Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Profil Lengkap Baskara Putra: Musisi, Penggerak Industri Musik dan Idola Baru Anak Muda

Redaksi Radar Kudus • Kamis, 20 November 2025 | 22:11 WIB

 

Baskara Putra
Baskara Putra

RADAR KUDUS - Hindia menjadi salah satu nama paling berpengaruh di musik Indonesia saat ini. Sosok yang kerap disebut idola baru anak muda ini dikenal lewat gaya bermusik yang jujur, penuh kritik sosial, dan mampu menangkap keresahan generasi masa kini.

Namun di balik nama panggung tersebut, ada perjalanan panjang Baskara Putra dalam membangun identitas sebagai musisi.

Awal Mula Nama "Hindia"

Hindia adalah nama panggung dari Daniel Baskara Putra, musisi kelahiran 22 Februari 1994. Ia awalnya dikenal sebagai vokalis grup.

Feast yang aktif menyuarakan isu sosial dan politik lewat musik rock alternatif. Popularitasnya sebagai solois mulai menguat pada 2018 setelah merilis "No One Will Find Me", yang kemudian membuka jalan menuju karya-karya berikutnya.

Nama “Hindia” dipilih Baskara bukan sekadar agar terdengar unik. Ia bercerita kepada sutradara Riri Riza dalam acara Cabin Fever (2020) bahwa nama itu terinspirasi dari tulisan “Hindia Belanda” yang terpampang pada lukisan Raden Saleh. Temuan itu melekat di benaknya sejak sekolah.

Suatu ketika, ia mencari nama panggung dan teringat kata “Hindia.” Menurutnya, pilihan ini membawa misi tertentu.

Kata tersebut selama ini identik dengan kolonialisasi, sehingga ia ingin memberi makna baru—bahwa kata "Hindia" kelak merujuk pada musisi Indonesia, bukan pada sejarah yang diberikan oleh penjajah.

Makna di Balik Nama

Baskara mengaku sempat menelusuri kata “Hindia” di internet dan yang muncul selalu berkaitan dengan sejarah kolonial. Baginya, cukup ironis bahwa nama yang diberikan kepada nenek moyang bangsa Indonesia justru digunakan untuk menarasikan penindasan.

Dengan menggunakan nama itu sebagai moniker, ia berharap generasi berikutnya dapat menemukan makna baru ketika menelusuri kata “Hindia”—bukan lagi masa penjajahan, tetapi karya musik dari anak bangsa yang menulis untuk pendengarnya sendiri.

Perjalanan Karier Baskara Putra

Baskara adalah lulusan Ilmu Komunikasi FISIP UI. Bersama teman-temannya, ia mendirikan band .Feast pada 2012. Lagu “Peradaban” menjadi salah satu karya yang mendorong band tersebut dikenal luas.

Selain berkarya sebagai musisi, Baskara aktif di industri musik. Ia pernah menjadi brand manager Double Deer Records, mendirikan Sun Eater Coven—label sekaligus manajemen yang menaungi berbagai musisi independen—serta menjadi pendiri situs BagiKata.

Album Solo dan Karya-Karya Ikonik

Puncak produktivitasnya sebagai solois datang melalui album Menari dengan Bayangan (2019). Album ini berisi lagu-lagu yang menyimpan cerita personal, refleksi hidup, serta kritik sosial. Beberapa trek ternama di antaranya:

Lagu “Secukupnya” kemudian dipilih sebagai soundtrack film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, yang semakin memperkuat posisi Baskara sebagai penulis lagu yang peka terhadap perasaan manusia.

Seiring perjalanan karier solonya yang terus menanjak, Hindia juga berhasil menorehkan sejumlah pencapaian besar di ajang Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards. Pada tahun 2020, ia pertama kali mendapatkan pengakuan nasional ketika lagu “Rumah ke Rumah” mengantarkannya meraih piala Artis Solo Alternatif Terbaik.

Baca Juga: Jebakan Ketrampilan Rendah: Mengupas Tuntas Efek Dunning-Kruger

Penghargaan ini menandai titik penting dalam karier Baskara, membuktikan bahwa gagasan musiknya yang sarat pesan personal dan sosial memiliki tempat khusus di hati pendengar Indonesia.

Prestasi Hindia tidak berhenti di sana. Pada AMI Awards 2024, ia kembali menunjukkan dominasi dengan meraih dua penghargaan bergengsi sekaligus, yakni Artis Solo Alternatif Terbaik dan Album Alternatif Terbaik.

Penghargaan ini memperkuat reputasinya sebagai salah satu musisi alternatif paling berpengaruh di generasinya, terutama lewat karya-karya yang konsisten menampilkan kedalaman lirik dan produksi yang matang.

Puncak pencapaiannya terjadi pada AMI Awards 2025, di mana Baskara Putra tampil sebagai salah satu musisi yang paling banyak membawa pulang piala.

Pada perhelatan tersebut, ia memborong lima penghargaan, sebuah pencapaian yang jarang terjadi.

Melalui proyek solonya, Hindia meraih piala untuk kategori Artis Solo Alternatif Terbaik, Video Musik Terbaik untuk Everything U Are, serta dua kategori album—Album Alternatif Terbaik dan Album Terbaik Terbaik—melalui album Doves, ’25 On Blank Canvas.

Tidak hanya itu, bersama band .Feast, ia juga memenangkan kategori Album Rock Terbaik lewat album Membangun & Menghancurkan.

Kemenangan besar di AMI 2025 tersebut membuat nama Baskara menjadi sorotan utama. Di tahun yang sama, ia juga mencatat tujuh nominasi dalam berbagai kategori, menunjukkan betapa luasnya pengaruh musikal yang ia hadirkan, baik sebagai solois maupun sebagai bagian dari kolektif musik.

Dominasi ini bukan hanya mencerminkan kualitas karya, tetapi juga kerja keras, konsistensi, dan keberanian Baskara dalam bereksperimen sekaligus bersuara tentang isu sosial melalui musik.

Dengan prestasi beruntun hingga 2025, Hindia tak hanya dianggap sebagai idola baru anak muda, tetapi juga sebagai salah satu figur penting dalam perkembangan musik alternatif Indonesia modern.

Popularitas Hindia bukan sekadar karena lagu-lagunya, tetapi juga karena integritas dan sikapnya dalam bermusik.

Ia konsisten menyuarakan keresahan publik, mempertanyakan norma sosial, dan menciptakan karya yang terasa dekat dengan keseharian pendengarnya. Itulah yang membuatnya dianggap relevan dan menjadi figur penting bagi generasi muda. (rani)

Editor : Mahendra Aditya
#.feast #lagu #musik #Hindia #baskara