Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Terkadang Ikut Tahlilan, Tidak Dicap Ateis Lagi

Ali Mustofa • Senin, 15 Februari 2021 | 17:46 WIB
BERSANTAI: Soesilo Toer membaca koran Jawa Pos Radar Kudus edisi kemarin.  (Subekan/Radar Kudus)
BERSANTAI: Soesilo Toer membaca koran Jawa Pos Radar Kudus edisi kemarin. (Subekan/Radar Kudus)
Soesilo Toer menderita sejak dijebloskan ke penjara sepulang dari Rusia. Stigma buruk terus menempel pada dirinya. Akibatnya dirasakan sampai sekarang.

NOOR SYAFAATUL UDHMA, Blora

Soesilo Toer tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya. Dia  berdiri. Mau membuka ritsleting celana. Di depan wartawan koran ini. Tangannya yang keriput sudah memegang kepala ritsleting. Istrinya Suratiyem seolah memberi restu. Dia tersenyum. Seandainya wartawan koran ini tidak keberatan dia betul-betul membukanya.

Eks tahanan politik (tapol) 1965 itu hendak mempraktikkan peristiwa yang pernah  dialami. Tahunnya dia lupa. Yang pasti tidak lama setelah terjadi krisis moneter. Saat itu dia diarak massa. Disoraki PKI, PKI, PKI. ”Saya bilang saya bukan PKI. Kalau tak percaya, ini buktinya,’’  ujarnya.

Saat itu dia langsung membuka celana. Barangnya gondal-gandul. Menjadi tontonan massa. Termasuk ibu-ibu juga. ”PKI itu pakai kolor item. Saya kan nggak pakai kolor item,’’ ujarnya. Dia masih berani bercanda di tengah massa yang beringas. Justru dengan candaan itulah massa akhirnya tenang. Kejadian itu masih membekas sampai kini.

Ceritanya, saat itu di Bekasi. Banyak orang menduduki tanah negara. Dia ikut-ikutan. Dia bikin rumah di atas tanah itu. Atas seizin pengguna tanah sebelumnya. Di situ pula dia membuka warung kelontong. Tiba-tiba dia digusur. Alasannya, karena tapol dan berhubungan dengan PKI. Mula-mula hanya warungnya. Kemudian rumahnya juga.

Yang lebih menyedihkan dia diarak massa. Dia dituding antek komunis, sama dengan kakaknya Pramoedya Ananta Toer. Setelah kejadian itu, dia memboyong istri dan anak satu-satunya Benee Santoso pindah ke Blora. Mereka menempati lagi rumah masa kecilnya di Jalan Sumbawa sampai sekarang.

Soesilo merasa selalu dikait-kaitkan dengan kakaknya tersebut. Padahal, dia bukan adik langsung di bawahnya. Pramoedya anak pertama. Dia anak  kedelapan dari sembilan bersaudara. ”Pokoknya kalau Pram merah, adiknya juga merah. Bila Pram kiri, adiknya juga kiri. Kalau Pram ditahan, adiknya juga ditahan,” kata Soesilo mengenai stigma buruk yang menempel pada diri dan kakaknya.

Pram –panggilan Pramoedya- dituding kiri karena tulisan-tulisannya.  Dia ditangkap Belanda karena dianggap memelopori warga Indonesia untuk menentang Belanda. Lewat cerpennya yang berbau nasionalis.

Pada masa Orde Lama, Pram juga digebuk lantaran mengkritik pemerintah yang Jawa sentris.  Saat Orde Baru, hidup Pram lebih tragis. Dia dianggap berhubungan dengan PKI. Akibatnya dia dipenjara empat tahun di Nusakambangan dan 10 tahun di Pulau Buru. ”Pokoknya  kalau Pram PKI, adiknya juga PKI,” kelakarnya.

Dia tidak memungkiri, memang menyukai ajaran Marxisme-Leninisme. Ajaran komunis di Rusia. Namun bukan berarti dirinya menganut partai komunis. Sebab, suka bukan berarti terlibat di dalamnya. Tetapi yang tersiar, dia dianggap kiri. Dianggap berhubungan dengan PKI.

Sejak di Rusia Soesilo sudah dikait-kaitkan dengan PKI. Ceritanya, pasca G 30 S/PKI, ada tahlil di Keduataan Indonesia di Moskow untuk mendoakan para jenderal yang menjadi korban kekejaman PKI. Soes tidak hadir. Dia dianggap pro PKI dan menentang pemerintah Indonesia. Paspornya dicabut.  ”Gimana mau hadir? Undangannya gak ada,’’ bela Soes.

Karena tidak memiliki paspor, dia dipulangkan. Nah, saat mendarat di Jakarta dia ditangkap. Langsung dijebloskan ke penjara. Menjadi tahanan politik tanpa pengadilan seperti kakaknya. Selama tiga tahun.

Kakak-kakak Soes seperti Prawito Toer dan Koesalah Soebagyo Toer juga mengalami hal serupa. Mereka sama-sama ditahan. Sedangkan adiknya, Soesetyo Toer kabur ke Papua. Tepatnya setelah meletus peristiwa 1965. ”Kabur ke Papua biar tidak ditangkap. Dia juga ganti nama. Hingga saat ini kami tidak tahu kabarnya,” tuturnya.

Perlakuan terhadap Soes itu berlanjut sampai di Blora. Yang paling menyakitkan, misalnya, suatu saat dirinya didiagnosis menderita pembesaran prostat. Dokter mengatakan, jika tidak dioperasi dirinya akan meninggal. Untuk itu dokter menyarankan agar dirinya berobat ke Semarang. Ternyata di Semarang ditolak. Hingga empat kali. Alasannya karena dianggap kaya. ”Masak sarjana miskin,” kata Soes menirukan alasan pihak rumah sakit.

Perawat di Semarang itu kemudian meminta Soes berobat di Blora. Dia dan istri itu kembali ke kampung halamannya. ”Padahal, sebelumnya saya sudah berobat di Blora kemudian diminta ke Semarang. Di Semarang disuruh balik lagi ke Blora. Pokoknya saya ini dikucilkan,” katanya.

Tak hanya mendapat cap kiri, dia juga dianggap tidak percaya adanya Tuhan alias ateis. Namun dia tidak ambil pusing. ”Setiap tahun ada sekitar 1,5 juta manusia yang lahir sebagai ateis. Percaya atau tidak?” tanyanya. ”Semua manusia yang baru lahir tentu belum bertuhan. Mereka kemudian mencari Tuhan,” katanya.

Soes tidak percaya ada orang ateis di Indonesia. Termasuk dirinya dan Pram sekalipun. Perhatikan saja semua orang pernah berdoa. Mereka menyebut Tuhan dalam doanya. ”Oh Tuhan, kalau saya masih dibutuhkan, beri saya hidup. Kalau sudah tidak dibutuhkan, maka cabut nyawa saya sekarang.” Dia mengucapkan doanya itu di depan wartawan koran ini. ”Saya berdoa menggunakan bahasa Indonesia,’’ tambahnya.

Baginya, soal agama itu tergantung penafsiran orang. ”Saya agamanya apa?” dia malah bertanya. Wartawan koran ini menggeleng-geleng kepala. Bagi Soes, agama bukan perkara pakaian. Bukan pula perkara pemikiran. Tetapi hubungan spiritual dengan Sang Pencipta. Sifatnya intim.

Lantas agama Soes sebenarnya apa? Dia tertawa. Istrinya yang mendampingi hanya diam. Di KTP agama Soes tertulis Islam. ”Itu yang menulis kan petugas. Biar saja,” tutur lelaki yang pernah menjadi rektor di Universitas Bhakti Pertiwi, Bekasi, 1998.

Dia tidak mempermasalahkan agama di KTP itu meskipun lebih cocok Buddha. Baginya ajaran Dharma sejalan dengan kehidupannya. Hal itulah yang memengaruhi perilaku spiritualnya. ”Kalau Pram Islam asli. Nah, kalau saya Islam turunan atau islam KTP-lah,” terangnya cengengesan.

Photo
Photo
BERSAMA ISTRI SOESILO: Istri Soesilo Toer Suratiyem (kerudung cokelat susu) sedang menjelaskan buku karangan suaminya kepada wartawan Noor Syafaatul Udhma.

Istri Soes, Suratiyem yang saat itu memakai kerudung cokelat susu hanya tersenyum. Dia memastikan ateis itu hanya perkara sudut pandang orang. Meski awalnya sempat tidak terima, dia akhirnya terbiasa dan menganggap lumrah. Sesekali Suratiyem ikut pengajian kalau mendapat undangan dari tetangganya.

Dulu, Soes sempat tidak hadir dalam acara tahlilan yang digelar tetangganya. Makanya dikira ateis. Padahal tidak. ”Sekarang  sih tidak dibilang ateis lagi. Sebab, kadang-kadang ikut tahlilan. Ikut kumpul tetangga juga,” ungkap perempuan asli Sleman ini. (Bersambung/aji) Editor : Ali Mustofa
#soesilo toer #pramoedya ananta toer #blora #doktor pemulung sampah