TENIS kini tak hanya dipandang sebagai olahraga, tapi juga gaya hidup yang kian digemari kalangan muda. Dari raket edisi terbatas hingga sepatu khusus dengan teknologi mencegah cedera, perlengkapan tenis seolah jadi bagian penting dalam mengekspresikan diri di lapangan.
Salah satunya pemakaian raket yang kini bukan hanya soal fungsi, melainkan juga prestise. Hal itu dirasakan Petra Paramita, pegiat tenis asal Grobogan. Ia mengaku mulai serius berinvestasi pada perlengkapan sejak menjadikan tenis sebagai rutinitas bersama sang suami.
“Kalau aku pakai raket brand Wilson limited edition bertema Sakura. Untuk harganya sekitar Rp 4 juta. Suami malah pakai yang Rp 6 juta. Memang ada yang lebih murah mulai Rp 1,5 juta, tapi rasanya beda kalau punya edisi spesial,” ujarnya.
Baginya, raket tak hanya alat pukul bola, melainkan simbol personal style yang membuat permainan terasa lebih istimewa.
Secara teknis, pemilihan raket memang punya aturan berbeda untuk tiap pemain. Bagi perempuan pemula, raket berbobot 255–270 gram dengan ukuran kepala 110 inci lebih ideal untuk keseimbangan.
Sementara untuk laki-laki, bobot di atas 290 gram dengan ukuran kepala 104 inci memberikan kekuatan sekaligus kontrol lebih besar. Namun pada praktiknya, banyak yang juga mempertimbangkan faktor gaya dan tren edisi terbatas saat memilih raket.
Selain raket, sepatu juga tak kalah penting. Lapangan tenis yang keras membuat sol sepatu harus tebal dan kuat, dengan penyangga samping untuk melindungi pergelangan kaki.
“Kalau sepatunya pas, main juga lebih percaya diri. Jadi bukan cuma soal gaya, tapi kenyamanan dan keamanan juga,” tambahnya.
Pemilihan warna dan desain pun kini semakin dianggap bagian dari fashion statement bagi para pemain tenis, layaknya sneakers di kehidupan sehari-hari.
Rutinitas Petra bersama suami kian terasa lengkap dengan latihan private bersama coach. Meski biayanya Rp 400 ribu per sesi, ia menilai hasilnya sepadan karena teknik lebih cepat berkembang.
Lapangan pun turut berperan dalam pengalaman bermain. Ada tiga jenis lapangan tenis—rumput, tanah liat, dan keras. Dari ketiganya, lapangan keras paling umum digunakan karena pantulan bola lebih konsisten, cocok untuk pemula maupun profesional.
Tak jarang, lokasi lapangan yang strategis dan estetik juga ikut dipilih demi menunjang nuansa lifestyle bermain tenis.
Untuk lapangan, ia biasa berlatih di Semarang, terutama saat perlu servis senar raket. Namun ketika di Purwodadi, ia kerap bermain di lapangan rumah dinas bupati. “Kalau lapangan umum, biasanya sekitar Rp 50 ribu sampai Rp100 ribu per jam. Tapi aku jarang pakai,” katanya.
Bagi Petra, tenis telah menjadi bagian dari gaya hidup. Selain menyehatkan, olahraga ini juga menghadirkan kebersamaan dengan pasangan. “Kalau olahraga bareng suami tuh lebih semangat dan konsisten. Jadi tenis buatku bukan cuma olahraga, tapi quality time juga,” tutupnya. (int)
Editor : Ali Mustofa