RADAR KUDUS - Keberanian Aurelie Moeremans mengungkap pengalaman kelam sebagai korban grooming melalui buku digital Broken Strings ternyata membawa konsekuensi yang tidak mudah.
Di tengah gelombang dukungan publik, Aurelie justru harus menghadapi teror dari pihak-pihak yang merasa tersinggung dengan isi buku tersebut.
Aurelie memilih untuk tidak lagi mengunggah ulang dukungan dari teman maupun rekan sesama artis di media sosial.
Baca Juga: Kasus Doktif vs Richard Lee: Dari Klaim Produk Kecantikan Berujung Status Tersangka
Keputusan ini bukan karena ia tidak menghargai dukungan yang datang, melainkan sebagai langkah perlindungan agar orang-orang yang mendukungnya tidak ikut menjadi sasaran ancaman.
Teror yang dialami Aurelie mulai muncul setelah bukunya viral dan banyak dibicarakan. Salah satu kejadian yang membuatnya semakin waspada adalah ketika ia mengunggah ulang dukungan dari Hesti Purwadinata.
Tak lama setelah itu, Hesti dan suaminya, Edo Borne, justru menerima ancaman dari orang tak dikenal. Ancaman tersebut bahkan dikirim langsung ke nomor pribadi Edo Borne melalui pesan WhatsApp.
Meski tidak ditanggapi, situasi tersebut dinilai Aurelie cukup mengganggu dan menimbulkan rasa tidak aman.
Ia menyadari bahwa fitur unggah ulang di media sosial bisa membuka identitas para pendukungnya kepada pihak yang berniat buruk.
Meski demikian, Aurelie menegaskan bahwa ia tetap membaca, menghargai, dan merasakan seluruh doa serta dukungan yang diberikan kepadanya, meskipun kini dilakukan secara lebih privat. Ia memilih menjaga jarak demi keamanan bersama.
Baca Juga: Setelah 17 Tahun, Dee Lestari Persembahkan Single Baru untuk Album Ketiganya
Buku Broken Strings sendiri dibagikan secara gratis oleh Aurelie. Memoar digital ini berisi kisah personal tentang luka batin, trauma, dan proses penyembuhan yang ia jalani setelah menjadi korban grooming sejak usia remaja.
Baginya, berbagi cerita adalah bentuk keberanian sekaligus upaya menguatkan para penyintas lain agar tidak merasa sendirian.
Di tengah ancaman dan tekanan, Aurelie tetap berdiri pada tujuannya: menjadikan Broken Strings sebagai ruang aman bagi para korban untuk merasa didengar.
Ia menunjukkan bahwa bersuara memang tidak selalu mudah, tetapi diam bukan lagi pilihan. (rani)
Editor : Mahendra Aditya