RADAR KUDUS - Yosep Anggi Noen adalah seorang sutradara film, penulis skenario, editor, sekaligus dosen asal Indonesia yang dikenal luas melalui karya-karyanya di ranah perfilman independen.
Ia lahir di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 15 Maret 1983.
Sejak muda, Anggi Noen telah menunjukkan ketertarikan besar pada dunia seni, khususnya film, sastra, dan isu-isu sosial yang kemudian banyak memengaruhi gaya berkaryanya.
Ia menempuh pendidikan di Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Gadjah Mada (UGM).
Selama masa kuliah, minatnya terhadap dunia film semakin kuat. Ia aktif dalam kegiatan produksi film independen dan komunitas film kampus.
Dari sinilah kemampuan teknis dan perspektif sinematiknya mulai terbentuk dan berkembang.
Dalam perjalanan kariernya, Yosep Anggi Noen tidak hanya dikenal sebagai sutradara, tetapi juga sebagai penulis skenario dan editor untuk berbagai proyek perfilman.
Di luar dunia produksi, ia juga berkiprah di dunia pendidikan sebagai dosen film di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), tempat ia membagikan ilmu dan pengalamannya kepada generasi muda yang ingin terjun ke industri perfilman.
Anggi Noen dikenal dengan gaya sinema kontemplatif, puitis, dan berani mengangkat isu-isu sosial maupun politik di Indonesia.
Karya-karyanya kerap menyentuh tema tentang ketidakadilan, pergulatan manusia, sejarah kelam bangsa, hingga eksistensi individu di tengah tekanan sosial.
Pendekatan visualnya cenderung minimalis, dengan narasi yang kuat dan simbolik, membuat film-filmnya kerap diputar di berbagai festival internasional.
Sejumlah filmnya bahkan berhasil menembus dan mendapat pengakuan di festival film bergengsi seperti Festival Film Internasional Rotterdam, Berlinale (Berlin), Festival Film Internasional Singapura, hingga Cannes.
Hal ini menjadikan Yosep Anggi Noen sebagai salah satu sutradara Indonesia yang paling diperhitungkan di kancah internasional.
Beberapa film panjang penting yang pernah disutradarai Yosep Anggi Noen antara lain:
-
Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya (2012) – film debutnya yang menyoroti realitas sosial dengan pendekatan absurd dan satir.
-
Istirahatlah Kata-Kata (2016) – film biografi puitis tentang aktivis dan penyair Wiji Thukul, yang menjadi salah satu karya paling berpengaruh dalam perfilman Indonesia modern.
-
The Science of Fictions (2019) – film eksperimental dengan sentuhan fiksi ilmiah, dibintangi oleh aktor teater Gunawan Maryanto, yang kembali menegaskan ciri khas artistiknya.
-
24 Jam Bersama Gaspar (2023) – film drama kriminal yang diadaptasi dari novel karya Sabda Armandio, dan berhasil tayang secara global melalui Netflix.
-
Tebusan Dosa (2024) – film horor religi yang menggabungkan nuansa spiritual dengan kritik sosial yang kuat.
Saat ini, Yosep Anggi Noen juga tengah menggarap proyek film terbarunya yang sangat dinantikan, yaitu adaptasi film panjang dari novel populer Laut Bercerita karya Leila S. Chudori, yang dijadwalkan tayang pada tahun 2026.
Proyek ini kembali menunjukkan konsistensinya dalam mengangkat tema sejarah dan perjuangan aktivisme, khususnya yang berkaitan dengan peristiwa politik pada era Orde Baru.
Secara keseluruhan, Yosep Anggi Noen dikenal sebagai figur yang kritis, idealis, dan konsisten dalam mendobrak batasan perfilman arus utama.
Ia terus menjadi salah satu suara penting dalam dunia perfilman Indonesia, tidak hanya sebagai pembuat film, tetapi juga sebagai pemikir dan pendidik yang memperjuangkan sinema sebagai medium refleksi sosial. (rani)
Editor : Ali Mustofa