ANDRE FAIDHIL F, Pati, Radar Kudus
Foto-foto kenangan masa kejayaan Suryanto itu dibungkus dengan figura berwarna hitam. Terpajang di ruang keluarga. Kisaran lima hingga tujuh foto ditempel di dinding mengitari ruangan 4x5 meter persegi itu. Kenangan lainnya dipajang di kamarnya.
“Lho itu kok mirip gogon pelawak. Itu dimana?” tanya wartawan ini sambil menunjuk foto itu. “Iya itu adiknya. Pentas bareng saya. Kalau tidak salah waktu itu di Solo. Agak lupa saya. Sudah 10 tahun lebih soalnya,” terang pelawak itu.
Wartawan ini diajak ngobrol di halaman rumahnya di Desa Wangunrejo, Margorejo itu. Di sana ada 15 tanaman bonsai dan empat kandang burung. Ya, itulah kesibukan Suryanto selama pandemi ini. “Tidak ada kegiatan jadi mengisi waktu dengan itu. Cari tanaman di hutan,” ujar pria usia 52 tahun itu.
Suryanto ini lebih dikenal dengan Genjik. Itu nama panggungnya yang selama ini. “Istri saya baru tahu kalau nama saya Suryanto. Itu setelah nikah. Nama itu sudah hilang. Tahunya ya Genjik,” ucapnya dengan tawa lebar.
Di panggung sandiwara, dia terkenal sebagai gareng. Peran ini sudah digelutinya selama 10 tahun ini. Mulai dari ketoprak, wayang, hingga campursari dimainkan. “Kalau pentas di Jateng sudah merata. Selain itu, Jawa Timur juga kerap. Jakarta juga pernah,” paparnya mengenang masa sebelum pandemi.
Sebelum pagebluk, Genjik terbilang sering dapat panggilan job. Apalagi di Syawal hingga Besaran full pentas. “Sebelum pandemi ya luar biasa. Losdol. Tiga bulan tanpa henti itu,” tandangnya.
Terakhir pentas di Desa Beketel, Kayen. Selama dua tahun ini baru itu pada 20 dan 27 Oktober 2021 ada pentas. “Main campur sari dan wayang kulit di sana dua hari. Harga korona ini Rp 500 ribu per hari. Biasanya jutaan rupiah,” jelasnya.
Selain menjual barang untuk bertahan hidup, Genjik juga pernah bekerja memasang kubah masjid, supir trek, tukang batu, hingga tukang parkir. Serabutan.
Pekerjaan yang digeluti saat ini ialah tukang parkir. Itu di warung kerang yang tak jauh dari rumahnya. Biasanya pukul 17.00 hingga pukul 21.00 dia mulai menarik receh di parkiran. Menggunakan sepeda motor tuanya dia ke sana. “Sudah tujuh bulan menjadi tukang parkir. Biasanya, goyang tangan kanan-kiri dapat saweran. Ini goyang tangan hanya mendapat Rp 2 ribu,” ucap ayah dari empat orang anak itu.
Selama ini, dia mendapat beras 10 kilogram dari pemerintah. Beras itu tak cukup memenuhi kebutuhannya.
“Jujur saja. Pemerintah ini kejam. Tidak ada solusi. Saya tahu bagaimana kondisi krisis moneter dulu. Tetapi justru lebih parah ini. Tak hanya ekonomi, agama saja kalah. Haji tidak diperbolehkan,” katanya dengan nada lantang. (mal) Editor : Saiful Anwar