria di atas bukit ini.
Awal sampai di lokasi itu, wartawan koran ini, merasa singup. Sebab, lokasinya kurang terurus. Bangunan ini berada di tanah milik KRPH Desa Gelapan. Namun, yang memiliki hak pakai Gereja Penadaran. Kondisi itu membuat pengembangan terhambat.
Pengurus Gua Maria Sendang Jati Penadaran Paulus Mangin mengatakan, patung bunda Maria berdiri sejak 1980 yang diperbaiki pada 2008 saat Hari Pangan Sedunia. Saat itu, dilakukan peresmian dan pemberkatan Gua Maria.
Pendirian Gua Maria di puncak hutan itu, awalnya karena mayoritas penduduk di Desa Penadaran adalah pemeluk agama Katolik. Maka dibangunlah tempat ziarah di sana. Gua Maria sebagai salah satu tempat suci penduduk di sana. Bahkan, dulu di sana ada sendang yang dipercaya menjadi air suci. Biasanya digunakan umat Katolik dalam acara pembaptisan.
Seiring berkembangnya waktu, Gua Maria seakan tak berkembang. Bahkan, hanya dibersihkan sepekan sekali oleh penjaga yang piket setiap pekan. ”Kalau hari-hari biasanya memang sepi. Seakan kurang terurus. Namun, di hari tertentu ramai ada kegiatan, seperti saat bulan Maria tepatnya pada Mei dan Rosario pada Oktober,” imbuhnya.
Sedangkan Natal seperti ini, kegiatan difokuskan di gereja. Meski begitu, ada beberapa pengunjung yang berziarah dan berdoa di Gua Maria. Sayangnya keberadaan Gua Maria ini tidak banyak diketahui, karena lokasinya yang sulit dijangkau. (lin) Editor : Ali Mustofa