RADAR KUDUS – Nama Uya Kuya kembali menjadi sorotan setelah sebuah episode podcast miliknya menuai kontroversi tajam di ruang publik.
Dalam tayangan tersebut, pria yang kini menjabat sebagai anggota DPR RI Komisi IX sekaligus dikenal sebagai presenter ini, memantik polemik gara-gara menghadirkan Akash Ellahi sebagai bintang tamu.
Dalam perbincangan yang ditayangkan secara publik itu, Akash secara blak-blakan mengumbar kisah rumah tangganya yang kandas dengan Venny Alberti, seorang influencer yang aktif di TikTok.
Cerita yang disampaikan Akash bukan hanya menyentuh ranah pribadi, tetapi juga menjurus ke wilayah sensitif, termasuk kebersihan organ intim mantan istrinya.
"Sejak awal pernikahan, dia sering mengalami keputihan. Awalnya karena makanan, tapi lama-lama karena tidak menjaga kebersihan diri.
Saya tidak pernah melihat dia menggunakan produk apapun untuk menjaga kebersihan area intim," ucap Akash dalam cuplikan yang diunggah 30 Mei 2025.
Tak berhenti di situ, Akash juga mengklaim bahwa mantan istrinya pernah diminta untuk memeriksakan kondisi organ intimnya ke dokter, bahkan sampai memperlihatkan foto bercak darah menstruasi yang menodai seprai tempat tidur.
Ia mengungkapkan bahwa mantan pasangannya itu bisa tidak mengganti pakaian dalam selama beberapa hari.
"Dia bisa tidur di seprai yang sama selama satu bulan tanpa dicuci. Setiap hari saya dokumentasikan dengan foto, hanya untuk melihat apakah ada perubahan niat dalam menjaga kebersihan," lanjut Akash.
Isi percakapan tersebut langsung menyulut amarah netizen. Banyak yang menilai bahwa isi konten tersebut sudah melampaui batas kewajaran dan tergolong vulgar.
Terlebih lagi, status Uya Kuya sebagai wakil rakyat dari Fraksi PAN turut menjadi sasaran kritik publik. Gelombang desakan agar dirinya mengundurkan diri dari jabatannya pun tak terbendung.
Situasi ini mengingatkan publik pada skandal "ikan asin" yang melibatkan Galih Ginanjar, Pablo Benua, dan Rey Utami, di mana konten penghinaan dan pembongkaran aib pribadi melalui media digital berujung proses hukum. Tak sedikit warganet yang mengaitkan kasus ini sebagai 'ikan asin jilid dua'.
Kolom komentar di kanal YouTube milik Uya Kuya pun dibanjiri kecaman. Banyak yang menganggap Uya telah menyalahgunakan platform publik untuk menyebarluaskan hal-hal yang bersifat privasi dan tidak pantas dipertontonkan, terlebih dari seorang pejabat negara.
“Kasus ini harusnya bisa diproses hukum. Kalau Galih bisa dipenjara, kenapa ini tidak? Apalagi narasumbernya WNA,” tulis salah satu komentar pedas dari warganet.
“Sebagai anggota DPR, seharusnya tidak memberikan ruang untuk konten yang mengumbar keintiman rumah tangga. Ini bukan kelasnya,” tambah pengguna lain.
“Daripada merusak citra parlemen, lebih baik mundur,” sindir netizen lainnya.
Meski badai kritik terus bergulir, hingga kini Uya Kuya belum memberikan tanggapan resmi.
Ia masih bungkam dan tidak menanggapi permintaan klarifikasi dari publik maupun media. Sebagai kader dari Partai Amanat Nasional, ketidakresponannya pun menjadi sorotan tersendiri.
Kasus ini menjadi bukti bahwa selebritas yang merambah ke dunia politik harus lebih berhati-hati dalam memanfaatkan platform digital.
Posisi sebagai pejabat publik menuntut standar etika yang lebih tinggi, dan konten sensasional yang mengorbankan privasi orang lain bisa menjadi bumerang, baik secara sosial maupun hukum.
Jika tidak ditanggapi dengan bijak, bukan tidak mungkin Uya Kuya akan menghadapi konsekuensi hukum serupa dengan kasus-kasus sebelumnya. Saat publik sudah merasa batas kesopanan dilanggar, tak ada gelar atau jabatan yang bisa menjadi tameng.