RADAR KUDUS – Raksasa ritel fesyen asal Swedia, Hennes & Mauritz (H&M), mengumumkan rencana strategis yang cukup mengejutkan pasar global.
Perusahaan tersebut secara resmi mengonfirmasi akan menutup sekitar 160 gerai fisik mereka di seluruh dunia secara permanen sepanjang tahun 2026.
Langkah ini diambil sebagai respons terhadap pergeseran drastis perilaku konsumen yang kini kian meninggalkan toko fisik demi kemudahan belanja daring.
Penutupan ratusan toko ini bukanlah pertanda kebangkrutan, melainkan bagian dari program optimalisasi portofolio toko dan efisiensi operasional besar-besaran.
H&M tengah berupaya merombak model bisnisnya agar tetap relevan di tengah persaingan ketat industri fast fashion yang kini didominasi oleh platform e-commerce.
Pihak manajemen menyatakan bahwa fokus perusahaan kini bergeser pada penguatan kanal digital. Saat ini, penjualan melalui platform daring telah memberikan kontribusi signifikan, yakni mencapai sekitar 30% dari total pendapatan global perusahaan.
H&M berambisi untuk terus memperbesar angka tersebut dengan mengalihkan investasi dari pemeliharaan gedung fisik ke pengembangan teknologi dan logistik digital.
Dalam laporan keuangan terbarunya, H&M mengakui bahwa pemangkasan jumlah toko fisik ini membawa konsekuensi yang tak terhindarkan.
Penutupan gerai di berbagai lokasi strategis tersebut diprediksi akan memberikan dampak negatif pada angka penjualan total dalam jangka pendek.
"Optimalisasi portofolio toko memang berdampak langsung pada penurunan penjualan jangka pendek.
Namun, ini adalah langkah penting untuk meningkatkan profitabilitas jangka panjang dan memastikan efisiensi di setiap titik operasional yang kami miliki," tulis manajemen H&M dalam pernyataan resminya.
Keputusan H&M ini mencerminkan tren yang lebih luas di industri ritel global, yang sering disebut sebagai transformasi besar pascapandemi.
Baca Juga: Darurat Narkotika Jenis Baru: BNN Usulkan Larangan Vape Menyusul Temuan Liquid Berbahaya
Banyak pemain besar lainnya juga mulai merampingkan jumlah toko mereka dan mengubah gerai fisik yang tersisa menjadi toko konsep yang lebih mengedepankan pengalaman pelanggan daripada sekadar tempat transaksi.
Dengan penutupan ini, H&M berencana hanya mempertahankan toko-toko yang dinilai memiliki performa keuntungan paling tinggi serta berada di lokasi yang sangat strategis.
Transformasi ini menandai babak baru bagi industri fesyen dunia, di mana kecepatan distribusi digital kini menjadi kunci utama kemenangan dalam merebut hati konsumen global. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna