RADAR KUDUS — Penyanyi Betrand Peto menunjukkan sikap toleransi yang patut dicontoh dengan mendukung acara pengajian rutin yang diadakan oleh ayahnya, Ruben Onsu. Walaupun memiliki keyakinan Katolik, Betrand Peto aktif berpartisipasi dalam kegiatan tersebut dengan memakai sarung dan berperan sebagai fotografer serta panitia.
Keterlibatan Betrand Peto dalam pengajian yang diadakan oleh Ruben Onsu bukan hanya sekadar hadir secara biasa, tetapi merupakan dukungan total terhadap kegiatannya.
Dia memotret dengan kamera pribadi untuk merekam momen acara itu, sekaligus menyiapkan kebutuhan untuk para tamu, yang menegaskan bahwa keikutsertaannya adalah bentuk toleransi tanpa mengubah iman yang dianutnya.
Baca Juga: Imam Darto Pasang Target Tinggi untuk Film Gudang Merica
Betrand Peto menjelaskan bahwa keikutsertaannya tidak dimaksudkan untuk mempelajari ajaran agama ayahnya, tetapi untuk menghormati serta mendukung Ruben Onsu yang sekarang secara rutin mengadakan pengajian di rumah mereka.
Sikap ini konsisten dengan perilaku Betrand Peto yang belakangan sering menarik perhatian masyarakat, seperti ketika ia mengenakan sarung di acara pengajian pada Minggu (10/5/2026), yang langsung mendapatkan doa dan pujian dari netizen karena dianggap mencerminkan harmoni antaragama dalam keluarga selebriti.
Ruben Onsu mengadakan pengajian secara rutin sebagai bagian dari komitmen spiritualnya, dan dukungan dari Betrand Peto semakin memperkuat pesan toleransi di tengah variasi keyakinan dalam keluarganya.
Baca Juga: Demi Karakter Realistis, Arla Ailani Rela Bulu Ketek Muncul di Layar Film Gudang Merica
Betrand Peto juga menyampaikan rasa ketertarikannya pada kegiatan ini hingga meminta ayahnya untuk terus mengadakannya secara berkala.
Dukungan Betrand Peto terhadap pengajian Ruben Onsu menjadi contoh nyata toleransi beragama di kalangan generasi muda Indonesia, terutama di zaman media sosial yang sering mengubah narasi tentang keluarga.
Kegiatan in memperkuat hubungan ayah dan anak dan juga memberi inspirasi kepada masyarakat untuk saling menghargai perbedaan keyakinan demi mencapai keharmonisan sosial. (*)
Editor : Anita Fitriani