JAKARTA – Presenter sekaligus pengusaha Ruben Onsu baru saja menuntaskan ibadah umrah di Tanah Suci. Perjalanan spiritual tersebut bukan sekadar menjalankan rangkaian ibadah, tetapi juga menjadi kesempatan baginya untuk menenangkan diri, memperkuat hubungan dengan Tuhan, sekaligus beristirahat sejenak dari padatnya aktivitas di dunia hiburan.
Sekembalinya ke Indonesia, Ruben mengaku membawa pulang ketenangan batin yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Selama berada di Makkah dan Madinah, ia sengaja mengurangi interaksi dengan dunia luar agar dapat memaksimalkan setiap momen ibadah.
Memilih Lebih Banyak Beribadah daripada Bermain Ponsel
Berbeda dengan kebiasaan sehari-hari yang tak lepas dari telepon genggam, Ruben justru membatasi penggunaan ponsel selama berada di Tanah Suci.
Ia mengaku lebih memilih menghabiskan waktu di masjid untuk salat, berzikir, membaca doa, serta merenungkan berbagai hal dalam hidupnya. Baginya, kesempatan berada di dekat Ka'bah merupakan momen langka yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
Ruben mengatakan hampir seluruh waktunya difokuskan untuk beribadah. Ponsel hanya digunakan seperlunya, kemudian langsung disimpan kembali agar konsentrasinya tidak terpecah.
Doa Terbaik Dipanjatkan di Depan Ka'bah
Salah satu momen yang paling membekas bagi Ruben adalah ketika berada di depan Kaaba.
Di tempat yang menjadi kiblat umat Islam sedunia itu, ia memanjatkan doa agar seluruh urusan hidupnya diberikan kemudahan serta memohon agar hatinya senantiasa dilembutkan.
Selain memohon kelancaran dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi, Ruben juga menjadikan kesempatan tersebut sebagai sarana introspeksi diri.
Ia mengaku perjalanan umrah kali ini menghadirkan ruang untuk "me time" yang sesungguhnya, yakni menikmati ketenangan batin tanpa gangguan rutinitas maupun kesibukan pekerjaan.
Pengalaman Umrah Kali Ini Terasa Berbeda
Menurut Ruben, ibadah umrah yang baru dijalaninya memberikan pengalaman yang lebih mendalam dibandingkan perjalanan sebelumnya.
Ia merasa kini lebih memahami tata cara pelaksanaan ibadah sehingga dapat menjalankannya dengan lebih tenang dan penuh keyakinan.
Keberadaan ustaz pendamping selama perjalanan juga memberikan banyak manfaat. Ruben mengaku memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bertanya mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan ibadah sehingga pemahamannya semakin bertambah.
Baginya, proses belajar selama berada di Tanah Suci membuat setiap rangkaian ibadah terasa lebih bermakna.
Hanya Menghubungi Betrand Peto
Selama menjalankan ibadah, Ruben benar-benar membatasi komunikasi dengan orang-orang di Indonesia.
Ia mengungkapkan bahwa ponselnya hampir tidak digunakan, kecuali untuk menghubungi putra sulungnya, Betrand Peto, yang akrab disapa Onyo.
Ruben hanya memastikan kondisi putranya berjalan baik, kemudian kembali menyimpan ponselnya dan melanjutkan aktivitas ibadah.
Menurutnya, cara tersebut membuat dirinya bisa lebih fokus menikmati setiap momen di Tanah Suci tanpa terganggu notifikasi maupun urusan pekerjaan.
Refleksi Diri Jadi Bagian Penting Perjalanan Spiritual
Lebih dari sekadar menjalankan ritual keagamaan, Ruben mengaku umrah menjadi waktu terbaik untuk melakukan refleksi diri.
Di tengah suasana yang penuh kekhusyukan, ia merasa memiliki kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan hidup sekaligus memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta.
Ia percaya setiap doa yang dipanjatkan memiliki makna mendalam, terlebih ketika dilakukan dengan hati yang tenang dan penuh keikhlasan.
Pengalaman Spiritual Tak Bisa Disamakan
Menutup ceritanya, Ruben menegaskan bahwa pengalaman spiritual merupakan sesuatu yang sangat personal.
Menurutnya, setiap orang memiliki cara masing-masing dalam merasakan kedekatan dengan Tuhan. Karena itu, pengalaman selama menjalankan ibadah tidak selalu bisa dijelaskan atau dibandingkan dengan pengalaman orang lain.
Ia meyakini setiap individu akan memperoleh jawaban, petunjuk, maupun ketenangan melalui cara yang berbeda-beda sesuai kehendak Allah.
Perjalanan umrah kali ini pun menjadi salah satu pengalaman paling berharga bagi Ruben Onsu. Selain menghadirkan ketenangan batin, ibadah tersebut juga menjadi pengingat pentingnya meluangkan waktu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan di tengah padatnya aktivitas dan dinamika kehidupan.
Editor : Mahendra Aditya