RADAR KUDUS - Taylor Swift kembali mencatatkan sejarah di industri musik. Album terbarunya, The Life of a Showgirl, yang dirilis pekan lalu, resmi menjadi album dengan penjualan minggu pertama tertinggi di Inggris sepanjang 2025.
Sejak Jumat, album tersebut telah terjual sebanyak 304 ribu kopi, melampaui rekor dua album sebelumnya — The Tortured Poets Department (270 ribu kopi, 2024) dan Midnights (204 ribu kopi, 2022).
Capaian itu menjadikan Swift sebagai artis dengan pembukaan penjualan terbesar di Inggris sejak Divide milik Ed Sheeran pada 2017, yang kala itu mencatat 672 ribu unit.
Tak berhenti di situ, penyanyi berusia 35 tahun ini juga diprediksi akan menempati posisi puncak sebagai album dengan penjualan tertinggi tahun ini, menyalip Short N’ Sweet milik Sabrina Carpenter yang kini telah terjual lebih dari 444 ribu kopi sejak Januari.
Di Amerika Serikat, dominasi Swift bahkan lebih mencengangkan.
Album ini menorehkan 2,7 juta penjualan hanya dalam sehari—angka yang menjadikannya sebagai minggu penjualan terbesar dalam kariernya.
Sekaligus kedua terbesar dalam sejarah musik modern, setelah 25 karya Adele (3,37 juta kopi pada 2015).
The Life of a Showgirl juga memecahkan rekor sebagai album vinil dengan penjualan terbanyak dalam satu minggu, yakni mencapai 1,2 juta kopi.
Hal ini turut didorong oleh delapan versi kolektor yang dirilis secara terbatas. Rekor sebelumnya pun dipegang oleh Swift sendiri lewat The Tortured Poets Department (859 ribu kopi vinil).
Album ini menggambarkan perjalanan cinta antara Swift dan atlet football Amerika, Travis Kelce, yang baru-baru ini mengumumkan pertunangan mereka.
Proyek ini juga menghadirkan lagu kolaborasi bersama Sabrina Carpenter pada trek utama.
Tak hanya sukses di tangga musik, Taylor juga mendominasi layar lebar. Film konser berdurasi 89 menit bertajuk Taylor Swift: The Official Release Party Of A Showgirl berhasil meraup 46 juta dolar AS (setara Rp800 miliar) di pekan pembukaannya.
Film ini menampilkan video musik perdana “The Fate of Ophelia” serta proses kreatif di balik pembuatan albumnya.
Meskipun menuai pujian atas nuansa pop yang penuh energi, beberapa kritikus memberikan penilaian beragam.
Variety menyebutnya sebagai karya yang “penuh semangat dan menular”, sedangkan Financial Times menilai album ini “kurang berkilau”.
Menanggapi rumor soal pensiun setelah pertunangan, Swift menepisnya dalam wawancara di BBC Radio 2.
“Itu hal yang cukup menyinggung,” ujarnya sambil tertawa. “Menikah bukan berarti berhenti berkarya.”
Editor : Ali Mustofa