RADAR KUDUS - Grup musik Korea Selatan All Day Project sedang berada dalam pusat perhatian publik setelah perilaku mereka di panggung Asia Artist Awards (AAA) 2025 menuai sorotan tajam.
Ajang yang digelar di Stadion Nasional Kaohsiung, Taiwan, pada 6 Desember 2025 itu seharusnya menjadi momen manis bagi grup besutan The Black Label tersebut.
Terutama karena mereka berhasil membawa pulang sejumlah penghargaan bergengsi seperti Best New Wave, Best Artist, dan Rookie of the Year.
Namun, bukannya fokus pada deretan prestasi tersebut, publik justru ramai membahas bertingkah laku para anggota selama acara berlangsung.
Dalam sebuah unggahan yang menjadi viral, terlihat beberapa momen yang menimbulkan tanda tanya mengenai etika mereka sebagai artis yang hadir dalam sebuah upacara penghargaan internasional.
Salah satu sorotan tertuju pada pose duduk para anggota yang dinilai kurang pantas untuk sebuah acara resmi.
Beberapa foto menunjukkan anggota grup duduk dengan kaki dinaikkan di atas kursi, bahkan ada yang terlihat menginjak kursi yang digunakan secara bergantian oleh artis lain.
Woochan menjadi salah satu anggota yang mendapat perhatian paling besar setelah terekam duduk dengan posisi kaki di atas kursi selama seremoni berlangsung.
Foto tersebut memicu pembahasan tentang standar perilaku dalam acara penghargaan yang dikenal memiliki etika ketat bagi para tamu undangan.
Tak hanya itu, sebuah video lain juga menunjukkan momen ketika grup tersebut diminta memberikan gesture jari hati saat meninggalkan area acara.
Baca Juga: Hoarding Disorder: Kebiasaan Menimbun Barang yang Perlu Diwaspadai
Dalam rekaman itu, Tarzzan dan Woochan tampak tidak merespons permintaan tersebut, sementara anggota lain—Annie, Youngseo, dan Balley—menunjukkan senyum ramah dan memberikan gestur yang diminta.
Perilaku yang dianggap tidak selaras dengan suasana formal acara inilah yang membuat Allday Project ramai dibicarakan.
Sebagian pihak menilai tindakan tersebut mencerminkan gaya dan citra grup yang mengusung konsep hip hop dengan karakter yang kuat.
Namun, di sisi lain, banyak pula yang menilai bahwa tampil di ajang besar menuntut profesionalitas, terlebih untuk grup yang sedang berada dalam masa awal karier.
Meski demikian, kontroversi ini juga membuka ruang diskusi tentang bagaimana citra artistik sebuah grup dapat berbenturan dengan ekspektasi publik terhadap etika di panggung penghargaan.
Allday Project, yang tengah berkembang pesat dalam industri musik Korea, kini berada di persimpangan antara mempertahankan identitas panggung mereka atau menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku dalam acara resmi berskala internasional. (rani)
Editor : Ali Mustofa