Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

Waspada Tren 'Timpa Teks', Candaan di Medsos Bisa Berubah Jadi Hoaks Berbahaya

uinbroadcasting • Rabu, 8 Juli 2026 | 10:10 WIB
Awas timpa teks! Beredar tangkapan layar palsu mengatasnamakan Raffi Ahmad soal rekomendasi jabatan di BGN, lengkap logo media abal-abal "KOMPOS.CORN". Sebelum percaya dan share, cek dulu sumbernya
Awas timpa teks! Beredar tangkapan layar palsu mengatasnamakan Raffi Ahmad soal rekomendasi jabatan di BGN, lengkap logo media abal-abal "KOMPOS.CORN". Sebelum percaya dan share, cek dulu sumbernya

RADAR KUDUS - Belakangan ini, ruang digital di Indonesia ramai dengan tren yang dikenal sebagai "timpa teks", yakni praktik mengubah tulisan pada tangkapan layar, poster, atau gambar lain untuk dijadikan bahan candaan maupun meme.

Awalnya, tren ini hanya berkembang di kalangan komunitas internet sebagai hiburan.

Namun, seiring meluasnya penyebaran konten tersebut, tidak sedikit hasil editan yang akhirnya disalahartikan sebagai informasi asli dan memicu penyebaran hoaks.

Fenomena tersebut banyak bermula dari kebiasaan pengguna media sosial, khususnya di sejumlah komunitas Facebook, yang gemar mengedit judul berita atau teks pada gambar untuk membuat parodi.

Di dalam komunitasnya, anggota umumnya memahami bahwa unggahan itu hanyalah lelucon.

Akan tetapi, ketika konten tersebut tersebar ke luar komunitas tanpa penjelasan, banyak orang menganggapnya sebagai informasi yang benar.

Salah satu contoh yang belakangan beredar adalah tangkapan layar bergaya berita yang mencatut nama Raffi Ahmad.

Dalam gambar itu disebutkan bahwa ia merekomendasikan seseorang berinisial "Lala" sebagai calon wakil kepala Badan Gizi Nasional (BGN) kepada Presiden Prabowo Subianto.

Padahal, gambar tersebut menampilkan logo media yang sengaja dipelesetkan menjadi "KOMPOS.CORN", bukan nama media yang sebenarnya.

Perbedaan tersebut menjadi petunjuk bahwa konten itu merupakan hasil rekayasa atau parodi, bukan berita resmi.

Modus serupa juga terjadi pada sejumlah tokoh publik lainnya. Pernah beredar gambar berita yang mengubah identitas DJ Panda menjadi DJ Ohim dengan narasi palsu terkait selebgram Erika Carlina.

Selain itu, poster ceramah Mamah Dedeh juga sempat diedit dengan mengubah lokasi acara sehingga membuat sejumlah warga di Tasikmalaya datang ke tempat yang keliru.

Nama Raffi Ahmad pun beberapa kali disalahgunakan dalam berbagai konten menyesatkan, mulai dari isu pembagian bantuan hingga video deepfake yang mempromosikan situs judi online.

Pengamat komunikasi digital menilai persoalan utama dari fenomena ini adalah hilangnya konteks saat sebuah konten berpindah dari komunitas asal ke ruang publik yang lebih luas.

Di sisi lain, karakter media sosial yang mengutamakan kecepatan penyebaran dan viralitas dibandingkan proses verifikasi membuat informasi palsu lebih mudah dipercaya.

Rendahnya literasi digital serta menurunnya kepercayaan terhadap sumber informasi resmi juga dinilai mempercepat penyebaran hoaks.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk selalu memeriksa alamat domain media, logo resmi, serta memastikan informasi berasal dari sumber yang dapat dipercaya sebelum membagikannya kepada orang lain. (wa)

 

 

Editor : Ali Mustofa
#tumpa teks #waspada hoax #raffi ahmad #literasi digital