RADAR KUDUS – Sosok Sienna Ameerah Kasyafani, putri semata wayang dari aktris Marshanda dan Ben Kasyafani, tengah menjadi perbincangan hangat di jagat maya.
Remaja berusia 13 tahun tersebut mengejutkan publik setelah mengunggah foto terbaru tanpa mengenakan hijab, sebuah keputusan yang memicu beragam reaksi dari netizen.
Sebagai informasi, Sienna diketahui mulai memantapkan diri mengenakan hijab sejak usia 10 tahun. Keputusannya saat itu menuai banyak pujian karena dinilai sebagai kesadaran religius di usia dini.
Namun, seiring dengan transisinya menuju masa remaja, pilihan gaya hidup Sienna kini tampak mengalami perubahan.
Menanggapi riuhnya komentar netizen yang mempertanyakan perannya sebagai orang tua, Marshanda akhirnya memberikan pernyataan resmi melalui akun Instagram pribadinya, @marshanda99.
Perempuan berusia 36 tahun ini menegaskan bahwa dirinya tidak melakukan intervensi atau paksaan terhadap pilihan putrinya.
Bagi Marshanda, yang terpenting bagi seorang anak di usia remaja bukanlah sekadar tampilan fisik, melainkan proses pencarian jati diri yang jujur.
"Saya tidak mendukung pilihan untuk menjadi sesat. Yang saya dukung adalah belajar mengenal diri melalui proses yang jujur.
Kalau jalan-Nya Sienna pakai hijab lagi atau tidak, itu di luar pengaruh dan kuasa saya," tulis Marshanda dalam unggahan yang penuh refleksi tersebut.
Marshanda yang dikenal vokal menyuarakan isu kesehatan mental dan self-love, menunjukkan pola asuh yang mengedepankan penghormatan terhadap privasi dan takdir sang anak.
Ia merasa tidak bijaksana jika harus mendikte setiap langkah hidup Sienna, terutama dalam aspek spiritual yang sangat personal.
"Arogan sekali kalau saya merasa berhak dan bisa atur takdir Sienna lebih dari Allah SWT bisa melakukannya. Bukan tempatnya saya mempengaruhi pilihan hidup Sienna," sambungnya dengan tegas.
Baca Juga: Update Jumat Pagi: Harga Emas UBS dan Galeri24 Kompak Turun, Ini Daftar Lengkapnya
Keputusan Sienna melepas hijab ini memicu perdebatan di kolom komentar. Sebagian netizen menyayangkan perubahan tersebut, namun tidak sedikit pula yang membela dan memuji sikap Marshanda yang dinilai memberikan ruang bagi sang anak untuk bertumbuh secara autentik.
Sebagai ibu, Marshanda tampaknya lebih memilih untuk menjadi pendamping yang suportif daripada figur otoriter. Ia percaya bahwa setiap manusia, termasuk anaknya, memiliki linimasa perjalanan spiritual yang berbeda-beda.
Pernyataan ini sekaligus menjadi pengingat bagi publik mengenai pentingnya batasan dalam memberikan komentar terhadap kehidupan pribadi publik figur, terutama yang menyangkut perkembangan anak di bawah umur. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna