Radar Kudus - Mantan vokalis Soegi Bornean, Fanny Soegi, baru-baru ini membuat heboh dengan membongkar ketidakadilan yang melibatkan bandnya melalui platform X.
Fanny mengungkapkan bahwa meski lagu "Asmalibrasi" menghasilkan royalti hingga setengah miliar rupiah, pencipta lagu tersebut hidup dalam kondisi yang jauh dari sejahtera.
Royalti yang Tidak Berbanding Lurus
Fanny Soegi mengungkapkan betapa mirisnya keadaan pencipta lagu "Asmalibrasi," yang bahkan terpaksa meminjam uang untuk membayar sekolah anaknya.
Meskipun royalti dari lagu tersebut sangat besar, penciptanya masih harus ngontrak rumah dengan atap yang bocor di Jogja. Fanny mencurigai adanya praktik korupsi dan ketidaktransparanan dalam pembagian royalti.
Ketidakpedulian dan Serakah di Dunia Musik
Selain masalah royalti, Fanny juga menyoroti kurangnya empati dari mantan anggota bandnya.
Dia mengungkapkan bahwa saat dia berduka karena kepergian ibunya, bandnya tetap memaksanya untuk tampil, sebuah tindakan yang sangat menyakitkan bagi Fanny.
Masalah Hak Kekayaan Intelektual
Fanny juga menceritakan bagaimana dia harus menghadapi masalah hak kekayaan intelektual saat ingin keluar dari band.
Dia diharuskan membayar untuk menggunakan nama "Soegi," yang merupakan nama miliknya sendiri. Hal ini menambah luka yang dirasakannya akibat ketidakadilan di dunia musik.
Keberanian Menghadapi Ancaman
Meski menghadapi ancaman dan tekanan dari pihak-pihak berpengaruh, Fanny menegaskan bahwa dia tidak takut dan tetap berpegang pada prinsip keadilan.
Dia menyatakan bahwa keberaniannya untuk mengungkapkan kebenaran adalah bentuk perjuangan untuk keadilan dan transparansi di industri musik.
Perkembangan Terbaru Soegi Bornean
Setelah kepergian Fanny pada 1 Maret 2024, Soegi Bornean melakukan perubahan formasi.
Sadhvika Vraspati diangkat sebagai vokalis baru, dan Sunyi Ruri menggantikan Bagas Prasetyo.
Formasi terbaru menyisakan Aditya Ilyas sebagai satu-satunya anggota awal band.
Lagu "Asmalibrasi" yang viral pada 2022 masih tetap menjadi hit besar, dengan 80 juta views di YouTube dan lebih dari 205 juta pemutaran di Spotify.
Kisruh ini mengungkapkan betapa kompleksnya masalah transparansi dan keadilan di industri musik, serta betapa pentingnya memperjuangkan hak dan keadilan bagi semua pihak yang terlibat.
Fanny Soegi, dengan keberaniannya, telah membuka tabir ketidakadilan yang selama ini tersembunyi.
Editor : Abdul Rokhim