RADAR KUDUS — Film horor komedi Indonesia terbaru berjudul Tiba-Tiba Setan dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai Kamis, 16 April 2026.
Menariknya, film ini menggabungkan teror supranatural dengan komedi lewat duet kocak komika Oki Rengga dan Lolox sebagai pemeran utama.
Tiba-Tiba Setan berkisah tentang dua kakak beradik yang datang ke sebuah hotel tua yang lama terbengkalai dan dikenal sangat angker. Mereka awalnya datang untuk mencari jejak harta karun keluarga, namun kedatangan mereka justru membuka pintu bagi teror gaib yang tak terduga.
Baca Juga: Antara Tawa dan Ketakutan: Film “Tiba‑Tiba Setan” Akan Tayang di Bioskop 16 April 2026
Di tengah suasana horor, hubungan keluarga dan konflik pribadi karakter menjadi salah satu poros emosional cerita.
Film ini dibintangi oleh sederet nama yang sudah dikenal lewat film horor maupun komedi.
Berikut daftar pemain Tiba-Tiba Setan:
- Oki Rengga sebagai Rambo
- Lolox sebagai Bonar
- Ratu Felisha sebagai Camila
- Tanta Ginting sebagai Aldi
- Poppy Sovia sebagai Veronica
- Reza Nangin sebagai Heru
- Amara Angelica sebagai Kelly
- Shahabi Sakri sebagai Michael
- Naura Hakim sebagai Narsih
Oki Rengga sempat menyebut bahwa bermain bersama Lolox di film ini adalah mimpi lama yang akhirnya terwujud, karena mereka memang sudah lama terlibat dalam dunia komedi dan stand‑up.
Pasangan sahabat ini juga menggelar gala premiere di Medan sebelum tayang serentak di bioskop, untuk memperkenalkan film ini kepada penonton fanbase mereka di Sumatra Utara.
Tiba-Tiba Setan diproduseri oleh Sridhar Jetty dan Jimmy Lalwani dan disutradarai oleh Etienne Caesar, dengan durasi sekitar 113 menit.
Film ini mulai bisa disaksikan di bioskop jaringan XXI, CGV, Cinepolis, dan jaringan bioskop lainnya di seluruh Indonesia sejak 16 April 2026, dengan jadwal tayang yang bisa dicek lewat laman resmi sejumlah jaringan bioskop.
Bagi pecinta film horor komedi, Tiba-Tiba Setan menjadi salah satu tawaran di bulan April 2026, yang terdapat aura angker sebuah hotel tua dengan canda absurd dua karakter utama yang mencoba “bermain-main” dengan dunia gaib—dan akhirnya harus menanggung risikonya. (*)
Editor : Anita Fitriani