RADAR KUDUS - Kisah cinta El Rumi dan Syifa Hadju memasuki fase baru. Setelah lamaran intim berlatar pegunungan Lauterbrunnen, Swiss, pada Oktober 2025 lalu, pasangan muda ini bersiap menggelar prosesi lamaran resmi yang melibatkan keluarga besar—dan kali ini, disaksikan jutaan pasang mata lewat layar televisi nasional.
Acara bertajuk “The Engagement of El Rumi & Syifa Hadju” dijadwalkan tayang di SCTV pada Kamis, 22 Januari 2026, pukul 15.40 WIB.
Informasi ini diumumkan langsung oleh pihak stasiun televisi melalui program Hot Shot dan diperkuat lewat kanal media sosial resmi mereka.
Langkah ini menandai perubahan menarik dalam cara selebritas muda Indonesia merayakan momen sakral: dari ruang privat yang personal menuju ruang publik yang terkurasi.
Baca Juga: Hari Ini Lamaran El Rumi–Syifa Hadju, Ini Potret Kebahagiaannya
Dua Lamaran, Dua Makna
Lamaran El Rumi kepada Syifa Hadju sejatinya telah dilakukan beberapa bulan lalu di Swiss.
Kala itu, El berlutut di hadapan Syifa dengan latar alam pegunungan Eropa yang dramatis, menghadirkan momen personal yang nyaris sinematik.
Unggahan foto lamaran tersebut sempat viral, bukan hanya karena visualnya yang indah, tetapi juga karena narasi yang menyertainya.
“Di tempat yang selalu kuimpikan, aku berkata ya pada seseorang yang selalu terasa seperti rumah,” tulis Syifa.
Namun, lamaran di Swiss sejatinya bersifat personal—sebuah janji antara dua individu. Prosesi yang akan ditayangkan di SCTV justru menjadi pengikat sosial dan keluarga.
Di sinilah makna lamaran bergeser: bukan lagi hanya tentang cinta, tetapi juga tentang legitimasi adat, restu orang tua, dan pengumuman resmi kepada publik.
Televisi dan Ritual Selebritas
Penayangan lamaran ini di televisi menempatkan El dan Syifa dalam tradisi panjang selebritas Indonesia yang menjadikan momen hidup sebagai tontonan terkurasi.
Namun, berbeda dari generasi sebelumnya yang kerap menonjolkan kemewahan, pendekatan El dan Syifa terasa lebih terkendali.
Tidak ada narasi bombastis, tidak pula drama berlebihan. Informasi disampaikan singkat, visual dibiarkan berbicara, dan publik dipersilakan menyaksikan tanpa narasi yang memaksa.
Di tengah budaya konten instan, langkah ini justru menghadirkan kesan formal dan terukur—sebuah ironi yang menarik.
Isyarat Serius Menuju Pernikahan
Lamaran resmi ini menjadi pintu masuk menuju fase pernikahan. Ahmad Dhani, ayah El Rumi, sebelumnya telah memberi gambaran mengenai rangkaian acara yang akan dijalani putranya.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah rencana sesi foto pre-wedding yang akan digelar di Solo, Jawa Tengah, dengan sentuhan budaya Jawa yang kental.
“Pre-wedding nanti di Solo. Ada konsep Jawa-Jawanya,” ujar Dhani.
Pilihan ini memperlihatkan upaya pasangan tersebut untuk menyeimbangkan identitas modern dengan akar tradisi—sebuah pendekatan yang semakin jarang di kalangan selebritas muda.
Tanpa Ngunduh Mantu, Konsep Lebih Sederhana
Menariknya, Ahmad Dhani juga mengungkap bahwa pernikahan El Rumi kemungkinan besar tidak akan menggelar acara ngunduh mantu, berbeda dengan pernikahan Al Ghazali sebelumnya.
Pernyataan ini disampaikan Dhani dengan nada berseloroh, namun menyiratkan satu hal penting: konsep pernikahan El dan Syifa kemungkinan akan lebih ringkas dan efisien.
Di balik candaan soal “kondisi ekonomi”, terselip pesan bahwa pasangan ini tidak ingin menjadikan pernikahan sebagai ajang berlebihan. Sebuah sikap yang justru relevan dengan karakter generasi mereka.
Relasi yang Tumbuh di Ruang Publik
Hubungan El Rumi dan Syifa Hadju mulai ramai diperbincangkan sejak awal 2024. Momen kemunculan bersama di pernikahan Thariq Halilintar dan Aaliyah Massaid menjadi titik awal sorotan publik.
Sejak itu, Syifa Hadju kian sering terlihat dalam lingkaran keluarga El. Bahkan Ahmad Dhani secara terbuka sempat melontarkan pertanyaan yang kini terasa profetik: “Kapan nikahnya?”
Pertanyaan itu kini menemukan jawabannya, setidaknya secara bertahap.
Cinta sebagai Transisi Sosial
Yang menarik dari kisah El dan Syifa bukan sekadar status selebritas mereka, melainkan bagaimana hubungan ini diposisikan sebagai transisi sosial.
Lamaran di Swiss melambangkan pilihan personal, sementara lamaran resmi di televisi menandai masuknya hubungan tersebut ke ranah sosial dan budaya.
Ini bukan sekadar soal disiarkan atau tidak, melainkan bagaimana generasi muda memaknai komitmen di tengah sorotan publik: tetap romantis, tetapi tidak kehilangan struktur.
Dari Layar Kaca ke Pelaminan
Dengan lamaran resmi yang akan tayang di SCTV, El Rumi dan Syifa Hadju seolah mengunci satu bab dan membuka bab berikutnya.
Publik kini tak lagi bertanya apakah hubungan ini serius, melainkan kapan dan bagaimana mereka akan mengikat janji pernikahan.
Lamaran ini bukan akhir cerita, melainkan pengumuman bahwa perjalanan menuju pelaminan telah dimulai—secara sah, terbuka, dan penuh perhitungan.
Editor : Mahendra Aditya