Eni Zunita perajin bordir di Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, mukena bordir yang dibuatnya itu sesuai pesanan. Model rancangan motif yang ia kembangkan mendominasi bunga dan warna cenderung shof atau kalem. Untuk pemilihan kain dari jenis katun, rayon dan kain sutera. Mulai premium hingga kelas biasa.
”Saya baru saja mengerjakan pesanan mukena bordir icik dengan kombinasi terancang gunting plus kain sutera. Pesanan pengusaha di luar Jawa, saya jual dengan harga Rp 5 juta. Saya masih ada satu sample,” ujarnya.
Kenapa mahal? Pengerjaan mukena bordir icik apalagi ditambah ada kombinasi terancang gunting membutuhkan waktu dua minggu lebih. Pembuatan bordirnya manual dan lebih “Jlimet” ada terancang gunting, harus benar-benar berhati-hati.
Eni menambahkan, model terancang ini bordir icik tapi bentuknya yang bolong-bolong. Menggunakan dua metode, dengan cara di gunting dan solder. Maka, mukena bordir icik tergolong mahal.
Ada beberapa harga mukena bordir buatannya. Ada yang harga Rp 217 ribu, tentunya jumlah bordirnya sedikit. Kalau harga Rp 400 ribuan menggunakan bahan rayon premium dengan motif bordir icik biasa.
”Kalau untuk pemilihan warna cenderung yang kalem. Lebih suka kombinasi warna putih dengan pink. Dan, corak bunganya lebih cenderung yang kecil-kecil,” jelasnya.
Eni tiap bulannya membuat 100 pcs mukena bordir, namun saat memasuki puasa stok bulan lalu sudah habis terjual dan saat ini kembali memproduksi lagi. Khusus mukena yang harganya Rp 1 juta keatas pesan lebih dulu.
”Saya hanya membuat mukena bordir yang harganya standar antara Rp 200 ribuan hingga Rp 600 ribu. Puasa bukan berarti saya membuat stok lebih, saya tetap buat 100 pcs seperti hari-hari biasa, tinggal penjualannya yang lumayan cepat habis,” ungkapnya. (san/him) Editor : Ali Mustofa