Radar Kudus - Film garapan Dandhy Laksono dan Cypri Dale yang berjudul "Pesta Babi" banyak menimbulkan kontroversi, namun justru semakin ramai ditonton.
Sejak diumumkan dan diputar secara luas, film ini memicu berbagai perdebatan mengenai isu lingkungan, hak masyarakat adat, dan pembangunan di Papua. Film ini bahkan tembus dua juta penonton hanya dalam waktu kurang dari 24 jam.
"Pesta Babi" menjadi topik yang ramai diperbincangkan di media sosial seperti TikTok dan Instagram. Salah satu alasan film ini viral yaitu karena ditampilkan langsung suara masyarakat lokal, kondisi alam Papua, dan keresahan warga, sehingga banyak orang yang penasaran untuk menonton film ini.
Selain itu, film ini juga mengangkat isu yang sosial yang sensitif, sehingga memunculkan tanggapan pro dan kontra dari masyarakat antara pembangunan atau pelestarian alam.
Film ini menggambarkan bagaimana masyarakat adat memasang salib merah untuk melakukan perlawanan terhadap perusahaan yang merampas alam mereka.
Simbol tersebut menjadi bentuk penolakan sekaligus seruan agar tanah adat dan lingkungan hidup tetap dilindungi dari berbagai ancaman eksploitasi. Film ini menyoroti perjuangan orang Papua dalam menjaga tanah leluhur. Namun kini, pemerintah malah membuat proyek besar yang membabat 2,5 juta hektar hutan di Papua.
Publik semakin dibuat penasaran saat banyak masyarakat merencanakan untuk nonton bareng (nobar) film ini. Banyak masyarakat menyaksikan film ini bersama-sama di beberapa titik di daerah Indonesia maupun luar negeri.
Khususnya di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. Dalam forum ini, antropolog Lamtiur Tampubolon menyampaikan kritik tajam terhadap pelaksanaan PSN di Papua Selatan.
Menurutnya proyek ini tidak memperhatikan hak-hak masyarakat adat sekitar, yang mana mereka selama ini bergantung pada tanah dan hutan sebagai sumber kehidupan.
Selain itu, judul "Pesta Babi" juga menjadi pertanyaan bagi banyak penonton karena terdengar unik dan mengundang rasa penasaran. Pemilihan judul tersebut tidak hanya berfungsi sebagai identitas film, tetapi juga merepresentasikan nilai budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat adat Papua.
Cypri Dale menjelaskan bahwa pemilihan kata pada bagian judul memiliki mana mendalam dan tidak bermaksud untuk memicu sensasi publik. Pemilihan kata ini menjadi titik perdebatan, karena beberapa pihak merasa keberatan.
Ternyata makna dari judul ini yaitu tentang perjuangan masyarakat adat Papua mempertahankan tanah dan identitas budaya dari deforestasi suatu perusahaan.
Editor : Mahendra Aditya