RADAR KUDUS – Penampilan terbaru selebritas serba bisa, Rina Nose, belakangan ini mencuri perhatian publik.
Tampil dengan wajah yang dinilai lebih seimbang dan proporsional, Rina akhirnya buka suara mengenai transformasi fisiknya.
Bukan keputusan instan, prosedur bedah plastik yang dijalaninya merupakan buah pertimbangan matang selama lebih dari satu dekade.
Melalui penjelasan panjang, Rina Nose menegaskan bahwa langkah ini diambil demi kenyamanan dan estetika pribadi, sekaligus membedah persepsi publik yang sering kali keliru mengenai operasi plastik.
Pertimbangan 10 Tahun dan Riset Mendalam
Bagi Rina, mengubah bagian wajah—terutama hidung yang telah menjadi trademark namanya di industri hiburan—bukanlah perkara mudah.
Ia memandang operasi plastik sebagai keputusan etis dan estetis yang rumit, melibatkan aspek biologis hingga perhitungan rasio geometri wajah.
"Bagi saya, operasi plastik bukan sekadar prosedur untuk mengubah penampilan, apalagi cuma ingin ikut-ikutan," tulis Rina melalui akun Instagram pribadinya.
Ia menjelaskan bahwa proses ini melibatkan pemahaman struktur tulang, kulit, dan fungsi jaringan agar tidak berdampak buruk pada kesehatan di masa depan.
Menggandeng dr. Tompi dan Alasan "Local Pride"
Dalam urusan tindakan, Rina memercayakan wajahnya kepada pakar dalam negeri.
Ia memilih dr. Teuku Adifitrian, Sp.BP-RE (Tompi) untuk prosedur hidung, serta dr. Puti Adla Runisa, Sp.BP-RE untuk pengencangan bagian bawah mata di klinik Beyoutiful, Bintaro.
Selain alasan kedekatan lokasi dan semangat local pride, Rina memiliki alasan spesifik memilih dr. Tompi. "Beliau sudah lama mengenal trademark hidung saya.
Berdasarkan riset, beliau sering menangani bentuk hidung yang sejenis dengan saya dan hasilnya sangat natural," ungkapnya.
Rina juga memberikan edukasi kepada pengikutnya mengenai istilah "bedah plastik" yang sering disalahartikan.
Ia menekankan bahwa tidak ada material plastik (seperti bahan botol atau ember) yang digunakan. Istilah "plastik" berasal dari bahasa Yunani plastikos yang berarti "membentuk" atau "mencetak".
Meski menyadari keputusannya memicu diskusi di ruang publik, Rina mengaku puas dengan hasil akhir yang membuatnya lebih percaya diri.
Ia menyoroti bahwa proses pemulihan bukan hanya soal fisik, tapi juga mental.
"Dalam proses pemulihan, ini juga melibatkan faktor psikologis. Kesabaran, kehati-hatian, kedisiplinan, serta dukungan lingkungan sangat memengaruhi sampai hasil akhir yang umumnya memakan waktu 6 hingga 12 bulan," tambahnya.
Kini, dengan tampilan yang lebih fresh dan anggun, Rina Nose membuktikan bahwa perubahan fisik yang dilakukan dengan riset mendalam dan tangan profesional dapat memberikan harmoni baru tanpa menghilangkan karakter jati diri. (*)
Editor : Ali Mustofa