Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Pengeluaran untuk Liburan dan Hiburan Meningkat, Ekonomi Berbasis Pengalaman Menguat di 2025

Redaksi Radar Kudus • Selasa, 18 November 2025 | 18:30 WIB
Ilustrasi Menonton Konser
Ilustrasi Menonton Konser

RADAR KUDUS - Tahun 2025 menandai fase penting dalam perubahan perilaku konsumsi masyarakat.

Pergerakan ekonomi global yang tidak stabil, ditambah tantangan daya beli yang naik-turun, tidak serta-merta mengurangi minat masyarakat terhadap aktivitas rekreasi.

Justru sebaliknya, kebutuhan untuk mendapatkan pengalaman baru menjadi semakin kuat.

Pergeseran ini dikenal sebagai ekonomi berbasis pengalaman—sebuah fenomena ketika masyarakat menempatkan nilai emosional dan pengalaman personal di atas konsumsi barang.

Kecenderungan ini terutama terlihat di kelompok usia muda yang berada pada rentang produktif.

Mereka memilih mengalokasikan anggaran pada aktivitas yang memberi sensasi keterlibatan langsung, kedekatan sosial, serta manfaat psikologis.

Aktivitas tersebut meliputi perjalanan, pertunjukan musik, festival tematik, teater, hingga aktivitas rekreasi yang lebih santai seperti bersantai di penginapan dengan fasilitas tertentu.

Sejak beberapa tahun sebelum 2020, tren ini mulai terbentuk, ditandai dengan meningkatnya minat pada kegiatan hiburan luar ruang hingga perjalanan tematik.

Namun, pandemi menjadi titik balik yang mempercepat perubahan pola tersebut. Setelah pembatasan mobilitas berakhir, keinginan masyarakat untuk kembali merasakan suasana baru melonjak.

Pertunjukan langsung, acara seni, dan festival budaya kembali menjadi tujuan favorit.

Masyarakat bahkan rela menempuh perjalanan yang cukup jauh demi mendapatkan pengalaman yang menurut mereka bernilai.

Selain itu, kenaikan pengeluaran rumah tangga pada kebutuhan non-makanan turut memperkuat tren ini.

Data dari berbagai riset menunjukkan peningkatan signifikan dalam anggaran untuk rekreasi, wisata, dan berbagai bentuk hiburan, khususnya di kalangan ekonomi menengah atas.

Meskipun harga sejumlah aktivitas hiburan meningkat, minat masyarakat tetap stabil bahkan bertambah, mencerminkan bahwa nilai pengalaman dianggap lebih penting daripada biaya.

Di sisi gaya hidup, muncul kebiasaan baru berupa rehat singkat atau micro-break. Ini adalah pola ketika masyarakat memilih liburan pendek namun lebih sering.

Tujuannya bukan jarak atau destinasi, melainkan kesempatan untuk keluar sejenak dari rutinitas dan menenangkan pikiran.

Micro-break menjadi cara efektif bagi banyak orang untuk menjaga kesehatan mental sekaligus mendapatkan pengalaman segar dalam waktu singkat.

Dalam ranah atraksi budaya, pertunjukan seni tematik, ruang interaktif edukatif, dan galeri modern juga mengalami peningkatan pengunjung.

Masyarakat tidak hanya mencari hiburan, tetapi juga aktivitas yang memberikan nilai tambah seperti pengetahuan, wawasan budaya, atau pengalaman kreatif yang berbeda.

Pada saat yang sama, aktivitas dokumentasi perjalanan ikut naik. Banyak individu menginginkan hasil dokumentasi yang berkualitas sebagai bagian dari pengalaman itu sendiri.

Foto yang estetik, momen keluarga, dan latar destinasi yang menarik dianggap mewakili nilai emosional dan menjadi bagian dari kenangan yang ingin disimpan dan dibagikan.

Keseluruhan fenomena ini menegaskan bahwa masyarakat kini semakin mengutamakan pengalaman yang bersifat personal dan emosional ketimbang sekadar konsumsi materi.

Ekonomi berbasis pengalaman tidak hanya bertahan, tetapi menguat, dan diperkirakan terus menjadi ciri utama pola konsumsi pada 2025 dan tahun-tahun mendatang. (rani)

Editor : Ali Mustofa
#gaya hidup #ekonomi #konser #Gen Z #musik #konser musik