RADAR KUDUS – Layar lebar Indonesia kembali bergemuruh. Bukan karena film blockbuster luar negeri, tapi karena gebrakan tak terduga dari trio komika GJLS lewat debut film mereka, Ibuku Ibu-Ibu.
Hanya dalam waktu tiga hari, film ini telah berhasil menggaet 223.950 penonton di seluruh penjuru bioskop Tanah Air — angka yang mengejutkan bahkan untuk film lokal sekelasnya.
Film ini bukan hanya sekadar proyek coba-coba dari Rigen Rakelna, Hifdzi Khoir, dan Ananta Rispo.
Lewat tangan dingin sutradara Monty Tiwa, GJLS berhasil mentransformasi gaya absurd dan jujur mereka dari dunia podcast dan YouTube ke layar lebar — dan hasilnya bukan main.
Tiket Ludes, Penonton Meledak, GJLS Menang Banyak
Sejak hari pertama tayang, bioskop-bioskop di berbagai kota dilaporkan penuh. Dari Jakarta hingga Surabaya, antusiasme masyarakat terhadap film ini tak main-main.
Banyak yang penasaran bagaimana gaya kocak GJLS diterjemahkan dalam format film, dan sebagian besar keluar dari bioskop dengan perut sakit karena tertawa.
Dalam dua hari pertama saja, film ini sudah meraih 141.229 penonton. Dan pada hari ketiga, angkanya melonjak drastis menjadi 223.950.
Ini bukan sekadar angka — ini bukti bahwa film komedi absurd masih sangat diminati jika dibawakan dengan jujur dan segar.
Bukan Sekadar Ngakak: Film Ini Punya Hati
Di balik gelak tawa, Ibuku Ibu-Ibu menawarkan narasi yang hangat. Hubungan antara anak dan ibu yang dibingkai dalam cerita absurd tapi dekat dengan realitas, membuat film ini terasa relevan.
Penonton tidak hanya disuguhi lawakan khas GJLS yang nyeleneh, tapi juga diajak merenung tentang dinamika keluarga yang kadang rumit namun tetap penuh cinta.
“Ini film pertama dalam hidup saya yang bikin ketawa sambil mikir,” tulis salah satu penonton di media sosial X (sebelumnya Twitter).
Reaksi positif seperti ini terus mengalir, membentuk gelombang apresiasi dari berbagai kalangan — mulai dari fans lama hingga penonton umum yang baru mengenal GJLS.
Nobar Meriah, Fans Bertemu Idola
Untuk menyambut hari pertama penayangan, GJLS bersama detikcom menggelar acara nonton bareng di Mall Kota Kasablanka.
Sebanyak 25 pemenang beruntung menikmati kesempatan eksklusif untuk menonton bareng dengan para komika idolanya. Sorak sorai, peluk hangat, dan tawa renyah menjadi suasana yang tak terlupakan malam itu.
“Gila, ini pertama kalinya film Indonesia rame kayak gini sejak pandemi. Dan GJLS beneran gokil!” ujar seorang penonton yang hadir langsung.
Mimpi 10 Juta Penonton: Niat Serius atau Cuma Guyonan?
Saat sesi interaksi bersama fans, Rispo secara blak-blakan menyebut target gila: 10 juta penonton.
Walau terdengar ambisius, semangat itu tidak bisa diremehkan, apalagi melihat start awal film yang sudah sangat menjanjikan.
“Kami cuma pengen film ini enggak cuma lucu, tapi juga laku,” kata Rispo sambil terkekeh. Sementara Rigen menambahkan, mereka rajin mengecek aplikasi penjualan tiket demi memantau antusiasme penonton secara real-time. “Hari pertama udah rame, hari kedua makin padat. Ini gila sih,” tambahnya.
Langkah Serius GJLS di Dunia Perfilman?
Melihat sambutan luar biasa dari penonton, besar kemungkinan Ibuku Ibu-Ibu hanyalah awal dari perjalanan panjang GJLS di industri film.
Tak sedikit pengamat menyebut bahwa film ini bisa membuka jalan bagi lebih banyak komika atau kreator digital untuk menyeberang ke dunia layar lebar — asalkan mereka membawa sesuatu yang autentik, seperti yang ditawarkan GJLS.
GJLS: Antara Absurd, Autentik, dan Ampuh Bikin Ketawa
Kesuksesan film ini menunjukkan satu hal penting: penonton Indonesia rindu dengan komedi yang terasa nyata.
Bukan slapstick murahan, bukan candaan jiplakan, tapi humor yang lahir dari kejujuran, pengalaman, dan kegilaan khas trio GJLS.
Ibuku Ibu-Ibu berhasil memadukan tawa dan rasa dalam satu paket yang menghibur sekaligus menyentuh. Di tengah dominasi film horor dan drama cinta, film ini hadir sebagai oase segar yang membawa angin perubahan bagi dunia perfilman lokal.
Editor : Mahendra Aditya