Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kebangkitan Musisi Lokal: Mengapa Dominasi K-Pop Mulai Tergeser di Spotify Indonesia?

Ghina Nailal Husna • Senin, 18 Mei 2026 | 22:13 WIB
Kebangkitan Musisi Lokal: Mengapa Dominasi K-Pop Mulai Tergeser di Spotify Indonesia?
Kebangkitan Musisi Lokal: Mengapa Dominasi K-Pop Mulai Tergeser di Spotify Indonesia?

 

RADAR KUDUS – Selama hampir satu dekade, gelombang Hallyu atau K-Pop tampak tak tergoyahkan dalam menguasai tangga lagu digital di Indonesia.

Namun, data terbaru dari platform streaming raksasa Spotify menunjukkan pergeseran paradigma yang menarik.

Dominasi grup vokal asal Korea Selatan kini mulai melandai, digantikan oleh barisan musisi lokal yang semakin perkasa di rumah sendiri.

Baca Juga: Inovasi Mobil Kepresidenan: Presiden Prabowo Minta Pindad Desain Kendaraan "Berbalut Kaca" Demi Sapa Rakyat

Fenomena "lokalisasi streaming" ini menandai era baru di mana pendengar musik Indonesia kembali "pulang" ke karya-karya berbahasa ibu, menciptakan kompetisi yang sehat di industri musik nasional.

Penurunan dominasi K-Pop bukan berarti kualitas musik dari Negeri Ginseng tersebut menurun, melainkan karena musisi Indonesia berhasil menemukan formula yang lebih relatable.

Genre "pop galau" dan folk dengan lirik yang puitis namun sederhana terbukti lebih mampu menyentuh sisi emosional pendengar muda.

Nama-nama seperti Bernadya hingga band Juicy Luicy menjadi motor penggerak tren ini. Mereka tidak hanya sekadar merilis lagu, tetapi membangun ekosistem engagement yang kuat melalui media sosial seperti TikTok.

Potongan lirik yang mewakili perasaan "patah hati" atau "kehidupan sehari-hari" sering kali menjadi viral, yang kemudian mengonversi penonton TikTok menjadi pendengar setia di Spotify.

Akhir dari Era Dominasi Mutlak

Jika pada periode 2019-2022 daftar Top 50 Indonesia sering kali dipenuhi oleh rilisan terbaru dari grup idola global, kini komposisinya jauh lebih beragam.

Meski nama-nama besar seperti BTS dan BLACKPINK tetap memiliki basis penggemar militan yang besar, konsumsi secara masal oleh pendengar kasual mulai beralih.

K-Pop kini menjadi genre yang stabil namun tidak lagi mendominasi secara absolut. Pendengar Indonesia tampaknya mulai jenuh dengan konsep visual yang megah dan mulai mencari kedekatan rasa melalui narasi yang ditawarkan oleh musisi domestik.

Fenomena ini ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Tren serupa mulai terlihat di negara-negara tetangga seperti Thailand, Malaysia, hingga Filipina.

Di wilayah-wilayah tersebut, gelombang dukungan terhadap karya domestik tengah meningkat pesat.

Baca Juga: Proyeksi Inflasi Meningkat Akibat Rupiah Loyo, Menkeu Purbaya: "Jangan Takut, Ini Saatnya Serok Bawah"

Para pakar industri musik menyebut hal ini sebagai kemandirian konsumsi konten. Masyarakat Asia Tenggara kini semakin bangga dan mendukung musisi dari negara mereka sendiri, tanpa perlu sepenuhnya meninggalkan musik global.

Integrasi platform digital telah memudahkan musisi lokal untuk bersaing secara head-to-head dengan bintang internasional, baik dari segi kualitas produksi maupun strategi pemasaran.

Dengan tren yang terus berlanjut, industri musik Indonesia diprediksi akan semakin mandiri, menjadikan musisi lokal sebagai "tuan rumah" yang sah di tanah kelahirannya sendiri. (*)

 

 

Editor : Ghina Nailal Husna
#Tren Musik Indonesia #Dominasi K-Pop #Spotify Indonesia #Lokalisasi Streaming #Bernadya