JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual semakin dalam pada perdagangan Senin (12/10/2026). Pada sesi II, indeks merosot 2,8 persen hingga menyentuh level 5.921,7. Pelemahan pasar tersebut diikuti ratusan saham yang terkoreksi, dengan delapan saham tercatat mengalami penurunan hingga batas Auto Reject Bawah (ARB).
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip Bloomberg Technoz, sebanyak 625 saham melemah, sedangkan hanya 100 saham menguat dan 66 saham lainnya tidak bergerak.
Aktivitas perdagangan juga berlangsung ramai. Volume transaksi mencapai 51,45 miliar saham dengan nilai Rp9,41 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1,45 juta kali.
Baca Juga: IHSG Terjun 1,94 Persen, 537 Saham Melemah: Level 5.973 Jadi Penentu
Delapan saham yang masuk daftar ARB menjadi sorotan di tengah tekanan jual yang meluas. Saham PT Puri Sentul Permai Tbk (KDTN) mencatat penurunan terdalam, yakni 14,83 persen ke level Rp402 per saham.
Berikutnya, saham PT Jaya Trishindo Tbk (HELI) turun 14,74 persen menjadi Rp266 per saham. Saham PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN) dan PT Steady Safe Tbk (SAFE) masing-masing terkoreksi 14,71 persen, ke harga Rp174 dan Rp870 per saham.
Sementara itu, saham GRPH merosot 14,58 persen ke Rp82 per saham. Tiga saham lain yang turut mengalami penurunan tajam adalah LUCY, AMMS, dan GRPM.
Berikut daftar delapan saham yang mengalami penurunan hingga ARB pada perdagangan sesi II, berdasarkan data yang dikutip Bloomberg Technoz:
-
KDTN: turun 14,83 persen ke Rp402 per saham
-
HELI: turun 14,74 persen ke Rp266 per saham
-
TRIN: turun 14,71 persen ke Rp174 per saham
-
SAFE: turun 14,71 persen ke Rp870 per saham
-
GRPH: turun 14,58 persen ke Rp82 per saham
-
LUCY: turun 10 persen ke Rp153 per saham
-
AMMS: turun 10 persen ke Rp189 per saham
-
GRPM: turun 9,79 persen ke Rp129 per sahamBaca Juga: IHSG Anjlok ke 5.975, Pengamat Ungkap Pemicu dan Risiko Koreksi Lanjutan
Ketegangan Timur Tengah Bayangi Pasar Saham
Tekanan terhadap IHSG terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap risiko geopolitik di Timur Tengah. Eskalasi konflik dikhawatirkan mengganggu perekonomian global, mendorong kenaikan harga energi, dan memperbesar tekanan inflasi.
Kekhawatiran pasar juga mengarah pada kemungkinan perubahan kebijakan suku bunga acuan Amerika Serikat. Pelaku pasar mencermati peluang Federal Reserve atau The Fed kembali menaikkan suku bunga apabila tekanan inflasi semakin kuat.
Laporan Bloomberg News menyebut Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, kembali diserang kelompok Houthi pada Minggu (11/10/2026) waktu setempat. Serangan itu terjadi sehari setelah insiden yang dilaporkan menewaskan 12 orang.
Pada hari yang sama, sebuah drone juga dilaporkan menyerang kapal tanker di dekat area labuh Sohar, lepas pantai Oman, di luar Selat Hormuz, menurut UK Maritime Trade Operations.
Ketegangan bertambah setelah Iran mengancam akan menargetkan sejumlah infrastruktur digital penting milik Amerika Serikat di kawasan Asia Barat apabila perang kembali pecah. Infrastruktur yang disebut meliputi jaringan kabel, pusat data, dan pusat kecerdasan buatan (AI).
Ancaman tersebut menambah ketidakpastian geopolitik yang dapat memengaruhi sentimen investor global, terutama melalui potensi gangguan energi dan infrastruktur strategis.
Baca Juga: IHSG Anjlok 1,93 Persen, Ini 5 Saham Incaran dan Buangan Investor Asing
Risiko Kenaikan Suku Bunga The Fed Ikut Dicermati
Selain perkembangan geopolitik, pasar juga memperhatikan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15–16 September, sebagaimana dilaporkan Bloomberg News, menunjukkan sejumlah pejabat The Fed menilai kenaikan suku bunga dapat diperlukan untuk mengantisipasi risiko inflasi yang lebih tinggi.
Jika ekspektasi kenaikan suku bunga menguat, aset berisiko seperti saham berpotensi menghadapi tekanan karena investor akan menilai kembali prospek pertumbuhan ekonomi dan imbal hasil investasi.
Meski demikian, pelemahan IHSG tidak dengan sendirinya memastikan tren penurunan berkepanjangan. Pergerakan indeks selanjutnya tetap bergantung pada perkembangan sentimen global, respons kebijakan moneter, serta dinamika transaksi di pasar domestik.
Dengan 625 saham melemah pada sesi II, tekanan jual terlihat meluas di Bursa Efek Indonesia. Investor perlu mencermati perkembangan pasar dan risiko volatilitas sebelum mengambil keputusan investasi.
Editor : Mahendra Aditya