RADAR KUDUS - Sebuah film berjudul "Tuhan Izinkan Aku Berdosa" tengah mendapatkan banyak perhatian dari netizen akhir-akhir ini.
Pasalnya, film karya Hanung Bramantyo ini akhirnya akan mengudara di bioskop mulai 22 Mei 2024 mendatang.
Film Tuhan, Izinkan Aku Berdosa sebelumnya telah tayang terbatas dalam berbagai festival film.
Kabar ini disampaikan langsung oleh MVP Pictures selaku studio yang menggarap film tersebut.
“Setelah mengabdikan dirinya untuk kebajikan, Kiran terseret ke dalam jurang kehancuran oleh serangkaian pengkhianatan. Kekecewaan membawanya pada petualangan berbahaya yang menguji batas moralnya… Tayang 22 Mei 2024 di bioskop,” tulisnya.
Dalam pembuatannya, film Tuhan, Izinkan Aku Berdosa mengangkat berbagai isu sensitif di dalamnya.
Hanung Bramantyo mengatakan salah satu isu di dalam film ini adalah mengangkat isu pelecehan seksual yang ada di lingkungan keagamaan.
"Menurut saya, film ini nggak akan ada kalau situasi keagamaan kita nggak seperti saat ini. Pelecehan di lingkungan keagamaan, mereka yang memakai topeng agama, yang salah bukan agama tapi orang yang pengecut dan penakut," katanya saat ditemui di Jakarta Film Week.
Hanung juga mengatakan, film ini dibuat sebagai bentuk kekecewaan dan kesedihan yang dialaminya.
"Sekarang terbesit lagi seteLah kasus-kasus yang terjadi di pesantren atau kelompok pengajian, ini bukan merujuk ke agama tapi ke kelompok tertentu," tambahnya lagi.
Tuhan, Izinkan Aku Berdosa merupakan film yang mengangkat kisah novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur (2003) yang ditulis oleh Muhidin M. Dahlan.
Sinopsis film Tuhan, Izinkan Aku Berdosa
Film ini berkisah tentang perjalanan hidup seorang pelacur kelas kakap bernama Kiran (Aghniny Haque).
Sebelum ia bergelut di dunia malam, Kinan adalah seorang mahasiswa berprestasi.
Kinan juga memiliki keinginan kuat mengabdikan diri di jalan Tuhan dengan cara berdakwah dan menegakkan syariat Islam.
Dia punya komitmen yang kuat pada jalan agama yang ia anut.
Namun, keuangan keluarga Kiran kerap menghambat mimpinya.
Sejak ayahnya jatuh sakit, ibunya yang hanya seorang ibu rumah tangga harus berjibaku mencari uang.
Meski demikian, gejolak idealisme anak muda yang ada pada Kiran tak menyurutkan karakter perempuan kritis nan keras kepala tersebut.
Tak jarang Kiran jadi pusat perhatian, dari prestasi hingga selisih paham dengan mahasiswa lain di kampusnya.
Mimpi gadis muda tersebut bertemu dengan jalan terjal tatkala ia mendapat lamaran menikah dari seorang ulama kenamaan.
Awalnya, Kiran menolak mentah-mentah rencana perjodohan tersebut.
Kendati dilakukan lewat jalan ta'aruf yang diperbolehkan agamanya, Kiran dilamar untuk menjadi istri ketiga ulama tersebut.
Di sisi lain, kondisi ekonomi keluarganya membuat Kiran tak sepenuhnya bisa berdikari dalam menentukan jalan hidup yang akan ia tempuh.
Terlebih lagi, lamaran tersebut sangat bertentangan dengan ucapan sang ulama yang sempat ia kagumi tersebut.
Alih-alih tunduk, Kiran kemudian melawan. Ia menjelaskan apa yang ia pikirkan tentang perjodohan tersebut.
Akan tetapi, ulama yang hendak menikahi kiran justru marah dan menuduh Kiran telah menyebarkan fitnah.
Hidup Kiran pun berubah drastis, dia dikejar-kejar, tak bisa pulang ke rumah, dan dicap telah melecehkan ulama besar.
Bahkan orang tuanya pun percaya pada ulama tersebut.
Dalam keadaan serba tak menentu tersebut, Kiran dibantu seorang pelacur paruh baya bernama Ami (Djenar Maesa Ayu).
Diproduseri oleh Raam Punjabi, jalan cerita dalam film Tuhan, Izinkan Aku Berdosa erat dengan cerita kekerasan seksual.
Hal itu membuat film ini dapat memicu trauma ataupun rasa tidak nyaman.
Rasa tidak nyaman tersebut dikarenakan adanya kisah kekerasan seksual dengan banyak lapisan yang melatarinya.
Seperti ironi pemuka agama yang melakukan tindak kekerasan seksual terhadap para muridnya.
Oleh karenanya, sebaiknya menonton film ini dalam keadaan yang baik demi menghindari terpicunya trauma bagi penonton yang memilikinya.
Sederet bintang film ternama Indonesia ikut terlibat dalam film terbaru Hanung Bramantyo ini, seperti Aghniny Haque, Donny Damara, Djenar Maesa Ayu, dan Andri Mashadi.
Editor : Dzikrina Abdillah