Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Lebih dari Sekadar Konsep, "Island Girl" Jadi Cara No Na Jaga Identitas Indonesia di Panggung Dunia

Ghina Nailal Husna • Kamis, 25 Juni 2026 | 22:05 WIB
Lebih dari Sekadar Konsep, "Island Girl" Jadi Cara No Na Jaga Identitas Indonesia di Panggung Dunia
Lebih dari Sekadar Konsep, "Island Girl" Jadi Cara No Na Jaga Identitas Indonesia di Panggung Dunia

 

RADAR KUDUS — Di tengah gemerlap dan ketatnya persaingan industri musik internasional, grup musik No Na berhasil mencuri perhatian global lewat cara yang tidak biasa.

Di balik deretan pencapaian internasional yang mereka raih, ada satu prinsip teguh yang konsisten mereka pertahankan: komitmen mendalam untuk tetap menjadi diri sendiri dan merawat akar budaya mereka.

Dalam sebuah wawancara eksklusif bersama CNN, keempat anggota No Na—Esther, Baila, Christy, dan Shaz—secara terbuka menyatakan misi besar mereka.

Baca Juga: Cacat Seumur Hidup, Kakak Korban Penyekapan Bandung Tuntut Mata Taufik Hidayat Ditukar untuk Adiknya

Mereka tidak hanya ingin dikenal sebagai perajut harmoni, tetapi juga sebagai duta yang memperkenalkan audiens global pada keindahan negara asal mereka, Indonesia, yang masyhur sebagai salah satu negara kepulauan terbesar dan terindah di dunia.

Fleksibilitas Musik yang Berakar pada Autentisitas

Esther menjelaskan bahwa warna musik atau sound dari No Na pada dasarnya terbentuk dari peleburan berbagai genre yang kaya.

Saat berada di dalam studio rekaman, keempatnya dikenal sangat fleksibel dan terbuka terhadap berbagai eksperimen aransemen baru. 

Namun, ke mana pun arah eksplorasi musik tersebut bergerak, mereka memastikan untuk selalu berpegang teguh pada konsep "island girl" dari awal hingga akhir proses kreatif.

Bagi para personel No Na, masuk ke dalam pasar mainstream global dan menjaga autentisitas budaya lokal bukanlah dua hal yang harus saling bertentangan.

Mereka membuktikan bahwa keduanya justru bisa berjalan beriringan dan menghasilkan karya yang segar serta unik.

Kebaya dan Sarung: Diplomasi Budaya Lewat Fashion Mode

"Lihat pakaian kami! Konsep island banget, semua Indonesian," tutur Shaz dengan penuh kebanggaan.

Cara paling nyata dan visual dari bagaimana No Na menunjukkan identitas keindonesiaan mereka adalah melalui gaya busana di atas panggung.

Keempat anggota kerap tampil mengenakan variasi pakaian tradisional Indonesia, yakni perpaduan modifikasi kebaya dan kain sarung, yang diberi sentuhan modern ala anak muda urban khas No Na.

Untuk memberikan kesan yang kuat dan edgy, Esther, Baila, Shaz, dan Christy melengkapi penampilan tradisional tersebut dengan berbagai aksesori berani, seperti:

  • Korset penegas siluet yang modis.

  • Sepatu boot cokelat yang memberikan kesan tangguh.

  • Lapisan rok plastik transparan di atas busana tradisional mereka.

Sebagai pelengkap, seluruh tampilan mereka disempurnakan dengan perhiasan emas bermotif bunga anggrek.

Aksesori ini bukan sekadar pemanis visual, melainkan sebuah bentuk dedikasi kecil dan apresiasi mendalam No Na untuk para penggemar setia mereka yang secara resmi dinamai Orchids.

Lahir dari Kesamaan Identitas 17.000 Pulau

Menariknya, konsep "island girl" yang kini menjelma menjadi identitas sekaligus brand terkuat dari grup ini lahir dari sebuah momen diskusi yang sangat sederhana.

Christy mengenang kembali masa-masa awal pembentukan citra grup, di mana mereka berempat duduk bersama untuk memikirkan satu hal mendasar yang menyatukan mereka sebagai sebuah kesatuan.

Secara serentak dan tanpa ragu, jawaban itu keluar dari mulut keempatnya secara bersamaan: "Island girl."

Baila kemudian menambahkan alasan geografis dan kultural yang paling mendasar di balik pencetus ide tersebut.

"Karena Indonesia punya sekitar 17.000 pulau yang berbeda, jadi kami semua memang island girls," ungkapnya.

Ikatan emosional terhadap tanah air inilah yang kemudian mentransformasikan kata tersebut dari sekadar jargon menjadi sebuah gerakan identitas.

Representasi Perempuan dan Semangat Global (SDGs)

Baca Juga: Menkes Bongkar Sisi Gelap Dunia Medis: Dari Perundungan hingga Ketimpangan Gaji Dokter yang Ekstrem

Perjalanan karier Esther, Baila, Christy, dan Shaz bukan sekadar cerita tentang kesuksesan industri pop biasa. 

Keberanian empat perempuan muda Indonesia ini dalam membawa dan merayakan identitas budaya mereka ke panggung internasional secara langsung mencerminkan semangat SDGs (Sustainable Development Goals) Nomor 5: Gender Equality (Kesetaraan Gender).

Melalui karya dan eksistensi mereka, No Na mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa suara, budaya, dan identitas perempuan dari belahan dunia mana pun memiliki hak yang sama untuk didengar, dihormati, dan dirayakan secara global. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#Island Girl #kebaya modern #Orchids fandom #budaya indonesia #no na