Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

REVIEW Film Animasi Inside Out 2, Benarkah Tidak Cocok Untuk Anak-anak?

Dzikrina Abdillah • Sabtu, 15 Juni 2024 | 03:30 WIB
Film Animasi Inside Out 2.
Film Animasi Inside Out 2.

RADAR KUDUS - Film aimasi Disney dan Pixar terbaru berjudul Inside Out 2 telah tayang perdana di bioskop Indonesia pada Jumat (14/6).

Film garapan sutradara Kelsey Mann ini akan menceritakan tentang anak perempuan bernama Riley (disuarakan oleh Kensington Tallman) yang telah beranjak remaja.

Riley yang kini beranjak remaja mulai merasakan adanya emosi baru dalam dirinya seperti iri, cemas, bosan, dan malu.

Perasaan tersebut memperkaya emosi dalam dirinya yang dulunya hanya ada senang, sedih, marah, jijik, dan takut.

Lima emosi yang sudah ada di benak Riley sejak kecil masih terus mengatur keadaan Riley.

Seiring berjalannya waktu, Joy, Anger, Sadness, Fear, dan Disgust mulai memiliki formula pengaturan yang lebih efektif untuk menjaga Riley.

Namun, hal tersebut ternyata tidak bisa bertahan lama.

Seperti remaja pada umumnya, Riley mengalami pubertas dan itu membuat emosinya menjadi tidak stabil.

Di saat peralihan dari masa anak-anak menjadi remaja itulah, empat emosi baru hadir dan menjadi konflik utama dalam Inside Out 2.

Emosi baru itu adalah Anxiety, Envy, Ennui, dan Embarrassment.

Inside Out 2 tentu tidak bisa lepas dari  film pertama yang mendapatkan ulasan positif.

Film pertama Inside Out meraup pendapatan lebih dari 858 juta dolar AS atau Rp 14 triliun.

Review Film Animasi Inside Out 2 

Jika dibandingkan dengan film pertama, cerita yang dihadirkan di Inside Out 2 jauh lebih kompleks.

Sebelumnya penonton hanya mengikuti lima emosi, kini menjadi sembilan emosi yang punya karakteristik berbeda.

Namun, Joy dan Anxiety yang lebih menonjol dalam film ini.

Joy memimpin grup emosi terdahulu sementara Anxiety mendominasi grup emosi baru.

Keduanya memiliki perbedaan prinsip dalam mengatur Riley dan itu menimbulkan perpecahan.

Cerita Inside Out 2 Relevan dengan Kehidupan Remaja

Cerita ini cukup relevan dengan kehidupan remaja saat ini.

Rasa cemas atau Anxiety belakangan ramai dibicarakan di kalangan anak muda.

Inside Out 2 menggambarkan bagaimana Anxiety mampu merusak kebahagiaan (Joy) dan hubungan dengan orang-orang di sekitar.

Film berdurasi 96 menit ini terasa pas dengan alur yang seru dan sentuhan komedi yang sangat menghibur.

Penggambaran Riley versi remaja sangat terlihat jelas terutama dari fisiknya.

Riley dalam Inside Out 2 memakai kawat gigi hingga mulai tumbuh jerawat.

Detail animasi karakter pendukung yang berasal dari video game dan kartun televisi yang diidolakan Rileyn, juga berhasil menarik perhatian.

Baca Juga: PPDB SMA di Kudus Mensyaratkan Dilengkapi Surat Keterangan, Orang Tua Calon Siswa Ketar-Ketir

Terlihat seperti di video game, gerakannya dibuat kaku dan gaya bicaranya juga berulang.

Sementara untuk kartun televisi, wujudnya ditampilkan dalam animasi 2D dengan dialog pasti akan membuat satu studio bioskop tertawa.

Di sisi lain, sepertinya film ini kurang cocok untuk anak-anak di bawah usia 12 tahun.

Meskipun Lembaga Sensor Film mengkategorikannya untuk semua umur.

Hal itu karena cerita Inside Out 2 tidak bisa ditangkap atau dimengerti oleh anak-anak.

Apalagi soal pencarian jati diri.

Mereka belum sampai ke tahap tersebut.

Mereka mungkin akan terhibur dengan menontonnya, tetapi pesan moral yang penting dari film ini belum tentu dapat dicerna dengan maksimal.

Orang tua diharapkan dapat mendampingi anak-anak selama menonton film ini.

Editor : Dzikrina Abdillah
#anak-anak #review #Inside Out 2 #Pixar Animation Studios #animasi #film