IHSG Anjlok 3,49 Persen ke Level 5.098, Asing Justru Borong BBCA hingga BBRI

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Jumat, 30 Oktober 2026 | 08:16 WIB

 

Menakar Dampak Potensi Penurunan Status Pasar Saham RI oleh MSCI Menuju Standalone Market
Menakar Dampak Potensi Penurunan Status Pasar Saham RI oleh MSCI Menuju Standalone Market

RADAR KUDUS - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan tajam pada penutupan perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026. Indeks acuan pasar modal Indonesia itu merosot 184,26 poin atau 3,49 persen hingga berakhir di level 5.098,06.

Di tengah pelemahan pasar, investor asing masih mencatatkan pembelian bersih pada sejumlah saham, terutama saham perbankan besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).

Data perdagangan menunjukkan, aktivitas transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari tersebut mencapai 217,69 juta lot dengan nilai transaksi sebesar Rp10,13 triliun. Namun, tingginya aktivitas perdagangan itu berlangsung di tengah tekanan jual yang membuat IHSG berakhir jauh di zona merah.

Berdasarkan data yang dikutip dari Stockbit, investor asing membukukan penjualan bersih atau net foreign sell sebesar Rp1,08 triliun di seluruh pasar. Tekanan jual tersebut bahkan mencapai Rp1,52 triliun di pasar reguler. Sementara itu, di pasar negosiasi dan tunai, investor asing justru mencatatkan pembelian bersih sebesar Rp406,50 miliar.

Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa transaksi investor asing tidak sepenuhnya bergerak ke satu arah. Di tengah aksi pelepasan saham secara agregat, masih terdapat sejumlah emiten yang mencatatkan pembelian bersih asing dalam jumlah relatif besar.

Dari sepuluh saham dengan nilai net foreign buy terbesar pada perdagangan Kamis, BBCA menempati posisi teratas dengan pembelian bersih mencapai Rp503,49 miliar. Posisi berikutnya ditempati BBRI sebesar Rp164,50 miliar dan BMRI sebesar Rp155,86 miliar.

Daftar saham yang mencatatkan pembelian bersih asing tersebut juga mencakup emiten dari sektor pertambangan, telekomunikasi, dan alat berat. Di antaranya PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Timah Tbk (TINS), PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), serta PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

Data ini memberikan gambaran menarik mengenai pergerakan modal di pasar saham. Ketika IHSG melemah tajam, pembelian bersih asing pada saham tertentu tetap berlangsung. Meski demikian, angka tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa investor asing secara keseluruhan kembali mengakumulasi saham di Bursa Efek Indonesia.

Perbedaan antara transaksi bersih di seluruh pasar, pasar reguler, serta pasar negosiasi dan tunai perlu diperhatikan agar pergerakan dana asing tidak disalahartikan. Selain itu, nilai pembelian bersih suatu saham juga tidak secara otomatis menunjukkan bahwa harga saham tersebut naik pada hari yang sama.

Angka pembelian bersih tersebut menempatkan saham perbankan sebagai kelompok yang paling menonjol dalam daftar akumulasi asing pada perdagangan kali ini. Jika nilai transaksi BBCA, BBRI, dan BMRI dijumlahkan, total pembelian bersih ketiga saham itu mencapai Rp823,85 miliar. Nilai tersebut menunjukkan besarnya kontribusi tiga emiten perbankan terhadap daftar saham yang dibeli bersih oleh investor asing.

BBCA sendiri mencatatkan pembelian bersih lebih dari tiga kali lipat nilai yang dibukukan BBRI. Selisih antara keduanya mencapai Rp338,99 miliar. Sementara itu, nilai pembelian bersih BMRI berada di bawah BBRI dengan perbedaan sebesar Rp8,64 miliar.

Jika dibandingkan dengan total pembelian bersih pada sepuluh saham yang masuk daftar tersebut, posisi BBCA terlihat semakin dominan. Sepuluh emiten itu secara keseluruhan mencatatkan nilai pembelian bersih asing sebesar Rp1.239,68 miliar atau sekitar Rp1,24 triliun. Dengan demikian, pembelian bersih BBCA menyumbang sekitar 40,6 persen dari total nilai net foreign buy sepuluh saham tersebut.

Tiga saham perbankan besar itu secara bersama-sama menyumbang sekitar dua pertiga dari total pembelian bersih dalam daftar. Perhitungan tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas beli asing pada hari itu terkonsentrasi pada beberapa emiten, meskipun daftar saham yang dibeli mencakup sektor bisnis yang berbeda.

Kendati demikian, konsentrasi transaksi tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa investor asing sedang mengalihkan seluruh portofolionya ke saham perbankan. Data satu hari perdagangan hanya menunjukkan posisi transaksi bersih pada periode tertentu. Untuk memahami arah investasi secara lebih menyeluruh, diperlukan pembandingan dengan transaksi pada hari-hari sebelumnya serta perkembangan kepemilikan saham dalam periode yang lebih panjang.

BBCA, BBRI, dan BMRI merupakan tiga emiten perbankan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Ketiganya memiliki karakteristik bisnis, basis nasabah, serta komposisi pendapatan yang tidak sepenuhnya sama. Karena itu, pembelian bersih asing pada ketiga saham tersebut tidak serta-merta memiliki alasan investasi yang identik.

Dalam membaca pergerakan saham perbankan, investor juga perlu memperhatikan faktor fundamental perusahaan, termasuk pertumbuhan kredit, kualitas aset, biaya dana, margin bunga bersih, serta kemampuan menjaga profitabilitas. Namun, data yang tersedia dalam laporan transaksi Kamis tersebut tidak menjelaskan alasan investor asing membeli ketiga saham itu. Oleh sebab itu, faktor-faktor fundamental tersebut lebih tepat digunakan sebagai aspek evaluasi lanjutan, bukan sebagai penjelasan pasti atas keputusan transaksi asing.

Di luar sektor perbankan, ANTM mencatatkan pembelian bersih asing sebesar Rp103,27 miliar. Emiten pertambangan yang dikenal sebagai bagian dari industri mineral ini menjadi saham dengan nilai net foreign buy terbesar keempat dalam daftar.

Posisi ANTM menunjukkan bahwa pembelian bersih asing tidak hanya terkonsentrasi pada saham keuangan. Akan tetapi, angka tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa investor asing secara luas sedang meningkatkan eksposur pada sektor pertambangan. Kesimpulan seperti itu memerlukan data transaksi yang lebih lengkap, termasuk pergerakan saham pertambangan lain dan perubahan transaksi dari waktu ke waktu.

Pada sektor telekomunikasi, TLKM membukukan pembelian bersih asing sebesar Rp76,53 miliar. Sementara itu, ISAT mencatatkan nilai sebesar Rp59,13 miliar. Kedua emiten tersebut masuk dalam daftar sepuluh saham dengan pembelian bersih asing terbesar pada perdagangan Kamis.

Masuknya TLKM dan ISAT memberikan gambaran bahwa saham dari sektor telekomunikasi juga menjadi bagian dari aktivitas beli asing di tengah tekanan IHSG. Meski begitu, tidak tersedia informasi dalam data tersebut mengenai alasan transaksi maupun apakah pembelian itu berkaitan dengan prospek pendapatan, belanja modal, persaingan industri, atau pertimbangan valuasi.

Di kelompok saham pertambangan lainnya, TINS mencatatkan pembelian bersih asing sebesar Rp54,78 miliar. Nilai itu menempatkannya di atas UNTR, yang membukukan net foreign buy sebesar Rp42,17 miliar.

Sementara itu, ADRO mencatatkan pembelian bersih asing sebesar Rp40,37 miliar dan PTBA sebesar Rp39,58 miliar. Kedua emiten yang masuk dalam kelompok perusahaan terkait industri batu bara tersebut melengkapi daftar sepuluh saham dengan pembelian bersih asing terbesar pada perdagangan 29 Oktober 2026.

Apabila digabungkan, ANTM, TINS, UNTR, ADRO, dan PTBA membukukan pembelian bersih asing sebesar Rp280,17 miliar. Jumlah itu memperlihatkan besarnya kontribusi lima saham yang berkaitan dengan industri pertambangan, sumber daya alam, dan alat berat dalam daftar transaksi tersebut. Meski demikian, pengelompokan berdasarkan sektor usaha perlu mempertimbangkan karakter bisnis masing-masing emiten agar perbandingannya tetap relevan.

Secara keseluruhan, daftar sepuluh saham tersebut memuat emiten dari tiga kelompok utama, yakni perbankan, telekomunikasi, serta pertambangan dan alat berat. Komposisi ini memperlihatkan bahwa pembelian bersih asing pada hari tersebut tersebar di sejumlah bidang usaha. Namun, bobot transaksi yang besar pada tiga saham perbankan membuat kelompok tersebut menjadi bagian paling dominan dalam daftar.

Di sisi lain, tekanan IHSG yang mencapai 3,49 persen menunjukkan bahwa aktivitas beli pada sejumlah saham belum cukup untuk mengimbangi tekanan jual secara keseluruhan. Indeks saham merupakan ukuran pergerakan pasar yang dipengaruhi oleh perubahan harga saham-saham konstituennya, dengan bobot yang tidak sama. Karena itu, pergerakan indeks tidak harus sejalan dengan transaksi bersih pada satu atau beberapa saham tertentu.

Sebuah saham dapat mencatatkan pembelian bersih asing ketika nilai pembelian investor asing atas saham tersebut lebih besar daripada nilai penjualannya. Pada saat bersamaan, investor asing bisa menjual saham lain dengan nilai yang lebih besar. Situasi tersebut memungkinkan pembelian bersih pada beberapa emiten berlangsung bersamaan dengan penjualan bersih secara keseluruhan.

Perbedaan ini penting dipahami ketika membaca data foreign flow atau arus transaksi investor asing. Angka pembelian bersih pada suatu saham tidak otomatis berarti seluruh investor asing memiliki pandangan positif terhadap emiten tersebut. Data agregat juga tidak mengungkap tujuan investasi setiap pelaku pasar, jangka waktu kepemilikan, maupun strategi yang digunakan.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah perbedaan karakteristik pasar reguler, pasar tunai, dan pasar negosiasi. Ketiganya memiliki mekanisme perdagangan serta penyelesaian transaksi yang berbeda. Berdasarkan ketentuan Bursa Efek Indonesia, transaksi di pasar reguler umumnya diselesaikan pada hari bursa kedua setelah transaksi atau T+2, sedangkan transaksi di pasar tunai diselesaikan pada hari yang sama. Penyelesaian transaksi di pasar negosiasi mengikuti kesepakatan para pihak sesuai ketentuan yang berlaku.

Perbedaan mekanisme tersebut menjadi konteks penting dalam memahami data transaksi asing. Dalam laporan perdagangan yang menjadi bahan artikel ini, investor asing tercatat melakukan penjualan bersih Rp1,52 triliun di pasar reguler, tetapi membukukan pembelian bersih Rp406,50 miliar di pasar negosiasi dan tunai. Kedua angka tersebut menunjukkan arah transaksi yang berbeda pada kelompok pasar yang berbeda.

Karena itu, angka penjualan bersih Rp1,08 triliun di seluruh pasar perlu dibaca bersama rincian transaksi masing-masing segmen. Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual asing secara agregat masih lebih besar daripada pembelian bersih yang terjadi pada segmen lainnya.

Nilai transaksi saham yang mencapai Rp10,13 triliun juga perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat. Angka itu menggambarkan nilai perdagangan selama periode yang dilaporkan, bukan jumlah dana baru yang masuk ke pasar. Setiap transaksi saham melibatkan pihak pembeli dan penjual sehingga nilai transaksi tidak dapat langsung disamakan dengan arus modal bersih yang masuk ke bursa.

Demikian pula, volume sebesar 217,69 juta lot menggambarkan jumlah satuan perdagangan yang tercatat dalam laporan tersebut. Volume dan nilai transaksi merupakan dua indikator berbeda. Volume yang tinggi tidak selalu berarti harga saham menguat, sebab transaksi dapat berlangsung ketika pelaku pasar saling mengambil posisi pada harga yang berubah-ubah.

Bagi investor, informasi mengenai saham dengan pembelian bersih asing terbesar dapat menjadi salah satu bahan pemantauan. Namun, data itu sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk mengambil keputusan investasi.

Investor perlu menilai kondisi keuangan emiten, prospek bisnis, valuasi saham, likuiditas, serta risiko yang mungkin muncul dari perkembangan ekonomi dan pasar.

Pergerakan harga saham juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, termasuk ekspektasi terhadap kinerja perusahaan, perubahan suku bunga, nilai tukar, harga komoditas, dan sentimen pasar.

Tidak semua faktor tersebut dapat disimpulkan dari data transaksi satu hari. Oleh karena itu, penjelasan mengenai penyebab pelemahan IHSG pada 29 Oktober 2026 memerlukan data pasar dan informasi pendukung yang lebih lengkap daripada sekadar daftar pembelian bersih asing.

Hal yang dapat dipastikan dari data yang tersedia adalah IHSG berakhir di level 5.098,06 setelah turun 184,26 poin atau 3,49 persen. Pada hari yang sama, investor asing mencatatkan penjualan bersih Rp1,08 triliun di seluruh pasar, sementara sepuluh saham tertentu tetap membukukan pembelian bersih asing dengan total sekitar Rp1,24 triliun.

BBCA menjadi saham dengan pembelian bersih asing terbesar, disusul BBRI dan BMRI. ANTM, TLKM, ISAT, TINS, UNTR, ADRO, serta PTBA melengkapi daftar tersebut. Data itu menunjukkan adanya perbedaan arah transaksi antara pasar secara keseluruhan dan saham-saham yang menjadi sasaran pembelian bersih asing.

Meski demikian, daftar tersebut tidak dapat dijadikan bukti bahwa saham-saham terkait akan segera menguat atau bahwa tekanan terhadap IHSG akan segera berakhir. Perkembangan selanjutnya tetap perlu dipantau melalui data perdagangan terbaru, pergerakan harga, serta informasi fundamental masing-masing emiten.

Bagi pelaku pasar, pelajaran utama dari perdagangan Kamis adalah pentingnya membedakan pergerakan indeks, arus dana asing secara agregat, dan transaksi pada saham individual. Ketiganya saling berkaitan, tetapi tidak selalu menunjukkan arah yang sama.

Dengan membaca setiap indikator secara proporsional, investor dapat memperoleh gambaran pasar yang lebih utuh tanpa terburu-buru menyimpulkan bahwa pembelian bersih asing merupakan sinyal kenaikan harga dalam waktu dekat.

Editor : Mahendra Aditya
saham diborong asing net foreign buy Saham BBRI ihsg hari ini Saham BBCA