Kostum Komidi Putar King Nassar di Pestapora 2026, Penonton: "Ini Baru Healing"

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 12:08 WIB
Kostum king Nassar saat manggung di Pestapora.
Kostum king Nassar saat manggung di Pestapora.

RADAR KUDUS - King Nassar kembali menghadirkan kejutan di panggung Pestapora 2026.

Pada penampilan hari pertama festival musik tersebut, Jumat (25/9/2026), Nassar tampil mengenakan kostum bernuansa merah putih yang dibuat menyerupai wahana komidi putar atau carousel.

Penampilan tersebut menjadi salah satu daya tarik tersendiri ketika Nassar naik ke panggung Pestapora di Gambir Expo dan Hall D2 JIExpo Kemayoran, Jakarta. Bukan hanya suara dan lagu yang menjadi perhatian, busana yang dikenakannya juga langsung mengundang sorotan penonton.

Kostum yang digunakan Nassar memiliki bentuk tidak biasa. Bagian luar busananya menyerupai atap wahana komidi putar yang mengembang. Sejumlah ornamen berbentuk kuda ditempatkan pada bagian badan hingga menggantung di sisi bawah kostum, sehingga membuat sosok Nassar tampak seperti bagian dari wahana karnaval.

Konsep tersebut melanjutkan tradisi Nassar menghadirkan penampilan panggung yang berbeda setiap kali tampil di Pestapora. Sebelumnya, ia pernah melakukan aksi yang tak kalah mencuri perhatian, mulai dari memanjat tiang panggung hingga muncul dari dalam properti berbentuk nanas raksasa.

Namun, kali ini Nassar memilih pendekatan berbeda. Alih-alih menggunakan properti besar sebagai kejutan utama, ia menjadikan kostum sebagai bagian penting dari konsep pertunjukannya.

Begitu muncul di panggung, penampilan tersebut langsung mendapat respons dari penonton. Sejumlah penonton tampak terhibur melihat kostum Nassar yang penuh ornamen. Suasana semakin meriah ketika pedangdut tersebut mulai berinteraksi dengan penonton.

Nassar membuka penampilannya dengan lagu "Lima Menit Lagi". Di tengah aksinya, ia sempat meminta penonton memberikan penilaian terhadap busana yang dikenakannya.

"Bagaimana bajunya? Suka? Love it? Like it?" kata Nassar dari atas panggung.

Pertanyaan tersebut langsung dibalas dengan sorakan penonton. Interaksi sederhana itu menjadi bagian dari karakter penampilan Nassar yang tidak hanya mengandalkan lagu, tetapi juga komunikasi dan aksi teatrikal di atas panggung.

Setelah membuka pertunjukan, Nassar melanjutkan penampilan dengan membawakan sejumlah lagu dangdut yang sudah dikenal luas. "Ikan Dalam Kolam" dan "Gejolak Asmara" menjadi dua lagu berikutnya yang mengajak penonton bernyanyi sekaligus bergoyang bersama.

Energi panggung Nassar tidak berhenti pada kostumnya. Ia tetap tampil aktif dan komunikatif sepanjang pertunjukan. Dengan demikian, konsep busana dan musik berjalan beriringan sebagai bagian dari sebuah pertunjukan hiburan.

Setelah membawakan beberapa lagu, Nassar kemudian melepas bagian luar kostum yang menyerupai atap komidi putar. Momen tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi Nassar untuk menjelaskan alasan di balik kebiasaannya menggunakan busana yang tidak biasa saat tampil.

Menurut Nassar, dirinya ingin memberikan pengalaman yang sepadan kepada penonton yang telah membeli tiket dan datang secara khusus untuk menyaksikan pertunjukan.

"Kalau ada yang nanya, kenapa Nassar dandanannya selalu aneh-aneh? Saya ingin memberikan kepuasan untuk orang yang beli tiket," kata Nassar.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa bagi Nassar, penampilan di sebuah festival bukan sekadar menjalankan kewajiban sebagai pengisi acara.

Ia memandang busana, lagu, suara, hingga aksi panggung sebagai bagian yang harus dipersiapkan secara keseluruhan.

Nassar juga menekankan pentingnya memperhatikan berbagai aspek ketika seorang artis tampil di hadapan penonton.

Ia menyebut sejumlah unsur yang menurutnya perlu diperhatikan, mulai dari pakaian hingga materi musik dan aksi di atas panggung.

"Setiap kita diundang orang itu kita harus memperhatikan segalanya. Dari atas sampai bawah, persembahan, lagu, baju, suara, hobah-hobah," ujar Nassar.

Bagi penonton yang datang ke festival musik, pendekatan seperti itu membuat penampilan Nassar memiliki ciri tersendiri.

Ia tidak hanya menawarkan pertunjukan musikal, tetapi juga menghadirkan elemen visual yang menjadi bagian dari identitas panggungnya.

Hal tersebut juga menjelaskan mengapa Nassar konsisten menghadirkan konsep berbeda ketika mendapat kesempatan tampil di Pestapora.

Setiap tahun, ia berusaha memberikan sesuatu yang baru sehingga penampilannya tidak berhenti pada daftar lagu yang dibawakan.

Nassar mengatakan Pestapora memiliki arti tersendiri karena tahun 2026 menjadi tahun kelima dirinya tampil dalam festival tersebut.

"Ini tahun kelima saya di Pestapora, tepuk tangan untuk Pestapora," ujar Nassar.

Ia juga memberikan apresiasi kepada Boss Creator selaku penyelenggara Pestapora yang telah memberikan kepercayaan kepadanya untuk tampil selama lima tahun berturut-turut.

Menurut Nassar, hubungan antara artis dan penonton merupakan bagian penting dari sebuah pertunjukan.

Kehadiran penonton dan dukungan penggemar menjadi alasan bagi seorang artis untuk memberikan penampilan terbaik ketika berada di atas panggung.

"Artis kalau enggak ada yang nonton, enggak ada fans, enggak jadi apa-apa. Jadi kita harus bisa memberikan kepuasan untuk fans," katanya.

Setelah melepas bagian luar kostum komidi putar, Nassar kembali melanjutkan pertunjukan dengan sejumlah lagu dangdut. "Kopi Dangdut" dan "Kereta Malam" menjadi bagian dari lagu yang dibawakan untuk menghidupkan suasana festival.

Pilihan lagu tersebut sekaligus mempertegas karakter Nassar sebagai salah satu penampil dangdut yang mampu membawa musiknya ke panggung festival dengan audiens yang beragam.

Kehadiran Nassar menjadi salah satu warna berbeda dalam Pestapora 2026. Festival tersebut berlangsung selama tiga hari, mulai 25 hingga 27 September 2026, dengan menghadirkan 330 penampil yang tersebar di 19 area pertunjukan.

Pada hari pertama, sejumlah nama dari berbagai genre musik juga tampil. Mereka di antaranya Vierratale, Juicy Luicy, Rizky Febian, Kerispatih X Sammy Simorangkir, Whisnu Santika, Fiersa Besari, Killing Me Inside Reunion, Aldi Taher Gallagher, Tompi, Ari Lasso, Idgitaf, Danilla, Reality Club, Shaggy Dog, Goodnight Electric, dan The Cangcuters.

Di tengah keberagaman genre dan karakter musisi tersebut, penampilan Nassar menunjukkan bagaimana musik dangdut dapat menjadi bagian dari festival musik dengan konsep pertunjukan yang luas.

Ia membawa karakter khasnya melalui perpaduan musik, interaksi dengan penonton, serta tampilan visual yang sengaja dibuat mencolok.

Kostum komidi putar yang dikenakan Nassar akhirnya bukan sekadar pakaian panggung.

Busana tersebut menjadi bagian dari konsep pertunjukan yang dirancang untuk memberikan pengalaman berbeda bagi penonton.

Jika pada penampilan sebelumnya Nassar mengejutkan penonton dengan tiang panggung atau properti nanas raksasa, Pestapora 2026 menghadirkan cerita lain: King Nassar muncul sebagai bagian dari sebuah komidi putar.

Bagi Nassar, kejutan semacam itu merupakan cara untuk menghargai penonton yang telah menyempatkan waktu dan mengeluarkan biaya untuk hadir di festival.

Sementara bagi penonton, konsep tersebut menjadi salah satu momen yang membuat penampilan King Nassar mudah diingat di tengah padatnya rangkaian Pestapora 2026.

Editor : Mahendra Aditya
King Nassar Pestapora 2026 kostum King Nassar penampilan King Nassar King Nassar Pestapora 2026