RADAR KUDUS – Industri minuman kekinian tanah air kembali dikejutkan dengan kabar dari salah satu pemain besarnya.
Menantea, merek minuman teh buah yang didirikan oleh influencer Jerome Polin pada tahun 2021, resmi mengumumkan akan menghentikan seluruh operasionalnya secara permanen terhitung mulai 25 April 2026.
Kabar pamitnya Menantea disampaikan melalui unggahan emosional di akun media sosial resmi mereka.
Sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada para "Tokohea" (sebutan bagi pelanggan setia), Menantea menggelar program diskon besar-besaran di seluruh gerai yang masih tersisa selama dua pekan terakhir sebelum penutupan total dilakukan.
Jehian Panangian Sijabat, kakak sekaligus mitra strategis Jerome, memberikan penjelasan mendalam mengenai alasan di balik keputusan berat ini.
Menurutnya, keruntuhan Menantea bukan disebabkan oleh rendahnya minat pasar, melainkan adanya celah besar dalam struktur manajemen dan pemilihan mitra kerja.
Jehian mengakui bahwa pada masa awal ekspansi yang masif, mereka kurang melakukan riset mendalam terhadap latar belakang partner bisnis yang diajak bekerja sama.
Hal ini diperparah dengan lemahnya sistem pengawasan internal (internal kontrol) yang membuat penyimpangan dalam pengelolaan operasional di tingkat gerai sulit terdeteksi sejak dini.
"Kami belajar dengan cara yang keras bahwa semangat saja tidak cukup. Kurangnya verifikasi terhadap mitra dan sistem kontrol yang longgar menjadi faktor utama yang membuat bisnis ini sulit dipertahankan dalam jangka panjang," ungkap Jehian dalam keterangannya.
Jerome Polin sendiri memandang penutupan ini sebagai sebuah "sekolah bisnis" di dunia nyata.
Ia mengakui bahwa pengalaman selama lima tahun membangun Menantea memberinya pelajaran fundamental mengenai pentingnya kontrak hukum yang jelas, pemahaman mendalam terhadap rantai pasok, serta kehati-hatian dalam memilih rekanan.
"Perjalanan Menantea memberikan pelajaran yang tidak saya dapatkan di bangku kuliah. Ini soal bagaimana memastikan setiap detail kontrak terlindungi dan bagaimana memilih orang yang tepat untuk berada di dalam kapal yang sama," ujar Jerome.
Dinamika yang dialami Menantea menjadi studi kasus penting dalam konteks tujuan pembangunan global.
Kasus ini berkaitan erat dengan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), di mana praktik bisnis yang sehat dan berkelanjutan merupakan syarat mutlak bagi pertumbuhan ekonomi yang stabil dan penciptaan lapangan kerja yang langgeng.
Baca Juga: Viral Tarif Parkir Rp40.000 di Kota Lama Semarang, Tiga Jukir Liar Diberi Sanksi Pembinaan
Selain itu, kegagalan tata kelola ini juga relevan dengan SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur).
Fondasi sebuah industri yang kuat tidak hanya terletak pada inovasi produk atau pemasaran yang viral, tetapi pada kekuatan infrastruktur manajerial dan tata kelola perusahaan yang transparan serta akuntabel.
Meskipun Menantea harus berakhir, pengalaman ini diharapkan menjadi pengingat bagi para pengusaha muda lainnya di Indonesia untuk lebih memprioritaskan kekuatan operasional dan legalitas dibandingkan sekadar popularitas sesaat di media sosial. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna