RADAR KUDUS - Yura Yunita kembali menghadirkan karya yang sarat emosi melalui lagu “Pertiwi”, yang kini dirilis bersama video musik resminya. Lagu ini ditulis oleh Donne Maula dengan notasi dari Yura Yunita, kemudian diproduksi oleh Iwan Popo.
Aransemennya dibangun megah, tetapi tetap memberi ruang bagi vokal Yura untuk menyampaikan pesan secara kuat dan personal.
“Pertiwi” membawa tema tentang keberanian untuk bersuara, terutama bagi mereka yang pernah merasa kehilangan daya untuk menyampaikan apa yang dirasakan. Lagu ini tidak diarahkan pada satu tafsir tertentu.
Pendengar dapat menghubungkannya dengan sosok ibu, pengalaman perempuan, ketidakadilan, kondisi sosial, maupun pergulatan pribadi yang pernah mereka alami.
Melalui karakter vokal Yura yang emosional, “Pertiwi” terasa seperti ajakan untuk kembali berdiri dan menemukan keberanian di tengah keadaan yang tidak selalu mudah.
Lagu ini tidak berusaha memaksakan makna kepada pendengarnya, melainkan membuka ruang agar setiap orang menemukan kisahnya sendiri. Kehadiran video musik resminya semakin memperkuat atmosfer lagu yang perlahan membangun emosi hingga mencapai titik yang menggugah.
Berikut ini Lirik Lagunya:
Pertiwi yang terluka hati
Merintih pelan dalam sepi
Perlahan coba susun hidupnya
Sulit melangkah tapi tak menyerah
Yang jujur dipeluk sunyi
Yang lantang dipaksa untuk berhenti
Kebenaran diajak menepi
Dan kuasa berpesta tanpa empati
Pertiwi, masih berdiri
Jaga harap di sisa nyali
Percayalah kau tak sendiri
Dengarlah dia bernyanyi
Itu suara kita yang menolak mati
Pertiwi harumlah pertiwi
Pertiwi tangannya gemetar
Menanti melepaskan suar
Pertiwi, masih berdiri
Jaga harap di sisa nyali
Percayalah kau tak sendiri
Dengarlah dia bernyanyi
Itu suara kita yang menolak mati
Pertiwi harumlah pertiwi
Makna Lagu Pertiwi
Lagu “Pertiwi” menggambarkan sosok yang terluka dan berada dalam situasi penuh tekanan, ketika kejujuran dibungkam, suara lantang dipaksa diam, sementara kebenaran harus menepi di tengah kekuasaan yang kehilangan empati.
Namun, luka dan ketakutan itu tidak membuat Pertiwi menyerah. Ia tetap berdiri, menyimpan harapan dan keberanian yang tersisa, sekaligus menjadi simbol suara banyak orang yang memilih bertahan dan menolak tunduk pada ketidakadilan.
Pada akhirnya, “Pertiwi” bukan hanya tentang kesedihan, tetapi juga tentang solidaritas, keberanian untuk bersuara, dan keyakinan bahwa mereka yang memperjuangkan kebenaran tidak pernah benar-benar sendiri.
Editor : Mahendra Aditya