Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Gubuk Karya, Tempat Pemuda Menggemakan Permainan Tradisional

Saiful Anwar • Sabtu, 28 Juli 2018 | 00:14 WIB
KEMBALI KE TRADISI: Aksi anak-anak Desa Honggosoco, Kecamatan Jekulo, berlomba balap karung dalam acara launching Gubuk Karya. (GUBUK KARYA FOR RADAR KUDUS)
KEMBALI KE TRADISI: Aksi anak-anak Desa Honggosoco, Kecamatan Jekulo, berlomba balap karung dalam acara launching Gubuk Karya. (GUBUK KARYA FOR RADAR KUDUS)
Demam gadget sudah merambah anak-anak. Permainan tradisional kian terlupakan. Melihat kenyataan itu, sepuluh pemuda Desa Honggosoco, Kecamatan Jekulo, menggagas Gubuk Karya. Yakni, untuk menggemakan lagi permainan tradisional ke anak-anak.

SAIFUL ANWAR, Kudus

KERESAHAN itu sudah lama. Anak-anak zaman sekarang, mulai balita sudah akrab dengan gadget dan smartphone atau telepon pintar. Tidak hanya permainan virtual, mereka asyik masuk dengan media sosial. Padahal, banyak konten yang seharusnya belum saatnya mereka lihat.

Melihat fenomena itulah, sepuluh pemuda Desa Honggosoco, Kecamatan Jekulo, bertekad untuk mengembalikan “dunia asli” anak-anak. Empat di antaranya, M. Rifki, Nur Hasan, Robit Assadani, dan Anggita Abimanyu. Mereka adalah mahasiswa di Kudus. Sedangkan lainnya, Dowi Maulana, Muh Jalil, Khoirul Anwar, Roni Lawamena, Adi Saputro, dan Agus. Mereka ini pemuda setempat dari kalangan pelajar dan pekerja.

Konsep Gubuk Karya mulai diobrolkan sejak Ramadan lalu di sebuah warung kopi. Mereka merancang serangkaian acara untuk launching Gubuk Karya pada Hari Anak Nasional yang diperingati setiap 23 Juli.  Sekitar dua bulan, sepuluh pemuda itu mengonsep serangkaian acara untuk launching.

Namun, 22 Juli lalu Gubuk Karya yang berlokasi di RT 1 RW 5, Desa Honggosoco Kecamatan Jekulo, di-launching. Acara digelar sehari sebelum Hari Anak Nasional. Sebab, mereka memilih hari libur.

”Kami buat acara sedemikian rupa selama sehari itu. Pagi sampai sore ada lomba egrang, gobak sodor, betengan, balap karung, dan lain-lain. Kami juga buka lapak buku di situ,” tutur M. Rifqi, salah satu pegiat Gubuk Karya.

Setelah selesai sesi lomba yang digelar hingga sore itu, sehabis magrib digelar pengumuman pemenang lomba. Lalu setelah isya, mereka berkumpul lagi untuk pentas seni. Ada pentas musik, teater, pembacaan puisi, hingga pantomim.

Pada pementasan itu, anak-anak sekitar turut ambil bagian. Pesan yang ingin disampaikan dalam pementasan itu, sesuai semangat diadakannya Gubuk Karya ini. Yakni, anak-anak kembali kepada permainan tradisional.

”Di pementasan itu, ada kami yang sudah dewasa, main permainan tradisional. Lalu anak-anak kami ajak untuk ikut bermain, jangan hanya sibuk main gadget saja,” tutur Nur Hasan yang menjadi ketua panitia launching itu.

Gubuk Karya menggunakan areal perkebunan yang tidak terpakai milik paman M. Rifki.  Lokasinya berada di samping rumahnya. Di areal kebun berukuran 5x10 meter itu terdapat gazebo sederhana yang biasa digunakan tempat mengobrol.

Ada tulisan menarik. Yakni “Dilarang Berkata Kotor Di Sini”. M. Rifqi yang juga kerap disapa Acong itu menerangkan, siapa saja yang berkata kotor atau kurang sopan wajib menyanyikan lagu anak-anak saat itu juga.

”Kalau misal yang ketahuan ngomong kotor orang dewasa, mereka yang anak-anak langsung mengingatkan. Dengan kesadaran, harus nyanyi. Bisa ‘Bintang Kecil’, ‘Balonku Ada Lima’, ‘Pelangi-Pelangi’, atau yang lain,” tutur mahasiswa Manajemen Bisnis Syariah IAIN Kudus ini.

Kini, agenda terdekat Gubuk Karya untuk perayaan Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus mendatang. Konsepnya tak jauh-jauh dari lomba tradisional dan pementasan karya musik, puisi, dan teater. ”Apalagi ada anak-anak yang tampak punya ketertarikan khusus dengan teater,” paparnya. Editor : Saiful Anwar
#gubuk karya #gadget #Kudus