Rupiah Melemah ke Rp17.939 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah Jadi Sorotan

Ali Mustofa • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 11:16 WIB
Ilustrasi Dolar
Ilustrasi Dolar

RADAR KUDUS – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Selasa.

Rupiah turun 26 poin atau 0,15 persen ke posisi Rp17.939 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.913 per dolar AS.

Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Situasi tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia dan memperkuat tekanan terhadap mata uang domestik.

“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang memicu harga minyak mentah dunia kembali naik,” ujar Lukman kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor eksternal yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan global.

Laporan Xinhua menyebutkan, kelompok Ansarullah Yaman atau Houthi mengklaim telah meluncurkan serangan rudal balistik yang menyasar Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi.

Juru Bicara Militer Ansarullah, Yahya Sarea, juga menyampaikan bahwa kelompok tersebut melancarkan serangan menggunakan pesawat nirawak atau drone terhadap Pangkalan Udara King Khalid di Khamis Mushait, wilayah barat daya Arab Saudi.

Pihak Ansarullah mengklaim serangan itu mengenai sasaran.

Di sisi lain, laporan yang sama menyebutkan Arab Saudi telah melancarkan 119 serangan ke sejumlah wilayah yang dikuasai Ansarullah.

Wilayah yang disebut terdampak mencakup Bandara Internasional Sanaa di ibu kota Yaman serta kawasan Selat Bab al-Mandab.

Perkembangan konflik tersebut menambah ketidakpastian geopolitik dan memicu perhatian pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah turut diikuti kenaikan harga minyak mentah dunia.

Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup menguat 2,06 persen menjadi 93,74 dolar AS per barel.

Sementara itu, minyak mentah Brent mengalami kenaikan 1,84 persen ke level 106,65 dolar AS per barel.

Kenaikan harga minyak menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar karena dapat memengaruhi biaya impor energi dan kebutuhan valuta asing.

Kondisi tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap mata uang negara yang membutuhkan impor minyak, termasuk Indonesia.

Selain sentimen eksternal, pergerakan rupiah juga menghadapi tekanan dari kondisi pasar keuangan dalam negeri.

Lukman menyoroti arus modal keluar (outflow) dari pasar saham domestik yang masih berlangsung. Pada saat bersamaan, sejumlah mata uang Asia juga terpantau melemah pada awal perdagangan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak hanya berkaitan dengan perkembangan geopolitik dan kenaikan harga minyak, tetapi juga dipengaruhi pergerakan modal serta sentimen investor di kawasan.

Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, rupiah diproyeksikan bergerak pada rentang Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS.

Pelaku pasar akan mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, pergerakan harga minyak mentah, serta arus modal di pasar keuangan domestik untuk melihat arah pergerakan rupiah selanjutnya.

Perkiraan tersebut merupakan proyeksi pasar dan bukan kepastian nilai tukar yang akan terjadi.

Pergerakan rupiah tetap dapat berubah mengikuti perkembangan ekonomi global maupun kondisi pasar dalam negeri.

Editor : Ali Mustofa
biaya impor energi geopolitik Dolar AS nilai tukar rupiah perdagangan